Sastrawan Putu Oka Sukanta Menerima Hellman/Hammet Award

Sastrawan dan mantan tahanan politik orde baru, Putu Oka Sukanta, menerima Hellman/Hammet Award 2012 sebagai penghargaan atas komitmennya dalam hal kebebasan berekspresi dan keteguhan menghadapi persekusi. Penghargaan yang sama diberikan juga kepada Dominikus Sorabut, aktivis Papua yang membuat film dokumenter tentang isu pelanggaran HAM dan eksploitasi sumber daya alam Papua.

Penyerahan penghargaan ini disampaikan melalui direktur Human Right Watch, Andreas Harsono, di Gedung Goethe Institute Jakarta, Selasa (9/1). Dalam acara tersebut, Andreas Harsono menerangkan bahwa penghargaan Hellman/Hammet telah diadakan sejak tahun 1989, dan diberikan kepada para penulis yang mendedikasikan diri untuk memperjuangkan pengungkapan kebenaran dan keadilan di berbagai negara. Penulis Indonesia yang pernah mendapatkan penghargaan ini sebelumnya, antara lain, WS Rendra, penyair serta penulis drama, dan Ahmad Taufik, jurnalis kritis yang pernah dipenjara orba.

Putu Oka Sukanta pada awalnya merupakan jurnalis dan sastrawan, yang giat dalam organisasi kebudayaan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ia dipenjara oleh rejim orde baru selama sepuluh tahun mulai 1966 sampai 1976 tanpa melalui proses pengadilan. Setelah lepas dari penjara, mulai dekade 1980-an, Putu Oka kembali menulis berbagai karya, seperti puisi, novel, dan esai, untuk mengungkap kejahatan terhadap kemanusiaan tahun 1965-1966. Dalam usia 73 tahun sekarang ini Putu Oka masih aktif menulis.

Dalam sambutan singkatnya, Putu Oka mengatakan bahwa penghargaan tersebut bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk semua pejuang kemanusiaan. “Saya hanyalah simbol kecil dalam perjuangan besar”, kata Putu. Sementara Dominikus Sorabut tidak dapat hadir karena sedang berada dalam tahanan atas tuduhan makar.

Penghargaan Hellman/Hammet mengambil nama  sepasang penulis dan sekaligus aktivis Partai Komunis Amerika Serikat, Lillian Hellman dan Samuel Dashiel Hammet. Keduanya mengalami persekusi di bawah pemerintahan Amerika Serikat saat kampanye anti-komunis gencar-gencarnya terjadi di negeri tersebut pada dekade 1950-an. Hammet kemudian ditahan dengan tuduhan yang dibuat-buat tentang pelanggaran pajak. Sementara Hellman mengalami berbagai kesulitan dan diskriminasi akibat pandangan politiknya. Atas pengalaman tersebut, mereka mewasiatkan agar kekayaan yang mereka kumpulkan semasa hidup digunakan untuk mendukung perjuangan para penulis yang mengalami penindasan.

Dominggus

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut