Revolusi Rakyat akan bikin bersih Indonesia kita (1)

Jiwa revolusioner perjuangan 17 Agustus perlu dikobarkan dan digelorakan lagi terus-menerus

Judul tulisan ini sepintas lalu kelihatan terlalu “galak”, atau berlebih-lebihan, atau terlalu bombastis, dan bisa menimbulkan macam-macam kesan dan pendapat atau juga pertanyaan. Sebab, kata revolusi bisa mengundang  macam-macam pengertian, termasuk yang serba negatif dan menakutkan. Ada yang selalu menghubungkan kata revolusi dengan situasi  yang penuh dengan keonaran, anarchi, pengrusakan, pembunuhan,atau gontok-gontokan yang berdarah-darah.

Juga, kata-kata “bikin bersih” dalam judul di atas  bisa saja diartikan secara salah sebagai  pembabatan golongan reaksioner di Indonesia dengan pemenggalan kepala musuh-musuh rakyat dalam  pembantaian secara sewenang-wenang. “Bikin bersih” di atas juga bisa dijabarkan dengan tindakan-tindakan yang serba “main hantam kromo” saja.

Padahal, revolusi atau revolusi rakyat, yang dimaksudkan dalam judul dan isi tulisan ini adalah sama sekali bukan hal-hal biadab dan tidak manusiawi seperti yang disebutkan di atas. Jauh dari itu, bahkan, bertentangan sama sekali dengan hal-hal negatif itu semua, Revolusi Rakyat yang disebut-sebut di sini adalah Revolusi Rakyat menurut ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno, yang justru telah diangkat oleh MPRS menjadi Pemimpin Besar Revolusi (PBR).

Seperti yang  sudah ditunjukkan dengan gamblang sekali oleh sejarah bangsa kita, Revolusi yang dianjurkan Bung Karno adalah untuk memperkuat Negara Republik Indonesia, dan bukannya untuk memperlemah dengan adanya permusuhan antar suku, antar agama, antar warganegara, antar keyakinan politik, untuk melawan segala macam bahaya yang mengancam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Pengalaman selama pemerintahan di bawah Bung Karno juga membuktikan bahwa Revolusi yang digerakkan dengan ajaran-ajaran revolusionernya  telah melawan segala macam anarchi, segala kekerasan yang bersifat kriminal, segala pertumpahan darah yang tidak perlu, dan pelanggaran-pelanggaran HAM yang sewenang-wenang.

Revolusi Rakyat yang berkobar-kobar pada waktu itu justru melindungi kepentingan rakyat, dan bertujuan jelas-jelas untuk kesejahteraan rakyat dan membela keadilan bagi semua. Artinya, selama pemerintahan di bawah Bung Karno, Revolusi Rakyat, telah dengan nyata-nyata sekali  menghormati dan menjaga dan melindungi serta menjunjung tinggi-tinggi Pancasila, Bhinneka Tunggal  Ika, dan UUD 45.

Apolitisasi  menyebabkan  lunturnya patriotisme kerakyatan

Itu semua sangat penting untuk kita renungkan bersama-sama sekarang ini, ketika kita akan memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus dalam tahun 2010 ini. Banyak hal yang bisa sama-sama kita persoalkan, dan banyak pertanyaan yang bisa kita ajukan, dan banyak pula pendapat yang bisa kita utarakan.

Umpamanya, di antaranya adalah:  Apakah jiwa proklamasi 17 Agutus 45 sekarang ini masih dihayati oleh sebagian besar rakyat kita ? Apakah cita-cita dan tujuan proklamasi 17 Agustus 45 sudah benar-benar diperjuangkan oleh bangsa Indonesia? Apakah situasi negara seperti yang sekarang ini yang diinginkan oleh para pejuang kemerdekaan kita? Negara dan bangsa kita sekarang ini apa berjalan di atas relnya revolusi 45? Apa saja penyelewengan-penyelewengan yang terjadi atas tujuan revolusi 17 Agustus 45?

Kalau kita betul-betul mau jujur terhadap diri kita masing-masing, maka kita sudah selayaknya mengatakan sayang sekali bahwa sebagian  (yang cukup besar) bangsa kita sudah tidak peduli lagi sama sekali terhadap proklamasi 17 Agutus 45. Sebagian lainnya ikut merayakan dengan berbagai macam cara, hanya karena ikut-ikutan saja.

Banyak di antara bangsa kita yang apatis saja terhadap politik atau situasi negara dan bangsa, dan karenanya terjadi apolitisasi secara besar-besaran dalam masyarakat atau sebagian terbesar bangsa. Apolitisasi ini menyebabkan merosotnya patrtotisme kerakyatan, dan lunturnya atau lumpuhnya jiwa revolusioner yang pernah menjadi ciri utama dalam nation and character building di Indonesia.

Seperti kita ketahui dari pengalaman kita masing-masing, lunturnya patriotisme kerakyatan, dan lumpuhnya jiwa revolusioner bangsa Indonesia akibat berbagai politik reaksioner dan mengandung ciri-ciri fasisme yang dijalankan pemerintahan Suharto bersama jenderal-jenderalnya (dan GOLKAR) dalam jangka puluhan tahun, maka situasi negara dan bangsa menjadi serba menyedihkan bagi sebagian terbesar rakyat kita seperti sekarang ini.

Tujuan dan jiwa proklamasi telah diselewengkan

Ketika kita memperingati 17 Agustus  45 dalam tahun 2010, maka kita bisa mengatakan dengan tegas, bahwa situasi bangsa dan negara yang  kita saksikan bersama sekarang ini sama sekali bukanlah yang diinginkan oleh para perintis dan pejuang kemerdekaan, yang sudah berjuang dengan pengorbanan besar. Mereka akan kecewa sekali dan mengutuk kepada mereka yang menyebabkan timbulnya situasi pembusukan besar-besaran dan sangat parah seperti sekarang ini.

Melihat keadaan negara dan bangsa dalam tahun 2010 ini bisalah kiranya kita katakan bahwa cita-cita 17 Agustus 45 telah diselewengkan, bahkan telah dikhianati, sejak pemerintahan Suharto dan diteruskan oleh berbagai pemerintahan yang menggantikannya. Tujuan yang luhur dan mulia yang dikandung proklamasi 17 Agutus telah dirusak dan  sebagian yang besar yang penting-penting telah dibuang oleh Orde Baru serta penerus-penerusnya. (bersambung)

*) Penulis adalah jurnalis di era Bung Karno, pernah bekerja sebagai wartawan di  Indonesia Raya, Harian Rakyat, Harian Penerangan, dan Ekonomi Nasional serta berpartisipasi dalam Konferensi Wartawan Asia-Afrika (KWAA).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut