Sadiq Khan, Seorang Kiri Moderat Jadi Walikota London

Kandidat dari Partai Buruh, Sadiq Khan, berhasil memenangkan Pemilihan Walikota London, Inggris, pada Kamis (5/5/2016). Dia berhasil menyingkirkan kandidat kuat dari partai Konservatif, Zac Goldsmith.

Khan berhasil meraih suara terbanyak dengan 1.310.143 (57 persen) suara. Sedangkan Goldsmith di urutan kedua dengan 994.614 (43 persen) suara. Sedangkan tempat ketiga didapat oleh kandidat dari Partai Hijau, Sian Berry, dengan 150.673 suara.

Dengan hasil tersebut, partai Buruh berhasil merebut kursi Walikota yang delapan tahun sebelumnya dipegang oleh partai Konservatif sekaligus menjadikan Khan sebagai Walikota Muslim pertama yang memerintah sebuah kota besar Eropa.

Khan, yang saat ini berusia 45 tahun, adalah anak imigran dari Pakistan. Keluarganya tinggal di Tooting, London. Ayahnya, Amanullah Khan, adalah seorang sopir bus di kota London. Sedangkan ibunya, Sehrun, bekerja sebagai tukang jahit untuk menopang ekonomi keluarganya.

Berkat kerja keras orang tuanya, Khan dan tujuh saudaranya berhasil mendapatkan pendidikan terbaik. Hingga, pada usia 27 tahun, Khan berhasil menjadi pengacara Hak Azasi Manusia (HAM).

“Sebagai pengacara HAM, saya membela orang-orang yang terdiskriminasi…saya melihat dengan mataku sendiri dampak diskriminasi terhadap kehidupan rakyat. Dan ini membuatku bertekad melawannya dimanapun aku melihatnya,” kenang Khan.

Tahun 2005, Khan terpilih sebagai anggota parlemen dari Tooting. Lalu, di tahun 2009, di era pemerintahan Gordon Brown dari Partai Buruh, Khan ditunjuk sebagai Menteri untuk Urusan Komunitas.

Kemudian, di tahun 2009 juga, dia ditunjuk sebagai Menteri Perhubungan, sekaligus menjadi Muslim dan orang Asia pertama yang mengikuti Rapat Kabinet di pemerintahan Inggris.

Di tahun 2015, di pemilihan Ketua Partai Buruh, Khan merupakan satu dari 36 anggota parlemen Partai Buruh yang mengusung nama Jeremy Corbyn. Untuk diketahui, Corbyn adalah seorang politisi buruh yang berpandangan sosialis.

Keberhasilan Khan memenangi kontestasi politik di kota London tentu sangat menarik. Media-media besar di barat, termasuk BBC, menulis: Sadiq Khan, Walikota Muslim Pertama di London. Media-media di Perancis, Belanda, Jerman, dan lain-lain juga menulis dengan penonjolan keislaman Khan.

Itu juga diikuti oleh media-media di Indonesia. Bahkan tidak sedikit Islam konservatif di Indonesia, seperti Fahira Idris, memberikan ucapan selamat kepada Sadiq Khan.

Sadiq Khan memang Islam, tetapi dia terpilih bukan karena latar belakang Islam-nya. Di London, jumlah Muslim hanya berkisar 1 juta orang atau 12,4 persen. Sedangkan jajak pendapat YouGov menyebutkan, sepertiga (31 persen) warga London tidak setuju dengan Walikota Muslim.

Justru, karena dia Islam, Khan mendapat banyak serangan. Teruama dari kandidat konservatif, Goldsmith. Goldsmith beberapa kali menuduh Khan beserta keluarganya dari Pakistan sebagai penyokong ekstremis Muslim.

Tentu saja kampanye itu tidak menguntungkan Khan di tengah situasi Eropa, termasuk Inggris, yang tengah dilanda sentimen Islamofobia pasca serangan teroris di Paris dan Brussel.

Di kalangan Islam konservatif, Khan tidak diterima. Sebab, dia mendukung perkawinan sesama jenis. Karena sikapnya ini, Khan pernah mendapat ancaman. Dia juga difatwa oleh sejumlah ulama Islam sebagai orang yang sudah jauh dari Islam.

Tetapi kenapa Sadiq Khan menang?

Khan menang karena program politiknya. Dia membuat sebuah program politik yang disebut “Manifesto untuk Semua orang London”. Dia menjanjikan London sebagai kota yang bisa memberikan kesempatan yang sama kepada semua warganya tanpa kecuali dan tanpa diskriminasi.

Dalam kampanye, Khan berjanji mengatasi krisis perumahan yang menghantui warga London. Dia berjanji akan membangun lebih banyak rumah yang harganya bisa dijangkau oleh setiap warga kota London.

“Jika saya terpilih sebagai Walikota, prioritas saya adalah membangun ribuan rumah setiap tahunnya. Saya menargetkan, separuh dari rumah baru yang terbangun benar-benar bisa dijangkau warga London,” kata Khan saat kampanye.

Dia juga berjanji untuk mengatasi biaya transportasi yang mahal di London dengan membekukan kenaikan tarif selama 4 tahun. Janji kampanye lainnya adalah menambah petugas kepolisian untuk menangani kejahatan dan menjanjikan udara bersih dengan armada bus yang ramah lingkungan.

Dilihat dari programnya, Sadiq tidaklah kiri-kiri amat. Dia tergolong moderat. Malahan, di Manifestonya, dia menyebut dirinya sebagai “Walikota pro-bisnis”, yang percaya bahwa sektor bisnis penting untuk kesejahteraan warga London.

Dia tidak radikal seperti Ketua Partai Buruh saat ini, Jeremy Corbyn, yang menentang penghematan dan neoliberalisme. Corbyn juga mengeritik kapitalisme dan pasar bebas. Sebaliknya, Corbyn justru terpengaruh oleh ide-ide sosialisme: kesetaraan, demokrasi, dan kesejahteraan sosial.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut