Rakyat Venezuela Turun Ke Jalan Untuk Dukung Chavez

Kemarin, 10 Januari 2013, dijadwalkan sebagai hari pelantikan Hugo Chavez sebagai Presiden Venezuela untuk periode 2013-2019. Namun, karena Chavez masih menjalani perawatan pasca operasi di Havana, Kuba, pemerintah Venezuela dan Majelis Nasional memutuskan untuk melakukan acara pengambilan sumpah itu di lain waktu.

Tetapi ketidakhadiran Chavez itu tetap memicu kontroversi di kalangan oposisi. Bagi pihak oposisi, Chavez tidak bisa melanjutkan kekuasaan jikalau tidak menghadiri proses pelantikan sesuai jadwal.

Seiring dengan itu, pihak oposisi juga terus melancarkan propaganda tentang “kekosongan kekuasaan” (Vacuum of Power) di Venezuela. Mereka juga membuat informasi menyesatkan soal kondisi kesehatan Chavez.

Menghadapi manuver oposisi, pemerintah Venezuela menyerukan mobilisasi umum pada hari pelantikan, 10 Januari 2013, yang dipusatkan di depan Istana Kepresidenan Miraflores, di Caracas.

Menanggapi seruan itu, sejak pagi hari kota Caracas, Ibukota Venezuela, telah dibanjiri oleh ratusan ribu massa rakyat. Sebagian besar mengenakan kaos dan jaket merah.

Hingga siang hari, depan istana Miraflores tampak seperti lautan merah, dengan bendera dan spanduk, plus bunyi klakson dan vuvuzela.

Selain membawa bendera dan spanduk, massa juga membawa poster bergambar Presiden Hugo Chavez. Diantara poster-poster itu bertuliskan “Aku Chavez!” dan “Kami Semua adalah Chavez!”.

Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan sejumlah pejabat negara lainnya tiba di lokasi aksi menjelang sore hari. Tampak hadir pula pemimpin sejumlah negara Amerika Latin, seperti Presiden Bolivia Evo Morales, Presiden Nikaragua Daniel Ortega, Presiden Uruguay Jose Mujica, dan diplomat dari 27 negara amerika latin.

Selain itu, bekas Presiden Paraguay, Fernand0 Lugo, juga hadir di tengah massa rakyat dan memberikan pidato singkat. “Siapa bilang Presiden Chavez tidak hadir di sini? Dia ada di sini diantara kaum wanita, kaum buruh, kaum tani. Chavez bukan hanya milik Venezuela, tetapi milik seluruh Amerika Latin,” kata Fernando Lugo.

Presiden Bolivia Evo Morales juga menyampaikan pidato. Ia menekankan arti penting Chavez bagi persatuan Amerika Latin. Lalu, ia menyerukan mobilisasi besar-besaran di berbagai tempat untuk mendukung Presiden Hugo Chavez.

“Teman-temanku, keadaan suadara kami Hugo Chavez bukan hanya perhatian rakyat Venezuela, tapi semua yang menjadi bagian dari perjuangan ini. Penghargaan terbaik dan solidaritas untuk Chavez adalah persatuan. Mari kita menjaga persatuan di negeri kita,” kata Evo Morales.

Kehadiran dan dukungan pemerintahan negara-negara Amerika Latin turut mengukuhkan kekuasaan Chavez. Maklum, pihak oposisi terus memaksakan penafsiran “nyeleneh” terhadap konstitusi.

Bagi oposisi, kalau Hugo Chavez tidak diambil sumpahnya tanggal 10 Januari 2012, berarti ia tida berkuasa dan Venezuela mengalami situasi “kekosongan kekuasaan”.

Sementara bagi pemerintah dan Majelis Nasional, proses pengambilan sumpah hanyalah formalitas belaka. “Proses pengambilan sumpah itu bisa dilakukan kemudian kalau Presiden Chavez sudah pulih betul,” kata Wakil Presiden Nicolas Maduro.

Bagi pemerintah dan Majelis Nasional, satu hal yang tak bisa dianulir oleh formalitas yang dipaksakan oposisi adalah bahwa Chavez dipilih oleh rakyat Venezuela melalui pemilu demokratis tanggal 7 Oktober 2012 lalu.

“Jangan coba-coba mengangkangi suara rakyat dengan memanipulasi konstitusi,” kata Nicolas Maduro menanggapi tafsiran konstitusi oleh oposisi.

Dalam pidatonya di hadapan ratusan ribu rakyat di depan Istana Miraflores, Kamis (10/1), Nicolas Maduro mengatakan, “mereka (oposisi) berusaha memanipulasi dan secara oportunistik mengambil kesempatan dari keadaan Chavez saat ini untuk mengacaukan Venezuela.”

Nicolas Maduro menyerukan agar rakyat memperkuat mobilisasi massa untuk mengalahkan setiap upaya oposisi menghentikan proses revolusi. “Di sini kita siap melanjutkan revolusi kita. Jangan salah, ini adalah rakyat yang telah menunjukkan kekuatan mereka,” katanya.

Yang menarik dari aksi kemarin (10/1), rakyat Venezuela mengenakan kaos bertuliskan “Yo soy Chávez” (Aku Chavez). Kaos itu seakan hendak menanggapi tudingan banyak orang, terutama analis politik dari barat, tentang masa depan revolusi Venezuela tanpa Chavez.

Bagi Elias Jaua, bekas Wakil Presiden Venezuela, revolusi Venezuela tidaklah berpangkal pada satu orang, yakni Chavez, melainkan berpangkal pada sebuah gerakan yang disebut Chavismo atau Chavista.

Menurut dia, Chavista sebagai gerakan sudah muncul di akhir tahun 1980-an dan permulaan 1990-an. Chavista inilah yang menjadi energi dan sekaligus memagari revolusi, termasuk menyelamatkan revolusi dari kudeta tahun 2002.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut