Hadapi ancaman agresi militer AS, Venezuela gelar Latihan Perang Semesta

Pemerintah Venezuela menggelar latihan perang semesta selama dua hari berturut-turut, yakni tanggal 26 dan 27 Agustus 2017. Latihan perang ini merupakan respon atas ancaman agresi militer oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Latihan perang yang diberi nama “Kedaulatan Bolivarian 2017” ini melibatkan personil angkatan bersenjata, milisi Bolivarian, hingga rakyat biasa. Pemerintah mengklaim setidaknya ada 900.000 orang yang bergabung dalam latihan perang ini.

“Martabat dan kedaulatan Bolivarian akan menang di Venezuela,” kata Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, saat menyaksikan persiapan latihan perang ini di markas Komando Operasi Strategis Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), Jumat (25/8/2017).

Maduro menegaskan, latihan perang ini bertujuan untuk menguji kesiapan militer dan rakyat Venezuela dalam mempertahankan negerinya dari kesombongan imperialis.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López mengatakan, latihan perang itu untuk menunjukkan bahwa Venezuela ingin perdamaian dan dialog. Namun, kata dia, jika AS melancarkan agresi militer, militer dan rakyat Venezuela siap mempertahankan setiap jengkal tanah airnya.

“Di sini FANB (Angkatan Bersenjata Venezuela) dan rakyat akan mengorbankan segalanya untuk mempertahankan semua lembah, gunung, tanah air kami,” katanya.

Di negara bagian Cojedes, tentara dengan peralatan tempur dan pesawat tempur menggelar simulasi perang. Rakyat biasa dilatih dan dipersenjatai untuk tugas-tugas mengamankan pasukan penerjung payung.

Latihan bagi masyarakat sipil meliputi cara menggunakan senjata, bertempur jarak dekat, mobilisasi pasukan, dan penggunaan teknologi informasi. Milisi sipil dan rakyat biasa juga dilatih untuk mengamankan pasokan logistik, terutama bahan pokok, ketika perang benar-benar terjadi.

Untuk diketahui, pada Jumat (11/8/2017), Presiden Donald Trump menyatakan kemungkinan menggunakan “opsi militer” untuk mengatasi kekacauan politik di Venezuela.

“Kami punya banyak pilihan terhadap Venezuela, dan saya tidak mengesampingkan opsi militer,” kata Donald Trump, seperti dikutip Guardian, Sabtu (12/8/2017).

Sebuah jajak pendapat menyebutkan, sebanyak 86 persen rakyat Venezuela mengecam ancaman serangan itu. Banyak negara dan gerakan sosial dari berbagai belahan dunia juga mengutuk pernyataan Donald Trump tersebut.

Sementara pihak oposisi Venezuela, Meja Persatuan Demokratik (MUD), yang sejak bulan April lalu menggelar kekerasan jalanan, mendukung agresi militer dari AS tersebut.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut