Satu Jam Bersama John Tobing: Neolib Brengsek!

Dengan perlengkapan sederhana: sebuah gitar, microphone, dan sound-system, dia mulai memetik gitarnya pelan. Ia sempat menyapa sekilas penonton, lalu mulai memperkenalkan diri. Dia adalah John Tobing, pencipta lagu “ Himne Darah Juang” yang termasyhur itu.

Malam itu John Tobing tampil khusus dalam acara bertajuk “Satu Jam Bersama John Tobing- Neolib Brengsek..!” Acara ini dilaksanakan oleh Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, sekaligus untuk memperingati Hari Musik Nasional.

Ketua umum Jaker, Tejo Priyono, menjelaskan bahwa tujuan acara ini adalah mendorong lahirnya karya-karya yang bisa menginspirasi perjuangan, khususnya perjuangan di bawah sistim neoliberal. Acara pun di buka dengan menyanyikan lagu berjudul “Di Timur Matahari”, karya WR Supratman.

John Tobing dilahirkan di Binjai, Sumatera Utara, tanggal 1 desember 1965. Dia mengaku mulai mencipta lagu pada tahun 1977, saat di Tanjung Karang, Bandar Lampung. Sedikitnya 160-an lagu sudah diciptakan oleh John Tobing.

John Tobing langsung membuka konsernya dengan lagu-lagu lamanya. Lagu pertama adalah “Bertobatlah”, dibuat tahun 1977. Kemudian dilanjutkan dengan lagu “Hanya Kau”, dibuat tahun 1977, sebuah lagu yang diperuntukkan kepada perempuan pujaan hatinya.

Beberapa saat kemudian, ia mulai beranjak menyanyikan lagu-lagu yang diciptakaan saat memasuki dunia aktivis. “lagu-lagu ini saya ciptakan semasa memasuki dunia pergerakan. Ada juga syairnya yang dibuat oleh kawan-kawan saya, kemudian saya yang membuat lagunya,” katanya.

Salah satu lagu yang dinyanyikannya adalah “Api Kesaksian”. Lagu ini diciptakan di Yogyakarta, tahun 1990, di tengah kebangkitan gerakan mahasiswa. Dia juga menyanyikan lagu “Himne Filsafat”, sebuah lagu yang diperuntukkan untuk menyemangati kawan-kawannya di fakultas Filsafat UGM.

Di sela-sela pementasannya, John juga menceritakan latar-belakang dan konteks situasi yang melahirkan karya-karyanya. “Ada lagu yang saya ciptakan di tengah-tengah mengorganisir rakyat bersama kawan-kawan. Ada juga lagu yang saya buat saat menjalani KKN,” katanya.

Beberapa lagunya yang tercipta di tengah mengorganisir, antara lain: Si Kutil, Kendalisodo, dan lain-lain. Selain lagu “Darah Juang”, John sebetulnya punya beberapa lagu lain yang sangat menggugah perjuangan, diantaranya: Satu Kata, Fajar Merah Esok Milikmu (syairnya diciptakan oleh Weby Warouw), dan Doa.

Lagu satu kata diciptakaan saat mahasiswa ITB ditangkap mendemo Menteri Dalam Negeri saat itu, Rudini. “Selain dipenjara, para mahasiswa itu juga di-DO dari kampus ITB,” kenang John Tobing. Mereka yang ditangkap dan dipenjara saat itu adalah Rahman, Enin, Amarsyah, Ucok (alm. Arnold Purba), Denci dan Bambang Sugianto.

Sementara lagu Doa, yang turut dinyanyikan tadi malam, sengaja diciptakan untuk mengenai peristiwa Santa Cruz, yaitu aksi penembakan membabi-buta oleh tentara Indonesia terhadap aktivis Timor Leste di pemakaman Santa Cruz. “Salah seorang teman saya, Kamal namanya, dia dari Malaysia, ditembak tentara,” katanya.

Dan, tibalah John menyanyikan lagunya yang sangat terkenal, Darah Juang. Dia menghela nafas sesaat, lalu mulai memetik gitarnya. Lagu “Darah Juang” diciptakan menjelang kongres I Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY). Saat membuat lagu Darah Juang, John dibantu oleh dua orang kawannya: Dadang Juliantara dan Budiman Sudjatmiko. “ Budiman ikut merevisi sebuah kalimat dalam syair lagu itu,” katanya.

Di penghujung penampilannya malam itu, John Tobing menyanyikan lagu yang baru saja dibuatnya Februari ini: “Neolib Brengsek..! Lagu ini merupakan luapan kemarahannya atas keserakahan dan kejahatan neoliberalisme atas rakyat Indonesia.

Terhadap lagu-lagu John, penyair terbaik di Harian Ra’jat, Toga Tambunan, menyatakan kekagumannya. “Lagu-lagu John sangat bagus, inspiratif dan berguna bagi perjuangan rakyat. Ini harus diperkenalkan kepada massa luas,” katanya.

Pendapat serupa disampaikan perupa dari Gerbong, Gebar Sasmita. “Lagu-lagu John sangat enak di telinga saya. Ini lagu yang sangat revolusioner. Saya fikir harus dibuatkan kasetnya, supaya bisa dinikmati rakyat banyak.”

[youtube]EbT0ESxt9_4[/youtube]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Saya sangat setuju kalau Lagu2 karangan Jhon Tobing ini di publisasikan kepada khalayak umum…paling tidak dapat mengoreksi kebobrokan yang terjadi saat ini.

  • lagu-lagu tersebut harus dipublikasikan kepada kaum muda kaum revolusioner untuk membakar semangat kita untuk berjuang melakukan perubahan atas negri tercinta ini..,

  • Anggi Ritonga

    Pertama sekali saya dengar lagu darah juang api semangat perjuangan langsung membara.
    Tetapi ketika saya search di Internet saya langsung penasaran dengan bg John Tobing. Saya langsung kagum melihat perjuangan nya lewat lagu yang membakar semangat juang kaum muda.
    Lagu – lagu dari bg John Tobing harus di publikasikan agar api yang padam dapat marak kembali.