Redenominasi dan Pencitraan

Wacana redenominasi yang belakangan diangkat oleh media mengundang reaksi bercampur dari publik maupun pakar ekonomi. Darmin Nasution, Gubernur BI yang baru dilantik hari Minggu lalu, berupaya memastikan bahwa rencana memotong beberapa angka nol rupiah tidak sama dengan pemotongan uang atau sanering yang sering dijadikan contoh kebangkrutan ekonomi Indonesia menjelang kejatuhan Sukarno. Ia menekankan bahwa redenominasi hanyalah sekedar untuk menyederhanakan satuan harga dan tak akan menurunkan nilai uang. Turki digunakan sebagai contoh negeri yang berhasil menerapkan kebijakan moneter ini pada 2005 sebagai upayanya untuk masuk Uni Eropa.

Alasan yang digunakan oleh Bank Sentral Turki pada waktu itu pun sama persis dengan rasionalisasi BI, yakni untuk mempermudah penghitungan dan menaikan kredibilitas mata uangnya. Persoalan kredibilitas inilah yang seharusnya dijadikan keprihatinan kita bersama. Ini tidak menyangkut perikehidupan rakyat yang sesungguhnya, melainkan sekedar pencitraan yang ditujukan kepada pasar internasional. Apalagi mengingat bahwa redenominasi yang dilakukan Turki disertai dengan syarat kebijakan kontrol defisit. Tentunya masih segar di ingatan kita bahwa penekanan defisit anggaran telah menjadi slogan favorit pemerintah dalam mencabuti subsidi sosial terhadap barang kebutuhan rakyat.

Logika yang biasa dikemukakan adalah: kredibilitas ekonomi di mata pasar internasional akan memudahkan mengalirnya investasi asing, pinjaman, yang dapat menjadi modal untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Persoalannya adalah arus modal seperti ini tidak berkontribusi pada peningkatan kapasitas produktif nasional, namun mengalir ke sektor-sektor ekstraktif maupun finansial yang banyak dikuasai oleh korporasi asing. Maka sesungguhnya, angka pertumbuhan ekonomi yang diumumkan oleh pemerintah lebih mewakili keuntungan modal asing, daripada kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Adalah modal asing pula yang seringkali bertanggung jawab terhadap kebangkrutan suatu negeri ketika mereka dengan semena-mena hengkang, seperti yang baru-baru ini terjadi dalam krisis ekonomi Yunani.

Pembiayaan ekonomi melalui hutang juga menyimpan kontradiksi yang pelik. Di satu sisi ia berpotensi menyebabkan inflasi dalam arti menurunnya nilai uang akibat tingginya jumlah uang di pasaran dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi. Sementara di sisi lain upaya pemerintah untuk mematok tingkat inflasi (inflation targetting) dilakukan dengan pemotongan subsidi yang memukul daya beli serta peningkatan suku bunga yang memukul sektor riil. Padahal justru sektor riil inilah yang menciptakan nilai, membuka lapangan kerja dan meningkatkan daya beli, sehingga mampu menawarkan jalan keluar terhadap jerat ekonomi di atas.

Bila redenominasi akan dijalankan oleh rejim ini, maka rakyat akan semakin terjerat ke dalam komitmen kontrol defisit yang akan semakin memiskinkan mereka. Ini belum termasuk resiko yang menyertai pelaksanaan redenominasi, seperti biaya implementasi maupun kemungkinan pengambil-alihan uang rakyat di saat menukarkan uang yang lama. Dalam kasus-kasus pelik penerapan redenominasi, kebijakan ini sekaligus difungsikan untuk menyita sebagian uang yang beredar di masyarakat.

Secara politik, kebijakan ini cukup beresiko dan tidak populer walaupun sejauh ini resiko itu baru ditanggung oleh BI, dan belum meluas ke rejim neoliberal SBY. Tidaklah mengherankan bila wacana ini diluncurkan pada masa awal setelah kemenangan pemilu.

Masih banyak persoalan ekonomi lebih penting yang harus ditangani pemerintah, seperti mengendalikan kenaikan harga-harga barang yang terus menerus dan menciptakan lapangan kerja yang akan meningkatkan daya beli rakyat. Tanpa memiliki landasan ekonomi yang mantap seperti kedaulatan pangan dan industri yang berkembang, maka nasib bangsa ini akan terus terombang-ambing oleh apa maunya pasar internasional. Bangsa ini membutuhkan pemerintah yang membelanjakan uangnya untuk kesejahteraan rakyat, bukannya membangun citra internasional dengan mempertaruhkan nasib rakyatnya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut