Serangan Bom Jelang Konferensi Asia-Afrika 1955

Di bulan April 1955, sebuah konferensi penting berlangsung di Bandung, Indonesia. Itulah Konferensi Asia Afrika (KAA). Pertemuan ini, yang dihadiri oleh 29 negara, telah menggagas cita-cita besar: dunia baru tanpa kolonialisme.

Efek sesudah pertemuan ini sangat dahsyat. Banyak tokoh pejuang pembebasan Asia-Afrika, termasuk Nelson Mandela, terinspirasi oleh pertemuan ini. Alhasil, hanya 10 tahun sejak pertemuan itu, ada 41 negara baru berdiri di Asia dan Afrika.

Tak mengherankan, jauh hari sebelum pertemuan ini, negara-negara kolonialis sudah kebakaran jenggot. Berbagai upaya pun dilakukan untuk membatalkan pertemuan ini. Termasuk melakukan aksi teror.

Tanggal 11 April 1995, Kashmir Princess, pesawat carteran milik India yang mengangkut delegasi Tiongkok dan sejumlah wartawan, meledak di udara dan jatuh di laut Natuna. 16 orang penumpangnya, termasuk 7 kader Partai Komunis Tiongkok (PKT), tewas. Sementara 3 orang–Anant Shridhar Karnik (teknisi), Dixit (Kapten), dan J.C. Pathak (Navigator)–berhasil selamat.

Kejadian itu mengagetkan dunia. Segera setelah kejadian, Kementerian Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok (RRT) segera mengeluarkan pernyataan resmi. “Insiden yang sangat disayangkan ini bukanlah kecelakaan pesawat biasa, melainkan pembunuhan oleh organisasi rahasia Amerika Serikat dan Chiang Kai-Shek,” demikian sebagian pernyataan Kemenlu RRT.

Tak hanya itu, Kemenlu RRT juga menuding agen rahasia AS (CIA) dan Chiang Khai-Shek berusaha mensabotase pesawat carteran Air India untuk membunuh delegasi RRT yang dipimpin oleh Perdana Menteri Zhou Enlai dan sekaligus menggagalkan Konferensi Bandung. Sementara media-media RRT, termasuk Xinhua, juga aktif berkampanye dengan isian propaganda yang sama.

Zhou Enlai sendiri luput dari serangan itu. Ia tidak berada dalam pesawat tersebut. Han Suyin dalam bukunya, Zhou Enlai: Potret Seorang Intelektual Revolusioner, menceritakan, “Dalam kesibukannya menjelang Konferensi Bandung, rupanya ia (Zhou Enlai) terkena penyakit usus buntu akut dan tinggal di rumah sakit beberapa hari lamanya.”

Karena sedang sakit, Zhou tak sempat ikut dengan rombongan yang menaiki Kashmir Princess.  Ia baru meninggalkan RRT pada tanggal 14 April 1955. Ia bertolak dari Kunming, Ibukota Provinsi Yunnan, RRT, menuju Yangon, Burma. Di sana ia sempat mengadakan pertemuan singkat dengan Perdana Menteri India Jawarhal Nehru dan Perdana Menteri Burma U Nu.

Tanggal 16 April, dengan menumpang pesawat KLM Belanda, Zhou berangkat dari Yangon ke Jakarta. Namun, karena kerusakan mesin, pesawat sempah singgah di Singapura. Di sana ia sempat bertemu dengan Malcolm MacDonald, yang kala itu menjabat Komisaris Tinggi Inggris di Malaya. Malcolm ini anak dari Ramsay MacDonald, tokoh Partai Buruh yang menjabat Perdana Menteri Inggris kala itu.

Perdana Menteri RRT, Zhou Enlai, tiba di Bandung, April 1955.
Perdana Menteri RRT, Zhou Enlai, tiba di Bandung, April 1955.

Dan akhirnya, hari itu juga, Zhou Enlai tiba di Jakarta. Saat itu Jakarta sedang musim hujan. Bung Karno, yang menyambut Zhou di Bandara Kemayoran, terpaksa membawa payung. Kedatangan Zhou Enlai disambut hangat banyak orang.

Tetapi ada cerita lain di balik kejadian itu. Pemerintah RRT mendeklasifikasi dokumen-dokumen terkait hubungan diplomatik tahun 1945-1955, termasuk kejadian pengeboman pesawat Kashmir Princess. Menurut dokumen itu, Zhou–yang menjadi target utama serangan bom itu–sangat dirahasiakan perjalanannya. Ia baru meninggalkan RRT tanggal 14 April 19555–tiga hari setelah kejadian pengeboman. Lebih lanjut dokumen itu mengungkapkan, usaha merahasiakan perjalanan Zhou dimaksudkan untuk menyelamatkan hidupnya.

Tak heran, banyak sejarahwan yang menyimpulkan bahwa Zhou, termasuk pemerintah Tiongkok, sudah mengetahui rencana serangan tersebut. Namun, pemerintah RRT tidak berusaha menghentikan rencana sabotase itu, melainkan memilih merahasiakan perjalanan Zhou.

Malahan, sebuah artikel di Chinaunsensored berjudul Secret Behind the Explosion of the Aircraft Kashmir Princess menulis, pada tanggal 3 April 1955, Partai Komunis Tiongkok (PKT) sudah mengendus rencana agen Koumintang (KMT) untuk melakukan sebuah tindakan terhadap delegasi RRT. Kemudian, pada tanggal 9 April, PKT sudah mendapat informasi bahwa agen KMT akan ‘menghabisi’ delegasi RRT dengan memasang bom di pesawat.

Steve Tsang, seorang jebolan Oxford University, yang menulis artikel berjudul “Target Zhou Enlai: The Kashmir Princess Incident of 1955” di The China Quarterly, tahun 1994, juga menyimpulkan bahwa Zhou sudah mengetahui rencana tersebut. “Bukti sekarang menunjukkan bahwa Zhou mengetahui rencana itu sebelumnya dan diam-diam mengubah rencana perjalanan, kendati dia tak menghentikan sebuah delegasi kader yang lebih rendah untuk mengambil tempatnya,” tulisnya.

Lantas, siapa yang bertanggung-jawab atas serangan itu. Steve Tsang memberi jawaban: agen Koumintang (KMT) di Taiwan menjadi biang keladi serangan itu. Sejak lama, KMT memang menjadi penentang Revolusi Tiongkok yang dipimpin oleh PKT. Setelah kemenangan Revolusi Tiongkok tahun 1945, Chiang Kai-shek dan pendukungnya menyingkir ke Taiwan dan membangun pemerintahan di sana. Kendati demikian, mereka tidak menghentikan permusuhan terhadap RRT.

Dalam penelitiannya, Tsang menemukan bukti keterlibatan agen KMT di Hongkong dalam serangan bom itu. Menurutnya, kaum nasionalis (KMT) menempatkan agen khusus di Hongkong untuk menjalankan sabotase dan pembunuhan tersebut. Di sana ada grup yang beranggotakan 90-an orang dibawah komando Mayor Jenderal  Kong Hoi-ping.

“Tim khusus di balik upaya pembunuhan Zhou Enlai ini adalah grup Lima Liaison dibawah komando Tsang Yat-nin,” kata Tsang. Namun, lanjut Tsang, grup itu langsung dibawah komando Wu Yi-chin, Biro Keamanan KMT (Nasionalis) di Taiwan.

Di bulan Maret 1955, sebulah sebelum kejadian, KMT merekrut Chow Tse-ming alias Chou Chu, seorang petugas kebersihan di Hong Kong Aircraft Engineering Co. Ia bekerja di bandara itu sejak tahun 1950. Dengan posisinya sebagai petugas di Bandara, Chou punya akses terhadap pesawat Air India.

Sebagai imbalannya, KMT memberi hadiah sebesar HK$ 600,000 (kira-kira $78,000 AS)–angka yang sangat fantastis jaman itu. Tak hanya itu, KMT juga bersedia memberi tempat perlindungan aman di Taiwan kepada Chou pasca menjalankan aksinya.

Pada saat pesawat Kashmir Princess tiba di Hongkong, dan beristirahat 80 menit untuk mengisi bahan bakar dan boarding, Chou menjalankan aksinya. Ia berhasil memasang bom di pesawat. Setelah lima jam di udara, bom yang dipasang Chou meledak.

Pemerintah RRT juga menuding CIA/AS terlibat dalam serangan bom itu. Tudingan itu tidak muluk-muluk. Sejak Tiongkok di bawah pemerintahan komunis, AS tidak tenang. AS menciptakan banyak front untuk menghalau penyebaran komunisme di Asia Tenggara. AS sendiri melihat Konferensi Bandung sebagai ‘pertemuan komunis dan pro-komunis’. CIA juga percaya bahwa RRT akan memanfaatkan konferensi itu untuk membangun pengaruhnya di dunia. Sebagai responnya, CIA mengirim agen ke konferensi, dengan menyamar sebagai wartawan, untuk melihat langsung suasana dan mendapat hasil-hasil pertemuan. Hanya sebatas itu.

Sebelas tahun kemudian, tahun 1966, Komite Senat AS yang melakukan investigasi terhadap operasi CIA mendengar kesaksian soal rencana CIA membunuh seorang ‘pemimpin Asia Timur’ di Konferensi Bandung. Tahun 1977, William Corson, seorang pensiunan intelijen Marinir AS, menyebut pemimpin Asia Timur yang dimaksud adalah Zhou Enlai.

Penelitian Steve Tsang juga menyimpulkan bahwa CIA tidak terlibat dalam kejadian tersebut. Tetapi bukan berarti CIA tidak punya keinginan membunuh Zhou Enlai. Tahun 1954, Jenderal Lucian Truscott diangkat menjadi Wakil Direktur CIA. Segera setelah pengangkatannya, Truscott mengendus adanya rencana CIA membunuh Zhou. Rencanya, selama perjamuan akhir di Bandung, seorang agen CIA akan membubuhkan racun ke dalam mangkuk nasi Zhou, yang baru akan memperlihatkan reaksi racunnya setelah 48 jam. Artinya, kendati Zhou meneguk racun itu, tetapi reaksinya baru terasa setelah ia tiba di RRT.

Namun, menurut Truscott, sebelum rencana itu dilakukan, Direktur CIA Allen Dulles memanggilnya dan memerintahkan untuk menghentikan rencana tersebut. Tidak jelas apa motif CIA untuk menghentikan rencananya tersebut.

Tetapi cerita tidak berakhir di sini. Harian partai Komunis Soviet, Pravda, mengangkat pengakuan John Discoe Smith, seorang mantan CIA yang membelot ke Soviet. Smith mengaku, selama dirinya menjadi agen, ia pernah mengirim bom untuk agen nasionalis Taiwan (KMT). Ia juga menceritakan, pada tahun 1955, Jack Curran, seorang agen CIA di Kedubes India, memintanya membawa sebuah tas berisi bom kepada Wang Feng di hotel Maidens.

Jadi, singkat cerita, keterlibatan CIA dalam aksi Chou memasang bom di bandara Hongkong masih kabur. Kendati demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa CIA punya rencana membunuh Zhou. Tetapi rencana itu dibatalkan di tengah jalan.

Rakyat Indonesia di Bandung, Jawa Barat, April 1955, menyambut para delegasi peserta KAA.
Rakyat Indonesia di Bandung, Jawa Barat, April 1955, menyambut para delegasi peserta KAA.

Zhou Enlai sendiri berhasil menghadiri KAA 1955 di Bandung dan pulang ke negerinya dengan selamat. Bahkan, dalam KAA 1955, Zhou tampil sebagai bintang. Han Suyin, dalam Zhou Enlai: Potret Seorang Intelektual Revolusioner, menyebut ‘konferensi Bandung sebagai kemenangan besar bagi pribadi Zhou Enlai dan sekaligus terobosan internasional bagi Tiongkok’.

Presiden Soekarno juga jadi daya tarik dalam pertemuan itu. Di acara pembukaan, Soekarno menyampaikan pidato berjudul “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru”. Dia tidak hanya mengutuk kolonialisme lama, tetapi juga mengingatkan bahaya kolonialisme baru: neokolonialisme. Soekarno mengingatkan, “Dan saya minta kepada Tuan-tuan, janganlah hendaknya melihat kolonialisme dalam bentuk klasiknya saja, seperti yang kita di Indonesia dan saudara-saudara kita di berbagai wilayah Asia Afrika mengenalnya. Kolonialisme mempunyai juga baju modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektual, penguasaan material, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah rakyat…. Di mana, bilamana, dan bagaimanapun ia muncul, kolonialisme adalah hal jahat yang harus dilenyapkan di muka bumi.”

RUDI HARTONO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut