PRP: Krisis Pangan Akibat Kebijakan Neoliberal

Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) menilai krisis pangan akhir-akhir ini, termasuk kedelai, diakibatkan oleh kebijakan rezim neoliberal. Salah satu indikatornya adalah ketergantungan terhadap impor pangan.

“Pada tahun 2001 saja, data impor bahan pangan menyebutkan, gandum mencapai 3,5 juta ton, jagung, 1,2 juta ton, beras 2 juta ton, kedelai 1,2 juta ton, gula pasir 1,7 juta ton, yang keseluruhan menghabiskan devisa sebesar Rp 16,62 triliun. Ditambah impor buah-buahan sebanyak Rp 900 miliar,” kata Ketua Nasional PRP, Anwar Ma’ruf, dalam siaran persnya di Jakarta (26/7/2012).

Kebijakan impor pangan ini, kata Anwar Ma’ruf, sangatlah ironis sebab Indonesia merupakan negara agraris. Namun, pada kenyataannya, hampir semua kebutuhan pangan nasional dipenuhi melalui impor.

Anwar beranggapan, ketergantungan terhadap impor pangan dari luar negeri ini sebenarnya merupakan hasil kesepakatan antara rezim neoliberal di Indonesia dengan organisasi-organisasi neoliberal di dunia.

“Impor pangan terus meningkat sejak Indonesia menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organizations/WTO) dan menerapkan liberalisasi ekonomi atau perdagangan bebas melalui Agreement on Agriculture (AoA),” katanya.

Belum lagi, ungkap Anwar Ma’ruf,  Indonesia bergabung dalam Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA), baik secara regional maupun bilateral, yang akhirnya menghancurkan produk pangan di Indonesia, terlebih lagi kehidupan para petaninya.

Anwar juga menyoroti fakta bahwa negara dan rakyat Indonesia saat ini sudah tidak memiliki kedaulatan pangan. Maklum, kekuatan dalam mengatur produksi, distribusi, dan konsumsi di sektor pangan telah diserahkan ke mekanisme pasar yang dikuasai oleh para pemilik modal raksasa.

“Sebut saja seperti Badan Urusan Logistik (BULOG) yang telah dijadikan privat. Sedangkan industri hilir pangan hingga distribusinya (ekspor-impor) sudah dikuasai oleh perusahaan seperti Cargill dan Charoen Phokpand. Rakyat Indonesia hanya dijadikan sebagai para pekerja di sektor pangan atau sekedar konsumen saja,” kata Anwar Ma’ruf.

Untuk itu, PRP menyatakan bahwa rakyat pekerja di Indonesia penting untuk menggalang mosi tidak percaya terhadap rezim neoliberal yang berkuasa saat ini karena telah menghancurkan dan memiskinkan kehidupan seluruh rakyat pekerja di Indonesia.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut