Riset Dan Gerakan Kiri

Inilah pekerjaan yang sering dianggap remeh: riset.

Tetapi Partai Komunis Indonesia (PKI), organisasi politik terbesar pada masanya, menganggap sangat penting soal riset ini. “Partai Komunis yang tidak melakukan riset sangat diragukan kemurniannya sebagai Partai Marxis Leninis,” kata Ketua PKI, DN Aidit.

Alasan Aidit pun sederhana: tidak melakukan riset berarti tidak tahu keadaan dan tidak berusaha mencari kebenaran dari keadaan. Padahal, PKI saat itu punya slogan: “tahu Marxisme-Leninisme dan kenal keadaan.”

Tetapi, ingat, riset PKI bukan sekedar riset ala lembaga survei borjuis seperti sekarang: melakukan tanya jawab melalui kuisioner atau via telpon/SMS. Metode survei seperti ini tidak akan pernah akurat dan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

PKI mulai menerapkan metode riset dalam pekerjaan partainya sejak tahun 1951. Awalnya, PKI juga membuat kesalahan. Waktu itu, untuk mengetahui persoalan agraria, PKI melakukan proses tanya-jawab melalui angket/kuisioner dengan kaum tani.

Jadi, mereka membuat formulis berisi daftar pertanyaan dan kolom yang harus diisi oleh kader. Hasilnya sudah bisa ditebak: banyak diantara formulir itu tidak kembali ke Komite Partai. “Hanya sedikit yang kembali. Itupun hanya memuat angka resmi dari kelurahan, kecamatan, dan jawatan,” keluh Adit.

Metode itu menemui kegagalan. Bahkan, Aidit menuding metode itu bukan metode marxis-leninis. Pasalnya, pelaku riset tidak melakukan kontak langsung dengan kenyataan-kenyataan konkret. Akibatnya, si periset tidak mendapatkan gambaran objektif dari kenyataan.

Tetapi, PKI segera belajar dari pengalaman itu. Delapan tahun kemudian, tepatnya 1959, PKI menggelar Kongres ke-VI. Kongres itu membuahkan keputusan penting soal riset partai: “kader-kader partai harus bekerja berdasarkan hasil riset atau bekerja secara ilmiah untuk memperbaiki pekerjaan praktis mereka dalam membangkitkan, memobilisasi, dan mengorganisasikan massa, terutama kaum buruh dan tani.”

Sejak itu PKI juga mulai menemukan metode riset yang tepat. Metode itu disebut metode “tiga (3) sama”, yaitu sama bekerja, sama makan, dan sama tidur dengan buruh tani atau tani miskin. Sama bekerja artinya si periset harus mengerjakan apa yang dikerjakan oleh petani tempatnya menginap. Sama makan berarti makan apa saja yang disediakan petani. Sedangkan sama tidur berarti tidur di tempat petani dan secara petani.

Dengan melakukan metode “tiga sama”, si periset tidak akan menjadi “makhluk asing” di tengah rakyat. Selain itu, ia akan merasakan secara langsung apa yang dirasakan oleh petani. Dengan begitu, hasil risetnya bukanlah asumsi, tetapi kenyataan.

Ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh periset:

Pertama, periset harus memilih tempat tinggal yang tepat ketika mereka melakukan riset di desa-desa. Misalnya, periset jangan tinggal di kediman petani kaya ataupun tuan tanah. Hal itu untuk menjaga kepercayaan buruh tani dan tani miskin kepada periset.

Kedua, si periset ketika tinggal di rumah rakyat harus punya bekal sendiri. Ini penting agar ia tidak membebani rakyat. Selain itu, si periset harus bisa menyesuikan diri dengan kehidupan rakyat. Karena itu, si periset harus belanja sesuai dengan apa yang dimakan keluarga itu sehari-hari.

Ketiga, petugas riset harus ramah dan rendah hati kepada petani. Jangan ada perasaan merasa lebih pintar di hadapan petani. Juga, jangan karena merasa aktivis partai, lantas berlagak hebat dan merasa serba tahu di hadapan kaum tani. Sebaliknya, si periset harus menempatkan rakyat sebagai guru besarnya dan belajar mendengar dari mereka.

Keempat, si periset harus terlibat dalam kerja produksi dan kerja rumah tangga. Jadi, misalkan tinggal di rumah petani, ia harus terlibat dalam kerja bertani. Juga, di rumah, periset harus terlibat dalam kerja rumah tangga: membersihkan rumah, memasak, dan lain-lain.

Kelima, dalam hal mengumpulkan angka-angka, si periset harus menggali sendiri dari rakyat. Dia tidak boleh terlalu bersandar pada data resmi yang ada di desa/kelurahan atau dinas-dinas. Data-data pemerintah itu hanya data pembanding saja. Lagi pula, besar kemungkinan data pemerintah itu tidak sesuai dengan keadaan.

Keenam, dalam proses menggali data dan informasi dari kaum tani, si periset harus lebih banyak mendengar dan meresapi apa yang disampaikan oleh narasumbernya. Si periset tidak boleh mendikte atau mengarahkan jawaban petani atau narasumber lainnya sesuai keinginan si periset.

Dari pengalaman PKI, yang pernah melakukan riset besar-besaran di daerah Jawa Barat tahun 1964, ada beberapa hal yang harus dipegang teguh dalam kegiatan riset, yaitu “empat jangan” dan “empat harus”. Empat jangan meliputi: 1) jangan tidur di rumah kaum penghisap; 2) jangan menggurui rakyat; 3) jangan merugikan tuan rumah atau rumah tangga rakyat; 4) jangan mencatat dihadapan kaum tani. Sedangkan empat harus meliputi: 1) harus melaksanakan metode tiga sama sepenuhnya; 2) harus rendah hati, sopan santun dan suka belajar dari kaum tani; 3) harus tahu bahasa dan mengenal adat-istiadat setempat; dan 4) harus membantu menyelesaikan kesulitan-kesulitan rakyat setempat.

Dengan bersandar pada hasil riset, misalnya di sektor agraria, PKI berhasil menarik kesimpulan yang tepat soal program dan metode kerja yang tepat di kalangan kaum tani. Ini berkontribusi pada penambahan jumlah anggota Barisan Tani Indonesia/Rukun Tani Indonesia (BTI-RTI): dari 400.000 anggota (1953) menjadi 7 juta anggota (1964).

Rudi Hartono, pemimpin Redaksi Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • nugi

    apakah komunis atau tidak yg penting pro wong cilik yg skrg nasibnya krg baik akibat sjk thn ’65 politik kapitalis kanan neo liberal menguasai negeri ini.

  • komunis jelas pro wong cilik. kapitelisme? jelas tidak pro wong cilik.

    dalam ekonomi kapitalisme, buruh yg merupakan komponen dalam produksi sebagai tenaga kerja, peran buruh dituliskan sebagai biaya tenaga kerja. dalam ekonomi (kapitelisme), ada hukum: untuk memproduksi sebanyak2nya dengan biaya seminimal mungkin=> gaji buruh minimal.
    trus, ada yg namanya program CSR oleh perusahaan. perusahaan melakukan CSR biasanya setelah mereka mengeruk keuntungan sebanyak2nya.
    marhaenisme? jelas pro wong cilik. di barat marhaenisme disebut sbg variannya marxisme.
    hanya saja ajaran bung karno, konon banyak diterapkan di negara2 asia afrika, tetapi oleh rezim suharto justru dibinasakan (ironis bukan?) hanya karena suharto dkk ingin didukung AS agar bisa berkuasa lama di indonesia (john roosa).