Review Film Dokumenter ‘South of The Border”, Karya Oliver Stone

Bukan hal yang mengherankan jika ada yang sebuah film dokumenter berani mengungkapkan kebodohan dan penentangan terhadap media mainstream, maka anda boleh menebak bagaimana nasib film itu. Ya anda benar, film itu akan dihujat habis-habisan oleh media mainstream itu sendiri termasuk (paling tidak saat ini) oleh The New York Times pada rubrik budaya. Jika anda ingin mendapatkan pengantar yang baik mengenai apa yang sedang terjadi di Amerika Latin, sebaik anda mendengar langsung dari para pemimpin di kawasan itu, maka film ini pantas menjadi rujukan.

Salah satu segmen pembuka film ini menampilkan adegan The Daily Show dengan gaya komedi yang elegan, kebodohan Fox TV News. Seorang penyiar berita (memunculkan tokoh yang berambut pirang dan tampak bodoh) melaporkan bahwa Evo Morales, Presiden Bolivia pertama yang berasal dari suku Indian,  mengunyah “cocoa” setiap hari, dan sangat mungkin ia menjadi kecanduan. Kemudian, teman penyiar laki-laki disampingnya memberitahukan kalau itu adalah “coca”—dan mereka semua tertawa tertahan seolah sedang mengunyah cocoa, mirip model di produk Swiss Miss.

Coca adalah obat perangsang herbal alami dan telah menjadi bagian dari kultur rakyat Bolivia; sedangkan, kokain dibuat dari coca yang telah diproses. Dari tayangan singkat ini, seseorang dapat mengetahui bagaimana berita-berita mainstream berupaya untuk membelokkan fakta, dalam kasus ini, seperti mengatakan bahwa jika Obama pergi ke Dunkin Donut setiap hari, maka dia akan kecanduan amphetamine (semacam obat untuk mengurangi depresi).

Sementara itu, di Pachamama (bahasa Bolivia untuk Ibu Pertiwi), melalui filmnya Oliver Stone “South of Border” memberikan pandangan personal dan sangat dekat terhadap pemimpin-pemimpin di Amerika Latin, khususnya terhadap Hugo Chavez yang  selalu dianggap sebagai “setan” oleh media barat dan pemerintah Amerika Serikat , namun dia begitu populer ditengah rakyat Venezuela; terpilihnya Chavez untuk kedua kalinya membuktikan kalau dia bukan seorang dikatator.

Diakhir film ini, Stone bertanya kepada Rafael Correa, Presiden Ekuador, apakah berita negatif yang selalu datang dari media Amerika Utara mengganggu dia. Sambil berkedip mata, Correa berkata kalau dia akan lebih berwaspada jika mereka (media Amerika Utara) berbicara baik tentang dia.

Karena banyaknya potongan tayangan, khususnya potongan berita dari Fox dan CNN, maka akan semakin menyegarkan dan membuka pikiran kita jika mendengarkan langsung dari para pemimpin yang terpilih khususnya yang telah terpilih untuk kesekian kalinya. Film ini menampilkan: Hugo Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia), Lula da Silva (Brasil), Christina Kirchner (Argentina) dan suaminya yang juga mantan presiden nestor Kirchner, Fernando Lugo (Paraguay), Rafael Correa (Ecuador), dan Raul Castro (Cuba). Selain mengetahui bahwa tokoh-tokoh ini bukan hanya memiliki kualitas pendidikan yang baik, film ini juga memberi pemahaman dan penjelasan yang memadai mengenai berita yang kita konsumsi setiap hari tentang kawasan Amerika Latin. (ketika review ini ditulis, Correa, Presiden Ekuador, baru saja berhasil melewati upaya kudeta, dan Brasil sedang melakukan pemilihan presiden pada tanggal 31 oktober untuk menggantikan Lula)

Revolusi Bolivarian

Sehubungan dengan mengglobalnya  isu terhadap hak-hak masyarakat adat, maka film dokumenter “South of the Border” ini menjadi sangat penting, karena Amerika Selatan menjadi landskap politik yang mengangkat “lokalitas” sebagai spiritnya. (Stone memfokuskan dokumentasinya terhadap Amerika Selatan ditambah Kuba, lebih luas dikenal sebagai Amerika Latin). Pemerintahan dikawasan ini mewakili spirit demokratis, sosialistis dan komunalisme yang banyak diinspirasi oleh Simon Bolivar. Frasa “kepemilikan bersama” memang akan membuat “orang-orang utara (northerner)” menggaruk-garuk kepala. Dan seperti judulnya, film ini memang bertujuan untuk mengubah cara pandang orang-orang di “utara” mengenai kawasan ini.

Sebuah buku yang menarik dengan judul, “New World of Indigenious Resistance: Noam Chomsky and Voices from North, South, and Central America,” melihat  bahwa “comunalidad” dan “interculturalidad,” seolah menjadi kata yang tidak dapat diterjemahkan, hingga kemudian buku ini  lebih lanjut memberikan eksplorasi tentang maksud dua kata tersebut dengan uraian yang menarik tentang kehidupan masyarakat di kawasan Amerika Latin sehari-hari. Meski kultur barat melihat kemajuan dari perspektif individual, namun sebaliknya rakyat Amerika Latin tumbuh dengan sebuah rasa kebersamaan yang terpatri didalam jiwa mereka. Dalam bukunya, Grimaldo Rengifo Vasquez menulis, “Menurut orang Andes, komunitas dipahami sebagai “allyu,” kolektivitas yang tidak hanya terdiri dari manusia namun juga dunia diluar manusia yaitu alam dan para dewa.” Ini bisa kita sebut sebagai konsensus yang holistik. Suku Indian Amerika di Pulau Penyu (Turtle Island), salah satu wilayah di Amerika Serikat, yang patut menjadi contoh bagaimana mereka mempraktekkan spirit “communalidad” dalam kehidupan sehari-hari.

Kutipan berikut akan membantu kita untuk memahami kondisi terkini Revolusi Bolivarian dalam sebuah perspektif: “meski merupakan seorang katolik taat, dia (Bolivar) adalah salah seorang pahlawan Amerika Latin yang menolak untuk tunduk terhadap sikap reaksioner pihak gereja…pada tahun 1829 Bolivar menulis: “Tidak ada kebajikan yang telah saya raih kecuali kemerdekaan. Itulah misi saya. Bangsa yang telah saya dirikan, setelah sekian lama tertindas dan menderita, akan menjadi gerhana dan kemudian muncul sebagai Negara republik yang besar,  Amerika.” 1

Apa yang terjadi saat ini, seperti yang digambarkan di film ini, terlihat merupakan bagian dari upaya untuk membangun  “satu republik besar.”

Terdapat beberapa adegan kekerasan, misalnya, potongan tayangan kudeta yang diback-up oleh media terhadap Chavez, yang akhirnya gagal. Penonton yang mudah terkejut oleh tayangan kekerasan akan memalingkan wajah melihat tayangan aksi protes yang berakhir rusuh ini.

Salah satu pelajaran penting yang dapat saya (red:pengulas) ambil dari film ini yaitu kesadaran tentara Venezuela untuk menolak bertindak tanpa permintaan dari pemerintah, berusaha untuk memajukan Revolusi Bolivarian dengan mempertegas kesetiaan terhadap Chavez. Padahal bukankah tentara adalah perantara utama dalam arena yang disebut perang?

Meski tidak diungkapkan dalam film ini, pada pertemuan pertama Konferensi Masyarakat Dunia terhadap Perubahan Iklim dan Hak Ibu Pertiwi (The First World People’s Conference on Climate Change and the Rights of Mother Earth (WPCCC), tanggal 19-22 April 2010, bertempat didekat Cochabamba, Bolivia, Presiden Evo Morales menilik situasi global saat ini yang semakin serius, menyatakan (terjemahan), “Kita hanya memiliki dua jalan, Ibu Pertiwi atau mati. Kapitalisme atau Ibu Pertiwi yang akan mati.”2  Di pertemuan ini Morales berbicara banyak hal meski biasanya ia lebih diplomatis dan non-konfrontatif.

Untuk topik ini, Oliver Stone berpendapat bahwa terdapat dua bentuk kapitalisme, ganas dan jinak. Kemungkinan kapitalisme yang jinak itulah dengan keputusannya bersama Pachamama dapat membantu masyarakat dunia menghindari kematian.

Lebih dekat dan melampaui individu

Kepada Stone, Chavez menyatakan bahwa alasan utama atas apa yang terjadi di Irak dan terhadap Saddam adalah “petroleo! (terj:petroleum),” yang juga banyak terjadi di Venezuela. Dapatkah ini menjadi alasan bagi propaganda hitam media Amerika Utara terhadap Presiden Venezuela? Chavez menggambarkan bahwa semua bentuk pergerakan yang dilakukan Venezuela disebutnya sebagai sebuah “revolusi damai’ namun tetap bersenjata,” yang saya (red:pengulas) terjemahkan sebagai bentuk persiapan untuk pertahanan diri, dalam hal ini memang dibutuhkan pendirian yang teguh.

Satu hal yang pantas untuk dipelajari bahwa hampir semua interview berjalan dengan sangat sederhana dan ramah. Nestor Kirchner (Argentina) menekankan aspek komunal dengan pernyataannya bahwa wajah pemimpin serupa dengan rakyatnya. Dan Cristina Kirchner (Argentina) membenarkan hal itu, “Untuk pertama kalinya di kawasan ini, para pemimpin terlihat seperti rakyat yang mereka pimpin.” ungkap Christina.

Sementara Raul Castro, ketika ditanya oleh Stone tentang peran Fidel Castro di Kuba, menyatakan bahwa tiap pemimpin, di tiap Negara memiliki kuasa dan rujukan masing-masing,  meski mereka semua tetap saling berhubungan.

Correa, yang telah menolak memperbarui kontrak pangkalan udara Manta milik Washington, menyatakan bahwa satu-satunya cara agar pangkalan udara AS tetap bertahan di Ekuador, adalah jika Ekuador diizinkan untuk memiliki satu pangkalan yang ada di Florida.

Salah satu contoh praktek “comunalidad” yang nyata adalah di Venezuela dimana dewan-dewan komunitas menerima uang pemerintah dan dan mereka dapat berbuat apa saja dengan itu, misalnya, memperbarui sistem saluran air. Ini adalah bentuk kepercayaan pemerintah terhadap rakyatnya, sesuai dengan ungkapan seorang Taoist terkenal, Lao-Tzu yang mengatakan bahwa seorang pemimpin dikatakan baik ketika apa yang dilakukannya membuat rakyatnya selalu merasa sedang merawat diri sendiri.

Mengikuti Pemutaran Trail Dokumenter

Di salah satu teater tempat para penonton menyaksikan film ini, acara dimulai dengan kata pengantar oleh Bart Jones, seorang jurnalis dan pengarang “Hugo!: The Hugo Chavez Story from Mud Hut to Perpetual Revolution.” Jones menyebutkan Simon Bolivar sebagai cahaya penerang bagi kawasan dan pergerakan, dan menemukan salah satu sumber korupsi modern di Venezuela sampai sekitar tahun 1920 – ketika sumber minyak pertama kali ditemukan. Jones berpengalaman sekitar 8 tahun sebagai koresponden asing untuk AP dan tinggal di Venezuela ketika menyelesaikan bukunya.

“South of The Border” ditulis oleh Tariq Ali dan Mark Weisbrot, jadi anda dapat mengeksplor banyak hal dari para penulis ini untuk mempelajari banyak hal. Di film ini, Tariq Ali menyatakan kekhawatirannya bahwa populasi Hispanik di Amerika Serikat akhirnya akan terpengaruh dengan apa yang sedang terjadi di Amerika Latin.

Singkatnya, apa yang ditampilkan oleh Oliver Stone telah memberikan sisi menarik dan menjanjikan dari kawasan Amerika Latin, dan mungkin lebih banyak lagi hal lain yang lebih menjanjikan untuk dieksplorasi. Beberapa mungkin berpikir bahwa film ini hanyalah bantahan sederhana terhadap propaganda media-politisi-korporat terhadap pemimpin-pemimpin di Amerika Latin. Di satu sisi, betul, saya (red:pengulas) berpikir film ini adalah bantahan penting dan positif, memberi pelajaran penting bagi masyarakat di luar kawasan untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi di kawasan Amerika Latin. Chavez kita hargai karena telah “membantu” banyak orang keluar dari jurang kemiskinan, meski masih begitu banyak hal yang mesti dilakukan untuk tetap berada digaris ini. Mengurangi angka kriminalitas adalah salah satu aspek penting untuk diperhatikan, menurut Jones.

Wawancara dan keseluruhan film dokumenter ini lebih penting dari sekedar tema seputar baik vs jahat (good vs evil), karena para penonton, sebagai saksi, bebas menentukan keputusannya masing-masing. Sepertinya kata-kata sedang terucap ketika memperhatikan bahasa tubuh dan ekspresi wajah dari penonton, seseorang bisa merasakan kesan langsung yang biasanya didapatkan hanya melalui kerasnya pengeras suara. “South of the Border” pasti akan memberimu sesuatu untuk dikunyah.

Catatan:

  1. “The Secret Destiny of America” Oleh Manly P. Hall, termasuk kutipan dari Simon Bolivar, oleh Gerard Masur
  2. “”Bolivia hosts alternative summit on people and Mother Earth” oleh W.T. Whitney Jr.

*) Artikel ini sudah dimuat sebelumnya di http://axisoflogic.com/artman/publish/Article_61299.shtml

**) Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Zulkhair Burhan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut