Ratusan Petani Mengikuti Pendidikan Anggota PRD

Matahari belum terlalalu tinggi. Balai Kampung Sendang Ayu, Lampung Tengah, tampak ramai sekali. Hari itu, Minggu, 27 Februari 2010, ratusan petani sudah berkumpul dan bersiap-siap untuk mengikuti pendidikan anggota Partai Rakyat Demokratik.

Biasanya balai kampung ini dipergunakan untuk hajatan pemerintah desa, tetapi kali ini kaum tani-lah yang mempergunakannya. Mereka sudah berkumpul sejak pagi hari, sekitar pukul 10.00 WIB.

Para petani ini berasal dari sejumlah kampung, diantaranya: Sendang ayu yang mengirimkan 63 orang peserta, kampung Surabaya dengan 34 peserta, dan Padang ratu dengan 15 orang peserta.

Sempat Dihambat

Pendidikan anggota PRD ini sempat tidak mendapat ijin. Kepala kampung menolak pendidikan tersebut digelar di balai kampung. Dalam fikiran mereka, PRD merupakan partai berbahaya.

Menghadapi persoalan ini, aktivis PRD lampung tengah pun berusaha memberi penjelasan. Tidak hanya itu, beberapa panitia juga berusaha menghubungi pihak kepolisian dan meminta surat ijin.

“Surat ijin dari kepolisian berhasil kami dapatkan. Pihak kepala kampung pun tidak mempersoalkan pendidikan ini,” kata Hamid Tohari, aktivis PRD yang menangani persoalan pendidikan.

Akhirnya, setelah mendapatkan surat ijin secara resmi, maka pendidikan pun bisa dilangsungkan dengan tenang. Bahkan perwakilan kepala kampung dan anggota kepolisian juga turut menghadiri pendidikan ini.

Pancasila dan Anti-Imperialisme

Sebelum acara pendidikan dimulai, pengurus PRD Lampung Tengah memberikan sambutan dan mengucapkan selamat bergabung kepada para petani.

Sesudah Muhammad Taifur, Ketua carateker KPK PRD Lampung tengah, memberikan sambutan dan membuka acara ini, panitia memberikan kesempatan kepada kepala Kampung Sendang Ayu, Sunatro, untuk memberi sambutan.

“Pendidikan politik semacam ini sangat berguna. PRD harus rajin memberikan pendidikan kepada warga kampung. Maklum, sebagian besar warga di sini sangat buta terhadap politik,” kata pak Sunarto dengan suara pelan.

Pihak kepolisian juga diberi kesempatan memberi sambutan, tetapi hanya menjelaskan tugasnya sebagai penjaga keamanan.

Pendidikan anggota pun dimulai. Tiga materi diturunkan dalam pendidikan kali ini, yaitu: problematika rakyat Indonesia, Manifesto PRD, dan Pancasila dan Pemikiran Bung Karno.

Saat pemateri menjelaskan problematika rakyat Indonesia, ratusan petani ini pun kelihatan terperangah begitu mengetahui bahwa hampir seluruh sumber daya alam sudah dikuasai asing.

“Kita sudah hampir 100% menjadi bangsa kuli. Segala sesuatunya digantungkan kepada pihak asing,” ujar seorang petani bernama Pak Marhab untuk menanggapi materi itu.

Diskusi selanjutnya, tentang manifesto PRD, disampaikan langsung oleh Ahmad Muslimin, kepala biro organisasi dan administrasi KPW PRD Lampung. “manifesto ini menjelaskan soal problem pokok rakyat Indonesia, siapa musuh dan siapa kawan dalam perjuangan sekarang ini, dan bagaimana mencapai sosialisme Indonesia,” katanya membuka diskusi.

Pada sesi terakhir, deputi pendidikan dan kaderisasi KPW PRD Lampung, Jhoni Fadli, membawakan materi Pancasila dan fikiran Bung Karno.

Jhoni Fadli memulai materi dengan nada pelan. “Pancasila sekarang menjadi azas PRD. sementara fikiran-fikiran Bung Karno banyak mempengaruhi teori-teori perjuangan PRD untuk mencapai cita-cita penghapusan penindasan manusia atas manusia serta penindasan bangsa atas bangsa,” katanya.

Hari menjelang malam. Tiga materi telah tuntas dibahas oleh peserta pendidikan. Peserta pun berkemas-kemas untuk kembali ke kampung masing-masing.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: