Puisi untuk Daan Mogot

Kalau Anda dari Jakarta hendak menuju Tangerang melewati  Grogol,  Anda akan melewati jalan besar Daan Mogot yang membentang sepanjang kurang lebih 28 km  hingga menembus  Kota Tangerang,  yang mengantarkan pada Anda suasana kota lama Tangerang dengan berbagai suguhan kuliner yang merangsang lidah Anda, di tepian Kali Cisadane, yang mata airnya bersumber dari Gunung Pangrango.  

Anda juga bisa singgah di Museum Benteng, Museum warisan budaya peranakan Tionghoa Tangerang yang juga  merupakan museum kebudayaan Peranakan Tionghoa pertama di Indonesia untuk merasakan bagaimana suasana  Kota  ini di masa lalu dan berbagai adat dan kreasi kebudayaan China pada masa Dinasti Manchu. Letak museum di tengah hiruk-pikuk perkampungan, berdekatan dengan Klenteng Boen Tek Bio di Jl Cilame, Pasar Lama.

Baca juga: Museum Peranakan Tionghoa di Tangerang

Perjalanan menyusuri Jalan Daan Mogot dari Grogol menuju Kota Tangerang  dengan kendaraan bermotor  kurang lebih satu jam.  Pada satu abad lebih enam belas tahun yang lalu, H.Kommer melalui Tjerita Njonja Kong Hong Nio, Toean Tanah di Babakan Afdeeling Tangerang, menggambarkan bagaimana  “Jalan Raya Daan Mogot” itu ditempuh dengan kereta kuda:

“…dengan lekas kareta itoe dilariken dari kampoeng Mendjangan.  …koeda iang tarik itoe kreta ada sepasang koeda batak iang amat pesat larinja. Koesirnja ia-itoe satu boedak iang amat pandei bawa karetanja maka tiada heran dalem sedikit tempo sadja kareta itoe soedah liwat Gang Chaulan, liwat Pesing dan Tjengkareng, hingga tiada lama soedah sampei di djalanan Tangerang, dimana ada sedia ampat koeda boeat penggantinja. …Dengen lekas marika itoe liwat djembatan Batoe Tjeper, Tanah Tinggi dan Tanah Babakan”. (Pramoedya Ananta Toer, Tempo Doeloe Antologi Sastra Pra-Indonesia, Lentera Dipantara, Jakarta, 2003; 322-325).

Daan Mogot  yang dijadikan nama jalan raya dari Jakarta, Grogol hingga Tangerang ini adalah seorang perwira Tentara Republik  Indonesia, TRI dan Direktur Akademi Militer Tangerang,  berpangkat Mayor, tetapi hampir kebanyakan penyebutan dirinya tidak pernah menyebutkan pangkat kemiliterannya, cukup Daan Mogot, tidak seperti nama-nama jalan lainnya yang berasal dari militer, hampir selalu disebutkan lengkap dengan jabatan kemiliterannya.  Dengan begitu Daan Mogot menampakkan diri sebagai pemuda rakyat pejuang yang terseret derasnya arus perjuangan revolusi kemerdekaan saat itu.  Terlebih Daan Mogot masih berusia 17 tahun saat menumpahkan darahnya demi Republik dan menjabat sebagai Direktur Pertama Akademi Militer Tangerang; tentu seorang pemuda yang berani dan cerdas.

Elias Daniel Mogot adalah nama lengkapnya; dilahirkan di Manado, Sulawesi Utara, di bawah matahari Hinda Belanda,  28 Desember 1928 dan meninggal dalam pelukan Republik Indonesia, 17 tahun kemudian. Daan Mogot sebelumnya adalah mantan anggota dan pelatih PETA di Bali dan Jakarta. Di masa perjuangan kemerdekaan, menjadi komandan Tentara Keamanan Rakyat, TKR di Jakarta dengan pangkat Mayor. Pada bulan November 1945 mendirikan sekaligus menjadi Direktur Pertama Akademi Militer Tangerang.

Menyusuri Jalan  Daan Mogot dari Jakarta,  sebelum memasuki Kota Tangerang, setelah melewati Tanah Tinggi di sebelah kiri Jalan Daan Mogot  dan Jl TMP Taruna,   Anda bisa singgah sebentar di Taman Makam Pahlawan  Taruna Tangerang, tepat di sebelah barat Lapas Anak Pria, keramaian kota tiba-tiba berganti dengan kesunyian dan ketenangan. Di situlah, Pahlawan kita: Daan Mogot beserta kawan-kawan yang terbunuh dalam peristiwa Lengkong, 25 Januari 1946, dimakamkan.

Sebuah Monumen didirikan untuk menghormati pahlawan-pahlawan kita itu dengan bertorehkan kata-kata dalam huruf besar, yang menunjukkan kerelaan dan keberanian  barisan  pelopor demi  kemerdekaan bangsanya dan demi kebaikan generasi mendatang: 

Kami Bukan Pembangun Candi
Kami Hanya Pengangkut Batu
Kamilah Angkatan Yang Mesti Musnah
Agar Menjelma Angkatan Baru
Di Atas Pusara Kami, Lebih Sempurna
.

kata-kata di bawahnya menerangkan bagaimana kata-kata tersebut diperoleh dan dengan begitu seakan menjelaskan kelayakan kata-kata di atas untuk ditorehkan di tugu kenangan para pahlawan kita itu:

Tulisan ini cermin ketulusan dalam masa perjuangan
Ditemukan di saku salah seorang perwira saat gugur
Bersama adik-adiknya siswa akademi militer tangerang
Dalam tugas misi damai menerima penyerahan senjata dari
Tentara jepang di lengkong di mana tanpa diduga tugas
Damai tersebut berubah menjadi pertempuran yang tidak
Seimbang, sehingga membawa banyak korban

Walau dikesankan anonim, kita tahu kata-kata yang ditorehkan di Tugu Peringatan Daan Mogot dan kawan-kawan itu adalah bait puisi dari penyair perempuan Belanda, Henriette Roland Holst (1869-1952) yang memang karya-karya puisinya telah banyak memberanikan para pejuang kita dalam melawan penjajahan sebagaimana juga dijadikan epitaf di nisan Ali Archam, pejuang komunis yang meninggal dalam pembuangan di Tanah Tinggi, Boven Digul, Papua 2 Juli 1933 dalam umur 32 tahun:

Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas
Hari ini tumbuh dari masamu
Tangan kami yang neneruskan
Kerja agung jauh hidupmu
Kami tancapkan kata mulia
Hidup penuh harapan
Suluh dinyalakan dalam malammu
Kami yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan

AJ Susmana, pegiat Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut