PSSI Dan Perjuangan Anti-Kolonial

Pada tahun 1930-an, Soeratin dan kawan-kawan seperjuangannya telah memotori berdirinya organisasi sepak bola, yaitu Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI), yang diperuntukkan bagi perjuangan anti-kolonial. Dalam menjalankan perjuangan anti-kolonialnya, tidak jarang PSSI harus berseteru dengan perkumpulan sepak bola kolonial Belanda, Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB), bahkan seringkali terjadi aksi boikot pertandingan antara PSSI dan NIVB.

Kini, 80 tahun setelah peristiwa itu, giliran PSSI yang mulai digugat dan diboikot oleh sebagian masyarakat sepak bola Indonesia. Beberapa hari terakhir pun, masyarakat pencinta bola pun menyaksikan bagaimana pertikaian antara PSSI dengan Liga Primer Indonesia (LPI), sebuah kompetisi baru di luar kompetisi resmi milik PSSI, Liga Super Indonesia (LSI).

Bagi sebagian orang, terutama sekali masyarakat Indonesia yang merindukan prestasi sepak bola nasional, kemunculan LPI akan menjadi terobosan baru di tengah buruknya manajemen dan pengelolaan sepak bola di bawah PSSI. Salah satu klub sepak bola yang hengkang dari LSI, yaitu PSM Makassar, mengaku bahwa LPI lebih menggiurkan karena menjanjikan dana besar, profesionalisme, dan kejujuran.

Maklum, bercermin dari situasi di tubuh PSSI sekarang, ada banyak pihak yang merasa sangat kecewa. Ada banyak pihak yang beranggapan, bahwa keterpurukan sepak bola nasional disebabkan organisasi sepak bola yang amburadul, buruknya kompetisi, maraknya praktik kolusi dalam perekrutan pemain, dan korupsi di tubuh organisasi.

Sekarang ini, PSSI juga dipimpin oleh orang yang berkali-kali tersandung kasus korupsi, yaitu Nurdin Halik. Tidak sedikit poster dan kecaman yang ditujukan terhadap bekas pencuri dana simpan pinjam petani cengkeh (SWKP) sebesar Rp115,7 milyar ini, diantaranya: “Nurdin Mundur, Nurdin koruptor!”

Terkait maraknya praktik korupsi di tubuh PSSI, seorang wartawan Kompas, Anton Sanjoyo, pernah membeberkan beberapa dugaan korupsi di organisasi sepak bola nasional tersebut. Anton Sanyoto mengutip pernyataan dari Ketua Umum Persebaya Surabaya, Saleh Ismail Mukadar, yang terang-terangan menyatakan bahwa sepak bola di lingkungan PSSI, termasuk Liga Super Indonesia, sarat dengan suap dan pengaturan hasil. Nyaris semua manajer dan wasit pernah melakukan suap dan disuap.

Jika pada masa perjuangan kemerdekaan PSSI telah menjadi organisasi politik anti-kolonial, maka sekarang PSSI telah berubah menjadi “sarang koruptor”. Jika dulu orang-orang PSSI adalah para pejuang anti-kolonial, maka sekarang ini isinya kebanyakan orang-orang yang hendak mencari “fulus”.

Sejarah kelahiran sepak bola Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah perjuangan anti-kolonial. Karena itu pula, ajang kejuaraan sepak bola seringkali menjadi tempat untuk bergeloranya semangat nasionalisme. Bukankan Soeratin pernah berkata dengan sangat tepat: “Kalau di sepak bola kita bisa mengalahkan Belanda, kelak di lapangan politik pun kita bisa mengalahkan Belanda”.

Oleh karena itu, persoalannya bukan ikut “nimbrung” dalam pertikaian PSSI versus LPI, tetapi mendesakkan perombakan total terhadap PSSI. Sudah tiba saatnya mengembalikan PSSI sebagai organisasi politik anti-kolonial, dan juga dengan mengembalikan sepak-bola sebagai sarana perjuangan anti-kolonial.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • wawan

    k’lo g ngak ngaruh isl atw lpi yg penting nonton nya asik dan anti anarkis dan lebih profesional…