PT. KAI Gusur Pedagang Stasiun Pos Duri

Ratusan pasukan gabungan TNI/mariner, brimob, dan polisi khusus kereta api (Polsuska) menggusur paksa ratusan pedagang di stasiun pos duri, Tambora, Jakarta Barat, Rabu (5/12).

Aksi penggusuran ini berlangsung sekitar 09.30 WIB. Melihat jumlah pasukan penggusur yang sangat banyak, pedagang pun hanya berusaha menyelamatkan barang-dagangan mereka.

Pada saat penggusuran berlangsung, akses jalan dari kampung sekitar ke stasiun ditutup oleh petugas keamanan. Sejumlah spanduk dan bendera organisasi pedagang juga diturunkan.

“PT.  Kereta Api Indonesia (KAI) telah bertindak sewenang-wenang dengan menggusur kami tanpa dialog dan memberikan solusi. Ini jelas-jelas melanggar pasal 27 ayat 2 UUD 1945,” kata Ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) DKI Jakarta, M Ajiono Setiono.

Menurut Aji, pihak PT. KAI seharusnya tidak bisa mengesampingkan fakta bahwa rakyat butuh pekerjaan untuk tetap bisa bertahan hidup. “Artinya, kalau alasannya ketertiban, maka solusinya mestinya penataan,” ujarnya.

Relokasi Ke Tempat Permanen

Sementara itu, merespon tindakan penggusuran sepihak oleh PT. KAI, pihak Pemda DKI Jakarta berjanji akan merelokasi pedagang yang tergusur ke jalan Kalianyar 10, Tambora, Jakarta Barat.

“Pemda DKI Jakarta akan membeli tanah di sekitar pasar karanganyar agar pedagang bisa berjualan secara permanen. Nanti juga rencananya akan dibangunkan tempat berjualan,” kata Ketua Umum SRMI, Wahida Baharuddin Upa, seusai berdialog dengan perwakilan Pemda DKI.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • yoga

    Saya salut untuk Pemprov DKI Jakarta yang baik dan pro rakyat. Itulah yang namanya damai. Sangat berbeda dengan PT KAI. Saya bukan menolak penggusuranya tapi cara penggusurannya. Saya mengutuk cara penggusuran PT KAI. Cara penggusuran PT KAI sangat sudah melanggar HAM. Pertama,PT KAI tidak memberi sosialisasi sebelum penggusuran. Keduam,menggunakan aparat keamanan bersenjata lengkap,militer yang bersenjata lengkap,preman bayaran,dan mengadu domba masyarakat dengan pedagang. Ketiga,minimarket dan cafe tidak ikut digusur. Hal ini menyebabkan kesenjangan sosial dan masalah2 sosial lainya.