Semangat Kebangkitan Nasional

103 tahun yang lalu, tepatnyat 20 Mei 1908, mahasiswa-mahasiswa STOVIA mendirikan sebuah perkumpulan yang kemudian dikenal dengan nama: Budi Utomo. Pendirinya adalah para mahasiswa kedokteran yang berfikiran maju, yaitu: Dr. Sutomo, Dr. Gunawan, dan Dr. Wahidin Sudiro Husodo.

Akan tetapi, sebenarnya, tiga tahun sebelum berdirinya Budi Utomo ini, yaitu 1905, kaum buruh kereta api sudah mendirikan organisasinya: SS Bond (Staatspoorwegen Bond). Lalu tiga tahun kemudian berdirilah serikat buruh kereta api yang sangat radikal, Vereniging Van Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP), di tahun yang sama dengan berdirinya Budi Utomo.

Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 1912, lahirlah tiga raksasa dalam pergerakan nasional Indonesia, yaitu Indische Party (Partai Indonesia), Sarekat Islam (SI), dan Perkumpulan Sosial-Demokratis Indonesia (ISDV).

Lenin dalam tulisan “Kebangkitan Asia” di tahun 1913 menyatakan apreasi terhadap kebangkitan gerakan rakyat di Hindia itu dengan berkata: “Telah dimulailah peristiwa yang biasa menjadi periode pra-revolusioner. Partai-partai dan serikat-serikat buruh dibentuk dengan luar biasa cepatnya. Pemerintah melarang mereka, dengan begitu hanya mengipas-ngipasi kebencian dan mempercepat pertumbuhan gerakan itu.”

Sementara Bung Hatta, mantan Wakil Presiden RI yang pertama, menganggap Budi Utomo sebagai pendahuluan timbulnya pergerakan rakyat. “Suatu kenyataan bahwa perasaan kebangsaan sudah bangun, yang pada mulanya merupakan pergerakan sosial. Jadi Budi Utomo itu mau tak mau talah memasuki bidang politik bagian sosial,” kata Hatta.

Jadi, ketika kita menengok kembali sejarah Kebangkitan Nasional, maka diketahui bahwa sejarah kebangkitan nasional bukan dimotori oleh kaum intelektual saja, tetapi juga oleh gerakan buruh. Sejarah politik Indonesia modern selalu mengidentikkan Kebangkitan Nasional hanya dengan kaum intelektual saja, sedangkan pergerakan rakyat yang lain dikesampingkan dari penulisan sejarah tersebut.

Selain itu, jika kita teliti lagi dari berbagai tulisan-tulisan, baik tulisan-tulisan Bung Karno maupun Bung Hatta, kebangkitan nasional yang bermula di Gedung STOVIA itu barulah kebangkitan awal dari pergerakan rakyat Indonesia, yang berarti ada sebuah proses lebih lanjut dan berkepanjangan.

Apakah setelah terwujudnya Indonesia merdeka (maksudnya: proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945), maka semangat kebangkitan nasional ini sudah berakhir? Jelas jawabannya: Tidak. Bung Karno dalam tulisan “Mencapai Indonesia Merdeka” mengatakan, “tetapi kemerdekaan-nasional hanyalah suatu jembatan, suatu syarat, suatu strijdmoment. Di belakang Indonesia Merdeka itu kita kaum Marhaen masih harus mendirikan kita punya gedung Keselamatan, bebas dari tiap-tiap macam kapitalisme.”

Sekarang ini, 103 tahun setelah kebangkitan nasional dan 65 pasca proklamasi kemerdekaan, praktek kolonialisme belum juga menghilang dari bumi Indonesia, malahan mengambil bentuknya yang baru atau sering disebut neo-kolonialisme.

Karena itulah, menurut kami, semangat kebangkitan nasional masih sangat relevan untuk dikobarkan kembali saat ini, terutama sekali saat perjuangan hebat melawan neoliberalisme dan imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut