REDFLAG: Penjajahan Masih Berlangsung, Yo Bangkit Melawan!

Marilah kawan yo bangkit bersama
Rebut hakmu yang dirampas
Jangan biarkan mereka menjarah
keringat petani di desa..
Hey kau yang terlelap bangunlah segera
Singsingkan lengan bajumu
Jangan biarkan mereka menghisap keringat
Buruh di pabrik kota

Itulah dua bait lagu Tidur Jangan ciptaan Dompak. Dia adalah pentolan band bergenre reggae, REDFLAG. Sabtu (7/12) malam, REDFLAG kembali mengalunkan lagu itu di sebuah panggung-mini di kantor KPP-PRD, di Tebet, Jakarta Selatan.

“Saya kira, penjajahan sampai sekarang masih berlangsung. Tetapi dengan bentuknya yang lebih halus. Kita jangan tidur, yo kita bangkit melawannya,” kata Dompak sesaat sebelum memulai memetik gitarnya dan melantunkan lagu Tidur Jangan.

Tidur Jangan adalah lagu ajakan untuk berlawan. Di sini, Dompak mengajak kaum muda untuk tidak diam ketika proses penindasan berlangsung di depan pelupuk mata. Diam berarti tidur alias terlelap. Sementara, bagi Dompak, tak mungkin terjadi perubahan tanpa ada perjuangan. “Tidak ada perjuangan yang sia-sia,” kata Dompak.

Dompak yakin, musik bisa menjadi salah satu sarana untuk membangunkan massa yang sedang terlelap tidur. Baginya, dengan kekuatan lirik dan irama, musik bisa menyentuh ke pedalaman hati manusia. Jika liriknya cukup kuat dan menyadarkan, maka si pendengar musik bisa tergugat dan tergerak.

Hal itulah yang membuatnya memilih musik sebagai senjata. Pada tahun 2004, Dompak bersama kawan-kawan sekampusnya membentuk REDFLAG. Band ini sengaja memilih genre reggae. Sebab, reggae sendiri sarat dengan nuansa perlawanan. Personil awal REDFLAG adalah Dompak (vokalis/gitar), Richard Simare mare (lead), Epe (Bass), dan Zai (drum).

Perjalanan REDFLAG sendiri tidak mulus. Dua hari sebelum lauching album pertama mereka, Kalo Ditindas Ya Melawan..!!, REDFLAG kehilangan drumer mereka, Zai. “Ia ditabrak lari dua hari menjelang launching album kami,” kenangnya.

Tetapi perjalanan REDFLAG tidak terhenti. Sejak itu mereka mulai mengisi berbagai panggung-panggung seni kerakyatan. Mereka tak jarang tampil di tengah-tengah aksi massa, seperti peringatan Hari Buruh Sedunia.

Kemudian, pada tahun 2011 lalu, REDFLAG melahirkan formasi baru: Dompax (Gitar + Vocal), Ricky Ompong (Bass), Tile (keyboard), Rangga (Lead), dan Qiwil (Perkusi). Di tahun itu juga REDFLAG melahirkan album keduanya yang bertajuk “RESIST”.

Tadi malam, dalam acara bertajuk “Satu Jam Bersama REDFLAG”, mereka melantunkan 8 lagu, seperti Nyanyi Budaya Pembebasan, Fight For Socialism, Tidur Jangan, Suara Buruh, Berjuanglah, Hentikan, Resist, dan Redemption Song. Dan semalam REDFLAG tampil dengan formasi baru: Dompak (Gitar + Vokal), Utha (Melodi gitar), Rama (Bass), dan Cholis (Khajon).

Semua lagu-lagu REDFLAG kental dengan lirik-lirik yang politis. Selain pemihakan terhadap yang lemah, terutama kaum buruh, tani, dan rakyat miskin kota, lirik-lirik REDFLAG juga memperlihatkan keberpihakan ideologis: sosialisme. Dan REDFLAG terang-terangan memanifestokan We Fight For Socialism!

Ciri lirik-lirik lagu-lagu REDFLAG adalah protes terhadap keadaan. Tak heran banyak yang mengkategorikan lagu-lagu REDFLAG sebagai lagu-lagu protes. Ini nampak pada lagu G/28/S/TNI. Lagu ini merupakan protes terhadap kebrutalan TNI saat menghadapi aksi protes mahasiswa di Bandar Lampung, tanggal 28 September 1999. Saat itu mahasiswa sedang memprotes RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB).

Nuansa protes juga sangat kental pada lagu Hentikan…! Lagu ini diciptakan saat isu skandal Bank Century sedang menguat. Hentikan…! merupakan gugatan terhadap praktek korupsi yang makin merajalela di Republik ini.

Tadi malam, REDFLAG juga berkolaborasi dengan musisi kerakyatan, Sahat Tarida. Mereka melantunkan dua lagu: Senyum dan Indonesia, Bangkit Mandiri. Di bagian akhir, Sahat menyanyi solo lagu berjudul Barisan Ibu.

Untuk diketahui, Dompak juga tergabung dalam Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), organisasi seniman kerakyatan yang berdiri di tahun 1993. Organisasi ini memang berada di gerbong kesenian yang mengusung panji-panji “Seni untuk Rakyat”.

Dalam acara Satu Jam Bersama REDFLAG, hadir pula anak-anak dari kayu manis. Juga hadir, meskipun agak telat, para petani Ogan Ilir, Sumatera Selatan, yang selama 27 hari melakukan aksi jalan kaki (long march) dari kampung halamannya ke Jakarta untuk menuntut hak-haknya yang diinjak-injak oleh perusahaan negara (PTPN VII).

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut