Rapat Umum Pemuda Kota Kupang: Keroncong, Reggae, Mars dan Himne di antara Parade Pidato Politik

Sejak pukul 16.00 WIT,  Sabtu, 29 Oktober 2011, di taman Nostalgia Kupang, Nusa Tenggara Timur, sudah berkumpul seratusan orang. Mereka umumnya mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi di Kota Kupang. Di tengah taman, tampak baliho sedang terpajang. Ada gambar Soekarno sedang berpidato, dan beberapa baris tulisan “Gerakan Pasal 33: Hentikan Neoliberalisme, Kembalikan Bumi, Air, dan Kekayaan Alam Nusantara untuk Kemakmuran dan Kesejahteraan Rakyat.” Di sisi kiri baliho, tampak sekelompok anak muda sedang check sound alat musik mereka.

Sekitar pukul 17.00 WIT, Rapat Umum Pemuda baru mau dimulai, tetapi tiba-tiba listrik padam. “Padam di hampir seluruh wilayah Kota Kupang, kami tidak tahu kenapa beban tiba-tiba menjadi sangat besar,” kata perempuan petugas penerima pengaduan PLN di telepon.

Menjelang pukul 18.00 listrik tak kunjung menyala. Para pemuda mulai cemas. Apalagi ketika di beberapa bagian kota, listrik telah kembali hidup. “Pemadaman kali ini tidak normal,” seru beberapa orang di sana. Maka panitia mencoba mencari alternatif pinjaman genset. Tetapi genset hanya untuk pengeras suara dan alat-alat musik. Bagaimana dengan lampu-lampu?

Lalu, sekitar pukul 19, sebagian peserta, terutama yang perempuan, mulai meninggalkan taman Nostalgia. Mereka cemas tak bisa pulang jika kemalaman. Maklum, metromini di Kupang hanya sampai jam 8 malam, sementara taxi terlampau mahal, jauh dekat Rp 25ribu, dan ojek dianggap tak cukup aman buat mereka. Mengantisipasi kondisi bertambah buruk,  Yondris,  ketua Panitia, kembali menelepon PLN, “Jika 15 menit lagi listrik di taman Nostalgia tak kunjung menyala, kami akan pindahkan acara rapat umum pemuda menjadi aksi pendudukan kantor PLN malam ini juga!”

Akhirnya, sekitar 19.30 WIT, listrik akhirnya sudah menyala. Sebuah suguhan lagu berirama keroncong membuka Rapat Umum Pemuda Kota Kupang. Para aktivis pemuda tampak segera “masuk” dalam suasana acara. Begitu pula masyarakat yang mengunjungi Taman Nostalgia untuk sekedar datang menikmati malam. Irama keroncong dan alunan suara eksotis Caselia Seno berhasil menggerakan orang-orang datang mendekati panggung.

“Mereka adalah mahasiswa Sendratasik Universitas Widya Mandira Kupang. Mereka nafas baru buat Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat di Kupang,” demikian Caster Seno, Ketua EW LMND NTT memperkenalkan para seniman itu kepada Berdikarionline.

Para aktivis sendiri hanya sekitar 70an orang, tetapi jika ditambah pengunjung Taman Nostalgia, ada sekitar 300an orang yang tampak menikmati dan menyimak sungguh-sungguh berbagai pidato politik yang disampaikan malam itu.

Parade orasi, Puisi dan Lagu Perjuangan

Silih berganti, perwakilan organisasi-organisasi yang hadir: PRD, LMND, Sema FKIP Unwira, BEM Politani, BEM Politeknik, Forum Komunikasi Mahasiswa Politeknik se-Indonesia (FKMP) NTT, PMKRI, dan SRMI. Ada pula orasi dari politisi muda, seperti Dalton Ndolu (DPC PAN Kota Kupang), Buce Brikmar (DPW PKB NTT), dan Gregorius Dala (KPW PRD NTT).

Kris Koten, Ketua Serikat Tani Flores Timur (STF), seorang petani yang pernah menjadi TKI selama 28 tahun di Malaysia, dalam orasinya menuntut tanggungjawab pemuda dalam pembangunan organisasi petani. “Kebijakan pemerintah telah mengusir kaum tani dari lahannya sendiri. Saatnya kaum muda turun ke desa-desa, menyadarkan rakyat, melibatkan mereka dalam perjuangan. Selama ini rakyat di desa apolitis karena mereka dibiarkan bodoh,” serunya.

Berbagai pidato bersemangat itu diselingi suguhan lagu-lagu perjuangan berirama reage, keroncong, dan mars dari Jakker-Sendratasik Unwira. Ada juga pembacaan puisi luar biasa dari BEM Polteknik, serta musikalisasi Pamflet Anak Negeri oleh Are Peskim dan Jaker.

Ada benang merah tebal yang menjalis semua pidato yang disampaikan: keyakinan bahwa pelaksanaan pasal 33 UUD 1945 adalah kunci kesejahteraan, keadilan, kedaulatan bangsa; dan bahwa hal ini tidak bisa dilaksanakan di bawah pemerintah Yudyoyono yang merupakan antek-imperialis. Konsekuensinya, pemerintahan Yudhoyono harus segera diakhiri.

Menjelang pukul 21.30 WIT Rapat Umum Pemuda Kota Kupang ditutup dengan mengheningkan cipta diiringi lagu Gugur Bunga sekaligus mengenang Subandi Rewang, seorang pahlawan rakyat yang meninggal sore itu di Solo, Jawa Tengah.***

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut