Ronggawarsita, Palang Kebudayaan Jawa yang Terbuang

 “Manusia terlalu tua untuk dilahirkan sekaligus terlalu muda untuk mati,” simpul Heidegger setelah bertahun-tahun menelisik hakikat manusia.

Telah empat generasi keluarga Ronggawarsita mengabdi kepada keraton Surakarta.[1] Dari eyang buyut hingga dirinya sendiri telah ratusan karya tercipta untuk kebesaran nama sang raja. Tapi sejarah berkata lain, sang pujangga penutup itu hidup menyisih, lumat bersama para jelata. Palar, Trucuk, Klaten, adalah saksi bisu akhir hidup sang pujangga yang ngenas.

Tak seperti para ningrat dan pembesar keraton yang terkubur secara eksklusif, Ronggawarsita, bersama isteri setianya, R.Ay. Gombak dan R.Ay. Dewatawati, tak memilih Pajimatan Imogiri, Astana Giribangun, ataupun pemakaman eyang terkasihnya di Pengging, Yasadipura. Mereka rela terkubur berbaur khalayak jelata—makam C.F. Winter, salah satu murid Belandanya, ikut pula dipindahkan menyusul sang guru di Palar.

Ada beberapa tilikan yang mengabarkan bahwa akhir hidup sang pujangga memang ngenas. Salah satunya, ia dikabarkan menjadi korban intrik internal keraton. Selaiknya manusia lumrah, setelah bertahun-tahun mengabdi untuk membesarkan nama keraton dan sang raja, ia berkeinginan pula untuk naik pangkat (Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon, Andjar Any, 1989).

Tapi apa boleh buat, keinginannya tak kunjung terpenuhi. Ada kabar bahwa sang raja menaruh dendam karena ayah Ronggawarsita, Mas Pajangswara, tertangkap dan terbunuh karena keterlibatannya dalam pemberontakan Dipanegara sehingga menyebabkan Pakubuwana VI dibuang ke Ambon (Polarizing Javanese Society: Islamic and Other Visions [c. 1830-1930], M.C. Ricklefs, 2007). Di samping itu, popularitas Ronggawarsita yang melebihi sang raja disinyalir menjadi sebab kenapa karirnya macet.

Barangkali, kabar-kabar soal diskriminasi dan segregasi yang diterima Ronggawarsita tak sepenuhnya luput. Ada beberapa faktor yang saya kira menguatkan penilaian itu. Pertama, soal gaya bersastra Ronggawarsita yang menyertakan sandi asma di setiap manggala karya-karyanya. Kedua, pemilihan metrum megatruh dan suasana murung Serat Sabdajati, di mana di akhir tembang sang pujangga pamit mati. Ketiga, keputusan sang pujangga untuk dimakamkan di pelosok desa, berbaur dengan khalayak jelata, jauh dari segala kemegahan orang istana.

Tak ubahnya etika kyai (pesantren), etika priyayi (keraton) adalah juga sebentuk etika segregasi. Ada satu kebiasaan keraton terkait tradisi pengabdian: “pisungsungan.” Dahulu, setiap abdi dalem bertugas untuk melayani sekaligus menjaga tegaknya kemapanan sang raja. Untuk kemapanan budaya ditugaskanlah para kawisastra untuk meluhurkan nama sang raja. Setiap karya yang mereka ciptakan mesti dipersembahkan ( pisungsungan) untuk sang raja dan keraton. Nama, eksistensi dan otoritas para kawisastra mesti terbenam, anonim. Apabila tidak, dipandang saru. Apa yang kini disebut sebagai hak cipta, pada akhirnya dikuasai oleh sang raja dan keraton. Dalam khazanah kyai (pesantren) hal ini dikenal dengan sesebutan “khumul,” yang kerap dicarikan pembenarannya dalam tasawuf.

Ronggawarsita, mengingat watak bohemiannya, tak betah dengan itu semua. Lazimnya manusia lumrah, ia juga ingin eksistensi dan otoritasnya diakui. Ia tak ingin esok sekedar menjadi seonggok jenazah yang dilupakan sejarah. Maka dipakailah siasat sandi asma untuk melawan segenap budaya segregasi. Seperti contoh di bawah ini, yang tertera dalam manggala Serat Sabdajati.

Aywa pegat ngudia (rong)ing budyayu

Mar(ga)ne suka basuki

Dimen lu(war) kang kinayun

Kalis ing panggawe (si)sip

Ingkang (ta)beri prihatos

Suku kata dalam tanda kurung di atas apabila dibaca secara vertikal, dari atas ke bawah, akan berbunyi: “Ronggawarsita.” Itulah kenapa dari keseluruhan pujangga Jawa, karya-karyanya paling mudah untuk diidentifikasi. Dan justru karena perlawanannya, dengan menyiratkan nama dalam setiap karyanya itu, kesusasteraan Jawa dinilai berada pada masa keemasannya (renaissance). Maka ditahbiskanlah Ronggawarsita oleh sejarah sebagai salah satu palang kebudayaan Jawa masa silam.

Saya kira, sebagai konsekuensinya, pemberontakan seorang Ronggawarsita tak pula menyentuh wilayah sastrawi belaka. Tapi juga menyangkut wilayah spiritualitas yang di masa silam sering dijadikan dasar atau pembenaran bagi perilaku atau kebiasaan tertentu.

Ronggawarsita tak sekedar seorang priyayi, ia juga pernah nyantri. Dan telah menjadi rahasia umum, di pesantren ia dikenal bengal, pemberontak. Jadi, saya kira, ia paham betul efek buruk budaya pisungsungan ataupun khumul. Budaya-budaya ini berangkat dari prinsip kebatinan (tasawuf) yang salah kaprah. Ronggawarsita juga seorang ahli di bidang tasawuf. Otoritasnya tak diragukan lagi.

Dus, saya kira, ada dua pemberontakan sekaligus yang diprakarsai oleh Ronggawarsita: pemberontakan budaya sekaligus spiritual—yang barangkali juga berimplikasi pada kondisi sosial-politik: kelahiran republik dan tanggalnya feodalisme di masa depan.

Hal ini, dengan menyeksamai Wirid Hidayat Jati, berkaitan dengan konsep pendidikan ego. Seseorang perlu melenyapkan egonya untuk memperoleh hidup yang tentram, dengan melayani sang raja yang adalah titisan dewa atau kyai yang dipandang sebagai warasatul anbiya’. Inilah doktrin yang kerap dijadikan pembenaran untuk menyegegrasi. Untuk hal ini telah saya bahas dalam “Akumu Adalah Jejermu: Wajah Lain Sufisme Nusantara,” Majalah Adiluhung edisi 17.

Terus-terang, bagi saya, budaya pisungsungan ataupun khumul sama sekali tak sehat bagi geliat kreativitas. Orang dapat merasakan betapa getirnya akhir hidup sang pujangga yang telah banyak menorehkan jasa—tak hanya keraton Surakarta, tapi juga kebudayaan Jawa pada umumnya. Megatruh, sebuah metrum yang dipakai dalam keseluruhan Serat Sabdajati, konon adalah sepenggal kata yang bermakna “menceraikan ruh.”

Ada satu tilikan zaman yang diungkapkan Ronggawarsita, tepatnya pada pupuh ke-12, yang menyiratkan dekadensi di setiap lini kehidupan. Tilikan zaman semacam ini sebenarnya sudah ia singgung dalam Serat Jaka Lodhang, Kalatidha, dan Sabdatama.

Para janma sajroning jaman pakewuh

Kasudranira andadi

Daurune saya ndarung

Keh tyas mirong murang margi

Kasetyan wus ora katon

Apa yang dilukiskan dalam bait di atas adalah suatu senjakala kebudayaan, dekadensi, terjadinya kemerosotan nilai-nilai. Apa yang dahulu seluhur langit, menjadi serendah tanah. Banyak pembangkangan dan pengkhianatan. Namun yang membedakan Serat Sabdajati dengan ketiga karya di atas adalah suasana personal yang khas, tak tergantikan, yang memuncak di akhir tembang: “Ki pujangga pamit layon.”

Hal ini menandakan adanya satu pembacaan alternatif bahwa sang pujangga tak sekedar menyingkapkan suasana zaman, melainkan juga mengungkapkan suasana hatinya, kekecewaannya.

Tapi terbukti, doktrin pisungsungan, doktrin khumul, tak selamanya berhasil dan berefek baik. Ronggawarsita tetap tenar, nama dan karyanya tetap berkibar, menjadi inspirasi perlawanan bahkan di era kemerdekaan tanpa mengikuti anggah-ungguh tersebut.

Dan di atas itu semua, pemakaman Palar, Trucuk, Klaten, adalah lambang perlawanan pungkasan sang pujangga atas segala diskriminasi dan segregasi yang ia terima: terbuang bersama kalangan yang tak terpandang.[2]

Heru Harjo Hutomo, penulis, peneliti lepas, perupa dan soundartist, penulis buku “Jalan Jalang Ketuhanan: Gatholoco dan Dekonstruksi Santri Brai”, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2011

Catatan kaki:

[1] Saya melatinkan nama Ranggawarsita dengan “Ronggawarsita” karena di nisan makamnya tertulis dengan sandangan taling tarung: “Rong.”

[2] Bukanlah keraton yang menahbiskan makam Ronggawarsita sebagai salah satu cagar budaya. Tapi diawali oleh pemerintahan Soekarno, yang kini telah dilindungi oleh UU RI No. 11 Tahun 2010.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut