SEA Games Ke-26: Berjaya atau Makin Terpuruk?

Tidak hanya di ekonomi dan politik negeri ini terpuruk, tapi juga di dunia olahraga. Hampir tidak ada prestasi yang membanggakan selama beberapa tahun belakangan ini. Cabang olahraga yang populer di rakyat, seperti Sepakbola dan Bulutangkis, semakin terpuruk prestasinya. Sepakbola tak lolos kualifikasi piala Asia 2011 di Qatar, begitu juga Bulutangkis, tak satupun piala dapat diboyong dikejuaran dunia di Prancis beberapa waktu lalu.

Pada tahun 2011 nanti, Indonesia akan menjadi penyelenggaraan Southeast Asian Games atau biasa disingkat SEA Games yang rencananya akan di selenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan. Pesta olah raga 2 (dua) tahunan negara-negara di Asia Tenggara ini kurang lebih akan mempertandingakan 44 cabang olah raga. Ajang ini akan di ikuti 11 negara, yaitu: Thailand, Malaysia, Filipina, Indonesia, Singapura, Myanmar, Vietnam, Brunai Laos, Kamboja dan Timor Leste.

Dalam sejarah keterlibatan Indoneisa dalam SEA Games, bisa dikatakan “berjaya”. Sejak tahun 1977 sampai dengan 1997, Indonesia selalu menjadi juara umum. Hanya di tahun 1985 dan 1995 gelar juara itu direbut oleh Thailand, itupun karena kedua Negara itu menjadi tuan rumah. Akan tetapi, pasca reformasi 1999, keperkasaan Indonesia meluntur: juara umum menjadi milik Thailand (1999, 2007, 2009), Malaysia (2001), Vietnam (2003) dan Filipina (2005).

Dalam sebuah pidatonya (20/7/2010), presiden SBY meminta semua jajarannya ikut mensukseskan SEA Games 2011 di Indonesia. Kesuksesan itu tidak hanya dilihat dari prestasi saja, namun dilihat dari keberhasilan sebagai penyelenggara. Menurut SBY, penyelenggaraan SEA Games penting dalam membangun citra bangsa. “Kita harus berhasil di dalam menyelenggarakan SEA Games tahun depan,” demikian disampaikan Presiden yang banyak dikritik karena terlalu lembek ini. Kriteria keberhasilan diukur dari sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi Indonesia. Hal itu, kata SBY, dapat mengangkat citra bangsa. “Makin baik citra kita, maka kita memiliki peluang lebih besar dalam hubungan antarbangsa sekarang ini, bukan hanya dari aspek politik, budaya, tapi juga ekonomi dan usaha. Itu hukum dari globalisasi,” tegasnya.

Untuk mendukung pidato tersebut, maka pemerintah siap menggelotorkan anggaran sebesar Rp3 T. Anggaran tersebut dipergunakan untuk menyiapkan atlet andalan, baik di Jakarta maupun di luar Jakarta, serta mempersiapkan sarana dan prasarana berstandar internasional untuk perhelatan 2 tahun sekali ini. Sebuah nilai yang cukup fantastis ditengah keterpurukan ekonomi bangsa ini. Mungkin pemerintah berhitung, bahwa uang tersebut dapat kembali dari keuntungan hak-hak siar, sponsor, iklan tiket pertandingan dll, tetapi itu akan menjadi “mimpi di siang boling” jikalau korupsi masih menggurita di negeri ini.

Namun, ambisi besar pemerintah untuk menjadi sang juara tidak berjalan seiring dengan proses pembangunan dan pengembangan olahraga di dalam negeri. Kompetisi yang regular dan berkualitas seharusnya dijadikan tolak ukur keberhasilan semua cabang olahraga. Begitu juga reformasi dan strukturisasi organisasi di induk cabang-cabang olahraga tersebut,  mestinya segera dilakukan, seperti PSSI, PBSI dll. Sangatlah berat untuk dapat sebuah prestasi yang gemilang tanpa ada upaya yang sistematis dari negara untuk memajukan olahraga di negeri ini.

Menjadi tuan rumah memang membuka “kesempatan” untuk menjadi juara, tetapi itu bukan jaminan yang menentukan. Sebaliknya, jika proyek sea-games ini terlalu menyedot banyak anggaran, di tengah berbagai kesulitan ekonomi di dalam negeri, bukankah itu sama saja dengan bersiap-siap menunggu kebangkrutan?

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah SEA Games XXVI ini akan mengangkat kembali kejayaan Indonesia sekaligus memberikan kebanggaan nasional, ataukah akan semakin membuat bangsa ini semakin terpuruk?

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Roekmono

    Setuju Berjaya atau makin terpuruk,mudah2an berjaya