Seorang Peserta Aksi Jahit Mulut Di Depan DPRD Riau Dilarikan Ke Rumah Sakit

Seorang aktivis petani, Sulatra (37 tahun), yang turut menjahit mulut untuk menentang perusahaan PT. RAPP, dilarikan ke rumah sakit Petala Bumi, Kamis, 3 November 2011. Ia tiba-tiba tumbang dan jatuh pingsang saat menggelar aksinya.

Begitu sampai di rumah sakit, Sulatra yang sudah terbaring lemah pun menolak dibuka jahitan di mulutnya. Ia memilih mati ketimbang hidup tanpa ada respon pemerintah terhadap tuntutannya.

Menurut Sutarno, Sekretaris STR Kepulauan Meranti, kondisi para peserta jahit mulut mulai melemah. “Ini sudah memasuki hari ketiga. Tetapi kawan-kawan akan tetap melanjukan aksinya hingga tuntutan direspon pemerintah,” ujarnya.

Saat ini, selain aksi jahit mulut yang digelar oleh lima orang aktivis petani, sebanyak 24 petani petani pulau padang juga menggelar aksi mogok makan. “Pokoknya, para petani pulau padang pantang mundur. Kami menuntut pemerintah pusat dan provinsi Riau agar segera merespon tuntutan kami,” ungkap Sutarno.

Sejauh ini, para petani mendapat dukungan dari dari anggota DPD RI asal Riau, Abdul Gafar Usman, yang membawa tim medis untuk membantu perlindungan kesehatan kepada para petani.

‘Saya heran dengan pemerintah dan DPRD, kok mereka cuek saja dengan tuntutan para petani. Mereka sama sekali tidak memperlihatkan rasa prihatin dengan persoalan rakyatnya,” kata Sutarno.

Ketua Komisi B DPRD Riau, Tengku Aswir, yang ditemui oleh perwakilan petani pulau padang, tidak bisa memberi jawaban yang terang terhadap persoalan para petani. “Ia hanya memberi gambaran-gambaran kosong,” kata Sutarno.

Sementara anggota DPD RI Gafar Usman hanya menjanjikan sebuah pertemuan pada tanggal 5 November 2011 mendatang. Ia akan memanggil pemerintah kabupaten Kepulauan Meranti, Pemerintah Provinsi Riau, DPRD Riau, dan pihak perusahaan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Beditulah pemerintah kita sekarang tidak memperhatikan rakyat kecil,semua hanya janji belaka.Mereka tahu bahwa banyak kebijakan yang tidak berpihak pada petani dan rakyat kecil, namun buktinya mereka diam.Mungkin karena tidak ada kontribusi bagi mereka bila hal itu ditindaklanjuti.