Inilah 7 Catatan Krimonolog Terkait Penembakan Anggota Polisi

Aksi penembakan yang menarget anggota Kepolisian kembali terjadi. Kali ini menimpa dua anggota Polsek Pondok Areng, Tangeran, yakni Aipda Kus Hendratma dan Bripka Maulana.

Keduanya ditembak orang tak dikenal saat sedang  bertugas di Jalan Graha Raya, Pondok Aren, Tangerang, dekat Masjid Bani Umar pada (16/8/2013) malam.

Menanggapi kasus tersebut, Kriminolog Universitas Indonesia Mulyana W. Kusumah memberikan tujuh tanggapan. Pertama, kasus tersebut menandai ancaman dan kekerasan terhadap petugas Polisi di wilayah Polda Metro Jaya sudah mencapai tingkat keseriusan yang tinggi.

“Ini ada  urgensi pengungkapan secara cepat harus menjadi prioritas. Bahkan, Polda Metro Jaya harus menyatakan perang terhadap kelompok pelaku kekerasan terhadap anggota Polri tersebut,” katanya.

Kedua, Pelaku penembakan terhadap anggota Polri jelas merupakan kelompok relatif terorganisasi dan mempunyai kapasitas kekerasan terencana, dan memiliki kemahiran  menggunakan senjata api.

Tak hanya itu, para pelaku juga mempunyai tingkat keberanian luar biasa, mengingat lokasi penembakan berada dekat Polsek, menjelang apel,  dan terlibat baku tembak dengan anggota Polisi yang mengejar.

“Para pelaku juga punya kemampuan mengkalkulasi risiko. Misalnya, mereka sudah menyiapkan jalan keluar dalam situasi pengejaran,” paparnya.

Ketiga, kelompok pelaku diduga bukan berasal dari luar Jabodetabek sebagaimana ditunjukkan oleh pemilihan sasaran, waktu, lokasi dan pola melarikan diri (pattern of escape).

Keempat, dengan ‘keberhasilan’ kelompok pelaku menciptakan suasana perang psikologis (psy war) yang menimbulkan ancaman atas rasa aman terhadap Polisi, baik secara individual maupun insitusional, maka harus ada kewaspadaan terhadap aksi susulan yang berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek.

Kelima, mengingat kemungkinan besar kelompok pelaku sebelumnya sudah mempunyai rekam jejak dalam melakukan kekerasan menggunakan senjata api, maka diperlukan koordinasi internal antar satuan kewilayahan  jajaran Polda Metro Jaya.

“Koordinasi tersebut untuk menganalisis dan mengevaluasi berdasarkan data tentang peristiwa-peristiwa kekerasan bersenjata api lain, misalnya perampokan, dalam rangka percepatan tindakan hukum terhadap kelompok pelaku,” kata Mulyana.

Keenam, jajaran Polda Metro Jaya perlu menggalang dukungan jajaran RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan agar berkembang partisipasi efektif masyarakat dalam mencegah serta menanggulangi setiap bentuk kekerasan kriminal terhadap anggota Polri.

Ketuju, diperlukan dukungan media massa dan media sosial untuk memelihara kepercayaan publik  terhadap Polri sebagai penegak hukum, pemelihara kamtibmas, penjamin rasa aman masyarakat yang dirusak oleh tindakan kriminal kekerasan terhadap anggota Polri.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • melkianus k demu

    maslah penembakan anggota polisi sebenarnya belum ada dasar masalah yang betul meyakinkan,alangkah lebih baik pihak kepolisian lebih jeli dalam udalam menangani kasus ini karena banyak sikap polisi yang tindakan semena – mena terhadap rakyat sehingga bisa saja itu tindakan arogan kelompok masyarakat yang tidak senang dengan sikap petugas. dan pemerintah mengangap itu teroris atau apalah namanya,,