Sejarah PRD Didiskusikan Oleh Tokoh-Tokoh Masyarakat

Meskipun Partai Rakyat Demokratik (PRD) punya andil besar dalam perjuangan merebut demokrasi dan menggulingkan rejim Soeharto pada tahun 1998, tetapi sosok partai berlambang bintang gerigi ini belumlah begitu populer di tengah massa rakyat.

Akhirnya, sebagai jalan memperkenalkan partai kepada massa rakyat, Komite Pimpinan Kota PRD Surabaya menggelar diskusi bertema “Mengulas Sejarah PRD”. Acara ini bertempat di sebuah tempat di Jalan Semarang, Surabaya.

Tidak seperti diskusi-diskusi biasanya, dimana diskusi-diskusi partai paling banyak dihadiri oleh aktivis mahasiswa, kali ini diskusi diikuti oleh tokoh-tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, dan kalangan rakyat jelata.

Dengan duduk melingkar sambil duduk melantai, para aktivis PRD dan warga masyarakat ini saling bertukar-fikiran mengenai sejarah PRD, capaian-capaian perjuangan PRD, dan apa yang akan diperjuangkan PRD di masa mendatang.

Sebelum diskusi dimulai, Haji Lukman Hakim, tokoh masyarakat dari Kecamatan Bubutan, memimpin pembacaan do’a bersama. Suasana menjadi hening sejenak.

Diskusi pembuka dibawakan oleh Samirin, yang menjabat Ketua KPK PRD Surabaya, didampingi sekretarisnya, Lutfi Ariansyah. Dengan nada suara pelan tapi tajam, Samirin mulai mengantar para peserta diskusi pada sejarah kemunculan PRD di awal tahun 1990-an.

“PRD berawal dari gerakan mahasiswa revolusioner di tahun 1990-an. Mereka merupakan kelompok mahasiswa yang aktif mengadvokasi rakyat ketika mendapatkan penindasan dari rejim Soeharto. Jadi, awalnya kelahirannya memang PRD sudah bersentuhan dengan perjuangan rakyat,” kata Samirin.

Samirin juga menjelaskan mengenai azas PRD yang baru, yaitu pancasila, yang katanya, merupakan hasil temuan founding father bangsa Indonesia. “Kelima sila dalam pancasila adalah kenyataan hidup yang ada dalam alam Indonesia, dipraktekkan oleh rakyat Indonesia. Dan, PRD sangat mengakui kelima sila itu,” tegasnya.

Sementara kedepan ini, tambah Samirin, PRD akan memperjuangkan Indonesia bersih dari imperialisme dan neo-kolonialisme, dan menciptakan dasar untuk membangun suatu masyarakat adil dan makmur, yang akan menghapuskan penindasan manusia atas manusia serta penindasan bangsa atas bangsa.

Sesudah Samirin menjelaskan panjang lebar mengenai apa itu PRD, peserta diskusi dengan antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Seperti Ketua RT IX, pak Sugeng, yang mempertanyakan siapa figur paling menonjol dalam PRD, sebab menurut pendapatnya, jika partai tidak mempunya figur yang menonjol dan dikenal massa, maka partai akan sulit berkembang dan dikenal massa rakyat.

Menjawab pertanyaan ini, Samirin menegaskan bahwa PRD merupakan partai kolektif yang dijalankan oleh seluruh kader dan anggotanya. “Kalaupun ada figur yang menonjol dalam partai, mereka hanya katalisator untuk kemajuan partai,” kata Samirin.

Karenanya, Samirin mengajak seluruh kader, anggota, dan simpatisan untuk membesarkan partai melalui kerja konkret di tengah-tengah massa, berperilaku baik dan sopan di tengah rakyat, dan mencintai rakyat.

Ada juga peserta yang mempertanyakan mengenai tuduhan komunisme kepada PRD. Meski terbilang pertanyaan yang cukup sulit, tetapi dengan mudah dan cepat dijawab oleh Samirin.

“Dalam sejarah Indonesia pasca orde baru, mana ada gerakan oposisi yang tidak dituding komunis. Tetapi, pada intinya, PRD menganut pancasila dan ajaran-ajaran Bung Karno,” jawabnya.

Seorang warga masyarakat lainnya tiba-tiba mengacungkan tangan dan berkata: “Saya siap menjadi anggota PRD, karena hanya PRD-lah partai satu-satunya yang berani menolak pembangunan jalan tol di tengah kota Surabaya.” Kontan saja, pernyataan itu langsung mendapat tepuk tangan bergemuruh dari peserta.

Setelah berlangsung cukup lama, diskusi akhirnya ditutup dengan pembacaan doa dan ucapan terima kasih.

Esok harinya, Minggu (16/1), para aktivis PRD dan warga Semampir bahu-membahu bergotong-royong membangun tanggul guna mencegah banjir. “Jika PRD hendak diterima oleh rakyat, maka partai harus bekerja di tengah-tengah massa tanpa pamrih,” kata Samirin.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut