Belasan Pemuda Menjadi Siswa Pertama Akademi Soekarno

Senin (17/01/11) sore kemarin di Kantor KPW NTT, Jl. Flamboyan No. 12, duabelas orang pemuda tampak sungguh-sungguh menyimak pemaparan materi “Menuju Indonesia Merdeka.” Para aktivis sejumlah organisasi mahasiswa di Kota Kupang itu duduk bersila di lantai beralaskan karpet, membentuk bidang letter U, dan dihadapan mereka, Goris Dala, Deputy Politik KPW PRD NTT, menjadi pemateri dan fasilitator diskusi.

Begitulah suasana hari pertama proses belajar di Akademi Soekarno. Menurut Rio Ello, sekretaris KPW PRD NTT, Akademi Soekarno sebenarnya merupakan pengembangan bentuk pelaksanaan pendidikan anggota PRD.

“Kami mencoba mencari bentuk pelaksanaan pendidikan yang pas dengan sifat partai yang sekarang menjadi partai terbuka. Ada banyak orang dari berbagai latar belakang kini bergabung dalam Partai. Mereka adalah anggota dengan banyak kesibukan berbeda. Karena itu, kami perlu menemukan bentuk pelaksanaan yang sesuai. Bentuk pelaksanaan pendidikan seperti di masa partai kader yang bersifat tertutup, kurang pas untuk kondisi saat ini,” katanya.

Menurut Rio, Dulunya pendidikan dilaksanakan dalam format intensif yang menuntut peserta dikarantina selama beberapa hari, sedangkan sekarang pelaksanaan pendidikan dilembagakan dalam Akademi Soekarno. Di Akademi Soekarno, setiap hari, pukul 16.00-20.00 ada kegiatan belajar. Setiap pokok bahasan, pemateri dan pemandu diskusi punya jadwal tetap. Setiap Senin, misalnya, adalah jadwal bagi materi “Menuju Indonesia Merdeka”, dan Goris Dala sebagai pemandunya.

Dengan bentuk pelaksanaan seperti itu, para anggota dan calon anggota PRD tinggal menyesuaikan waktunya dengan jadwal tetap kelas-kelas yang diselenggarakan. Jika hadir tiap hari, anggota bisa menyelesaikan pendidikan dasarnya selama dua minggu. Soal berapa lama anggota menyelesaikan pendidikan dasarnya bergantung mereka. Misalnya, Jika Senin ini mereka tak sempat, misalnya, maka mereka dapat mengikuti kelas yang sama pada dua minggu berikutnya.

James Faot, ketua KPW PRD NTT mengatakan, ke depan Akademi Soekarno tidak sekedar pelembagaan pendidikan dasar bagi anggota PRD, tetapi juga berperan sebagai wadah untuk menyebarluaskan ideologi kerakyatan di kalangan kaum muda NTT. Siapapun bisa mengikuti pendidikan di Akademi Soekarno. Nama Soekarno dipilih karena PRD memandang ajaran-ajaran Soekarno merupakan seni mempraktikkan Marxisme di Indonesia.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • sary mia poespieta

    itu sangt Bagus dan perlu di pertahankan karna di zaman sprti skrang sush sekli membuat pemuda untuk berpkiran sprti ajran marx itu sndri.dan ini perlu dtingkatkan agr pemuda tau bgaimna keadaan bngsa nya,jng hya mw di bohongi sja olh SBY bsrta antek2 nya.skrng ideologi sngt dibutuhkan dlm mncpai kemandirian suatu bngsa.