Salamuddin Daeng: Ada tangan Imperialis Dalam Kampanye Anti-Rokok

JAKARTA: Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng menduga adanya tangan imperialisme, dalam hal ini korporasi raksasa (TNC/MNC), dalam kampanye anti-rokok dan tembakau di dunia ketiga.

Berbicara dalam diskusi “Tembakau dan Industri Nasional”, yang diselenggarakan Kedai Kopi dan Teh Nusantara, Jumat (6/8), Salamuddin Daeng dengan terang mengungkap berbagai motif dan kepentingan di balik kampanye anti-rokok.

Menurut Daeng, ada kepentingan korporasi besar di bidang farmasi dan kesehatan dalam bisnis perdagangan obat-obat yang dikenal dengan nicotine replacement therapy, yang berada di balik agenda pengontrolan atas tembakau.

Daeng pun mempertanyakan anggapan pakar medis mengenai dampak merokok bagi kesehatan, yang menurutnya punya motif ekonomi dan politik ketimbang motif kesehatan manusia. “rokok sudah ada sejak awal peradaban manusia. Kenapa pakar medis tidak mengeluarkan larangan terhadap bahaya dari makanan junk food, misalnya,” ujarnya.

Penghancuran Industri Nasional

“Mengapa PBB, negara-negara maju, Bank dunia, banyak melahirkan aturan tentang restriksi tembakau, rokok, nikotin ? bukankah negara-negara maju seperti AS dulunya merupakan negara penghasil tembakau dan rokok yang sangat besar,” ungkapnya.

Sekarang ini pun, lanjutnya, AS masih terus menggempur pasar kita degan produk rokoknya, bahkan mengakuisisi sejumlah perusaan rokok dalam negeri.

Daeng juga membantah tudingan bahwa merokok berkontribusi pada kemiskinan. Daeng mengatakan, “Kemiskinan yang dialami oleh masyarakat suatu bangsa, bukanlah disebabkan oleh prilaku yang buruk, watak malas dan kebiasaan merokok. Kemiskinan disebabkan oleh kebijakan ekonomi dan politik yang menghamba pada kapitalisme dan menundukkan diri pada imperialisme.”

Menurut Daeng, negara maju tidak akan bermasalah jika kehilangan salah satu industri rokoknya, namun bagi negara berkembang yang belum mengembangkan banyak industri, hal itu akan menjadi masalah besar karena masih bergelut dengan tingginya angka pengangguran, kemiskinan dan masalah ekonomi lainnya.

Daeng mengatakan, Rokok merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang ada didalam negeri yang dikerjakan secara terintegrasi mulai dari hulu sampai dengan hilir. “Kegiatan ini telah dapat dikerjakan di dalam negeri dengan minimal sekali komponen impor,” katanya.

Rokok juga Soal Budaya

Selama basis produksinya masih dari tembakau dan industri rokok, maka persoalan budayanya pun akan mengacu ke sana. Sehingga, kampanye melawan rokok tidak sekedar melawan sekelompok orang yang dianggapnya “pecandu’, namun melawan sebuah kenyataan historis, bahwa rokok sudah menjadi bagian dari hidup rakyat Indonesia.

Kenyataan historis tak boleh dilupakan bahwa rokok tidak sekedar menjadi satu komoditas, gaya hidup, namun melampaui semua itu. Rokok adalah bagian dari hidup rakyat. Rokok menjadi tali silaturahmi, pengikat solidaritas, serta peneguh kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Di beberapa daerah, rokok merupakan salah satu barang yang dibawa saat mengantarkan undangan pernikahan, Aqiqah, dan acara-acara kekeluargaan lainnya. Seperti juga dauh sirih, daun tembakau sudah melekat kuat dalam tradisi leluhur kita.

Selain itu, merokok juga merupakan ukuran sosial, yakni inisiasi kedewasaan seorang anak dalam pergaulan sosial masyarakatnya. Anak yang masih kecil akan dilarang merokok, sementara yang sudah diperbolehkan merokok wajib untuk mencari pekerjaan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • TURUNKAN HARGA MIRAS

  • NALOM.HUTAPEA

    BUNG UNTUK LEBIH MENSEJAHTERAKAN RAKYAT INDONESIA,TIDAK ADA BEDAHNYA KURASA DENGAN TUMBUH-TUMBUHAN YANG ADA DIINDONESIA KALAU DIKATAKAN BISA MEMBAHAYAKN DAN MEMBUAT KEMISKINAN,BAHKAN UNTUK SAMPAI KEMATIANPUN MUNGKIN,SEPERTI LARANGAN-LARANGAN YANG DIINTRUKSIKAN PARA YANG KATANYA DOKTOR AHLI MEDIS JANGAN MAKAN HASIL BUMI INDONESIA SEMENATA RACUN YANG BERBENTUK MAKANAN DARI LUAR KAYAKNYA WAJIB DIMAKAN,SEMENTARA BAHAN DARI SEMUA ITU DARI INDONESIA,PATI BAHAN ITU YANG BETUL-BETUL UNTUK MEMBANGUN TELAH DIAMBIL MEREKA DAN TINGGAL SAMPAH DIKIRIM PADA KITA ITULAH YANG KITA KOMSUMSI SEKARANG,,,,SEMUA PEMBOHONGAN.KEMBALI KEPADA POKOK DISKUSI KITA,COBA KITA SEJAJARKAN GANJA DENGAN TUMBUHAN SEPERTI YANG DIKATAKAN DIATAS..KARENA MENURUT HEMAT SAYA BERDASAR PADA SEJARAH…GANJA INI DIMAFIAKAN..SOALNYA ADA BEBERAPA ORANG YANG JADI KAYAE KARENA GANJA DAN NARKOBA INI..BAHKAN SUDAH MENJADI RAHASIA UMUM DIMANA KITA DAPAT PEROLEH DAN DARI SIAPA YAMG KALAU DIURUT-URUT DARI PARA PIHAK BIROKRASI,ANTEMAR,PEGAWAI,TENTARA DAN POLISI.KAN LEBIH BAIK KALAU SEMUA RAKYAT KAYA RAYA KAN BISA SEOLEH BUNG JAHTERA, BOLEH BUNG KITA BOLEH PANJANG LEBAR NGOBROLNYA,KALAU MASALAH SABU-SABU,PUTAU.ITUKAN TEHNOLOGI…OK NANTI KITA SAMBUNG,INILAH SALAM KENAL KU……