San Diego Hills Dan Ironi Kebangsaan Kita

Anda tahu dimana letak San Diego Hills? Sebagian orang akan mengira tempat itu berada di luar negeri. Tetapi ternyata itu nama sebuah pemakaman super-mewah di Indonesia. Pemakaman supermewah itu terletak di Karawang, Jawa Barat.

Dua pejabat negara yang meninggal baru-baru ini, Wamen ESDM Widjajono Partowidagdo dan Menkes Endang Rahayu, dimakamkan di sebuah tempat khusus di pemakaman elit ini. Tempat pemakaman ini juga menjadi “rumah masa depan” banyak selebritis, tokoh terkenal, dan pengusaha.

Informasi yang beredar, harga per makam di San Diego Hills berkisar Rp 40-an juta hingga Rp1,5 milyar. Pemakaman mewah ini merupakan bisnis yang dikelola oleh pemodal swasta, yakni PT Lippo Karawaci Tbk. Bayangkan, kuburan saja sudah dibisniskan!

Ada fenomena yang sangat ironis di sini: nafsu orang-orang kaya Indonesia untuk bermewah-mewahan ternyata tidak hanya di dunia saja, tetapi rupanya berlanjut hingga ke alam akhirat. Ironisnya lagi, kemewahan ini diumbar di tengah lautan kemiskinan dan ratusan juta manusia yang terlantar.

San Diego Hills yang mewah itu sangat kontras dengan kondisi bangsa kita: ribuan bangunan sekolah yang ambruk, jalanan yang rusak, anak putus sekolah, pasien miskin tidak bisa menebus obat, jutaan pemuda menganggur, upah buruh yang tidak layak, dan lain-lain.

Satu kejadian menyayat perasaan kemanusiaan kita: seorang bapak menggendong mayat anaknya dari RSCM ke Bogor karena tidak punya uang untuk menyewa ambulance. Betapa kejadian itu sangat menyayat perasaan kebangsaan kita. Bukankah kita ini satu keluarga besar: bangsa Indonesia.

Bukankah bangsa, seperti diteorikan Ernest Renan, merupakan perwujudan dari “hasrat untuk hidup bersama”. Kalau kehidupan sesama anggota sudah semakin berjarak, masih pantaskah kita disebut sebagai satu bangsa. Tentunya, hal itu sangat mempengaruhi cara kita menghayati semangat berbangsa.

Selain itu, penggunaan kata “San Diego Hills” memperlihatkan watak inlander bangsa kita. Orang selalu menyamakan kemajuan dengan pem-barat-an alias asingisasi. Kenapa harus menggunakan San Diego Hills? Memang tanah tempat kuburan itu berpijak adalah bumi San Diego. Kenapa tidak disebut saja “Pemakaman Bukit Karawang”.

Ironisnya, kemodernan dimaknai sekedar penggunaan bahasa asing. Sedangkan pemikiran-pemikiran barat yang maju, termasuk etos kerja dan keahlian mereka, sangat jarang terserap oleh “inlander-inlander” itu.

Ketika Bung Karno mengeritik kelemahan teori bangsa Ernest Renan, ia menambahkan ciri lain: persatuan manusia dengan tempatnya alias tanah-airnya. Artinya, ada ikatan antara manusia dengan tanah airnya. San Diego Hills jelas berpijak di tanah air Indonesia, tetapi ia enggan menggunakan nama berbau Indonesia. Inilah krisis kebangsaan yang lain.

Satu hal lagi: soal kegandrungan menggunakan bahasa asing. Kita tidak melarang orang mempelajari bahasa asing. Akan tetapi, jangan lupa untuk memperkuat dan melestarikan bahasa Indonesia. Sebab, pembentukan nasion Indonesia tidak lepas dari bantuan bahasa. Bahasa Indonesia punya jasa besar dalam pembentukan nasion Indonesia: sebagai bahasa pemersatu (unifikator) dan sebagai bahasa pembebas (liberator).

Lebih parah lagi, sejumlah tokoh nasional yang dikubur di tempat ini ditempatkan di sebuah tempat khusus yang disebut “National Heroes Garden”. Coba bayangkan seorang yang disebut “tokoh nasional” ditempatkan sebuah makan yang sangat elit dan sangat jauh dari rakyatnya. Bayangkan seorang yang disebut “tokoh nasional” dikuburkan di kuburan yang bernilai ratusan juta hingga milyaran.

Tapi, ya, pejabat negara kita memang “raja tega”. Mana peduli mereka dengan ketimpangan dan kehidupan yang berjarak dengan rakyatnya. Tak ada pemimpin kita atau elit bangsa kita yang mau mayatnya seperti mayat Zhou Enlai: dibakar dan abunya ditaburkan di seantero negeri. Zhou Enlai, pemimpin Tiongkok itu, menolak dibangunkan monumen, makam, tugu prasasti, dan patung. Atau, kita harus lebih bangga kepada para pahlawan yang terbujur di bawah nisan-nisan tak bernama.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut