SBY Tidak Berkomitmen Memberantas Korupsi

Foto SBY

Kemarin, 10 Januari 2013, pengadilan tindak pidana korupsi Jakarta menjatuhkan vonis berupa hukuman 4,5 tahun penjara dan denda Rp 259 juta terhadap tersangka kasus korupsi Kemenpora dan Kemendiknas, Angelina Sondakh.

Putusan pengadilan Tipikor menuai kecaman. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menganggap vonis itu terlalu ringan dan tandus dari rasa keadilan.  Sedangkan Indonesia Corruption Watch (ICW) menganggap keputusan itu tidak masuk akal dan melukai rasa keadilan rakyat. Di jejaring sosial, khususnya Facebook dan Twitter, kekecewaan rakyat diluapkan dengan caci-maki.

Menanggapi putusan itu, Presiden SBY meminta semua pihak menghormati keputusan hakim tersebut. “Beliau (Presiden) menyerahkan sepenuhnya pada penegak hukum. Proses pembuktian dan vonis sudah dilakukan. Jadi harus dihormati dan dilaksanakan,” kata Jubir Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, Jumat (11/1).

Pernyataan SBY itu sangat mengecewakan. Maklum, SBY sering gembar-gembor soal pemberantasan korupsi. Artinya, kalau SBY punya komitmen serius memberantas korupsi, maka komentarnya mestinya mengarah pada pemberian efek jerah kepada koruptor.

Tetapi bukan kali itu pernyataan SBY kontradiktif dengan misinya memerangi korupsi. Pada 10 Desember 2012 lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia, SBY juga melontarkan pernyataan kontroversial. Dia bilang, “Negara wajib menyelamatkan mereka-mereka yang tidak punya niat melakukan korupsi tetapi bisa salah dalam mengemban tugasnya.”

SBY memang punya persoalan dalam menyatukan antara ucapan dan tindakan. Banyak ucapannya, termasuk janji-janji politiknya, tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan praktek.

Karena itu, SBY mestinya banyak belajar pada pemerintah China. Pada bulan November 2012 lalu, di hadapan 2000-an peserta kongres Partai Komunis China, Presiden China Hu Jintao menekankan arti penting keseriusan pemerintah, termasuk Partai Komunis, dalam memerangi korupsi.

“Pemberantasan korupsi dan mempromosikan integritas politik merupakan isu utama. Jika kita gagal menanganinya, ini bisa berakibat fatal kepada partai, bahkan bisa menyebabkan keruntuhan partai dan keruntuhan negara,” kata Hu.

Presiden Hu juga menuntut aparatur pemerintah untuk memperketat kedisiplinan diri dan memperkuat pendidikan serta pengawasan terhadap keluarga dan bawahan masing-masing.

Partai berkuasa di China, yakni Partai Komunis China (PKC), juga tidak main-main dalam memerangi korupsi. PKC punya Komisi Khusus Untuk Inspeksi Kedisiplinan. Komisi ini diharapkan akan “memperkebal” organisasi partainya dari rongrongan korupsi. Tak hanya itu, PKC juga menempatkan korupsi sebagai penyakit yang bisa menggerogoti ideologi.

Tahun 2012 lalu, Ketua Partai di Provinsi Chongqing, Bo Xilai, dipecat dari Partai Komunis karena dituduh terlibat dalam skandal korupsi. Istri Bo Xilai, Gu Kailai, juga terancam hukuman mati karena telah membunuh seorang warga negara Inggris, Neil Heywood.

Tidak hanya itu, di bulan Desember 2012, Wakil Sekretaris Partai di Provinsi Sichuan, Li Chuncheng, juga dicopot dari jabatannya karena diduga terlibat dalam penyuapan besar-besaran dalam proyek konstruksi di daerahnya.

Kemudian, pada Juli 2011 lalu, dua bekas Walikota di China,   Xu Maiyong dan Jiang Renjie, dieksekusi mati setelah terbukti terlibat korupsi. Lalu, pada 2010 lalu, Wen Qiang, bekas Wakil Kepala Polisi di Provinsi Chongqing, juga dihukum mati karena terbukti menerima suap sebesar 16 juta yuan atau sekitar Rp 21 miliar.

Korupsi memang masalah besar di China. Namun, di bandingkan dengan Indonesia, China jauh lebih baik. Pada tahun 2012 lalu, lembaga anti-korupsi Transparansi Internasional (TI) menempatkan indeks korupsi China di urutan ke-80 dari 176 negara. Sedangkan Indonesia, pada tahun yang sama, berada di peringkat 118.

China memang masih tertatih-tatih memerangi korupsi. Namun, dengan komitmen kuat pemerintahnya dalam memerangi korupsi, juga di kalangan partai Komunis, China masih punya harapan.

Ini yang berbeda dengan pemerintahan SBY di Indonesia. SBY begitu gembar-gembor memerangi korupsi, tetapi di belakang layar sibuk melindungi anggota partai dan pejabat pemerintahannya yang terlibat kasus korupsi. Sampai sekarang skandal Bank Century, yang juga melibatkan sejumlah pejabat istana, tidak pernah terkuak.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut