Buku Tentang Kisah Hidup Dan Perjuangan Ribka Tjiptaning Diluncurkan

Di tengah jaman yang nihil “politisi pejuang”, akhirnya muncul juga sosok Ribka Tjiptaning Proletariyati. Ia dijuluki “Banteng Perempuan” oleh politisi senior PDI Perjuangan, Soetardjo Soerjogoeritno.

Mbak Ning—sapaan akrab Tjiptaning—punya andil besar dalam perjuangan menggulingkan rezim Soeharto. Akibatnya, ia pun berkali-kali menjadi penghuni jeruji rezim orde baru. Satu peristiwa yang tak terlupakan: saat ia ditahan di Mapolda Metro Jaya bersama bayinya yang baru berumur beberapa hari.

Sejarahwan LIPI, Asvi Warman Adam, menyebut kasus itu mirip dengan apa yang dialami oleh tokoh pejuang perempuan terkenal, SK Trimurti. “Ketika ditahan di Polda ia membawa bayinya untuk disusui. Sebelumnya, ia juga pernah ditangkap dalam keadaan hamil,” kata Asvi.

Itulah seuntai kisah perjuangan Mbak Ning yang dirajut menjadi sebuah buku berjudul “Menyusuri Jalan Perubahan”. Buku ini disusun berdasarkan wawancara dua orang aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), AJ Susmana dan Kelik Ismunanto, dengan Mbak Ning di sebuah Rumah Makan di Tebet, Jakarta Selatan.

Buku ini pula yang diluncurkan pada Kamis (26/7/2012) sore di bekas kantor DPP PDI Perjuangan, di jalan Diponegoro No 58, Jakarta Pusat. Ratusan orang hadir dalam acara peluncuran dan bedah buku tersebut.

Mbak Ning, yang saat ini menjabat sebagai anggota Komisi IX DPR RI , memberi sambutan mengenai buku baru tentang dirinya ini. Katanya, kisah perjalanan hidupnya jauh lebih berat dari kisah dalam film “Laskar Pelangi”. Untuk diketahui, sebagian kisah hidupnya itu sudah dipahatkan di buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI”.

Acara peluncuran buku ini diorganisir oleh aktivis SDI (Srikandi Demokrasi Indonesia). Sejumlah tokoh tampil sebagai pembedah buku ini, yaitu Asvi Warman Adam, Ikrar Nusa Bhakti, Ratna Sarumpaet, dan Zuhairi Misrawi.

Asvi banyak menyoroti soal peristiwa 27 Juli 1996. Maklum, sehari lagi peringatan peristiwa 27 Juli 1996 ke-16. Asvi membeberkan, fakta menunjukkan bahwa aparat keamanan berperan dalam penyerbuan kantor DPP PDI saat itu.

Sedangkan Ikrar Nusa Bhakti, menyoroti soal tidak relevannya tudingan-tudingan PKI sebagai atheis. Sebab, kata dia, tidak sedikit orang PKI yang juga beragama. Ia mencontohkan keberadaan PKI di Sumatera Barat.

Sedangkan Zuhairi Misrawi, yang juga pemikir muda Nahdlatul Ulama, menyebut Tjiptaning sebagai “Islam Kiri”. Pelabelan tersebut, kata Zuhairi, dikarenakan Tjiptaning merupakan seorang muslim yang berpihak pada rakyat.

Zuhairi juga menegaskan arti penting untuk memberi ruang bagi tumbuhnya berbagai ideologi dan aliran politik di Indonesia, termasuk komunisme. Baginya, komunisme juga punya pemikiran yang patut dihargai.

Sementara Ratna Sarumpaet lebih banyak menyoroti suasana Pilkada DKI dan berbagai persoalan bangsa. Ia berbicara tentang pentingnya mendorong agenda perubahan di negeri ini.

Buku “Menyusuri Jalan Perubahan” berisi 293 halaman. Selain merekam jejak hidup dan perjuangan Ribka Tjiptaning, buku ini juga mengulas berbagai persoalan bangsa saat ini. Salah satunya adalah soal praktek neokolonialisme saat ini.

Selain dihadiri oleh anggota PDI Perjuangan dan sahabat-sahabat Tjiptaning, acara peluncuran buku ini juga dihadiri oleh sejumlah warga tuna-rungu yang setia mendukung Jokowi-Ahok dalam pilkada DKI Jakarta.

Ulfa Ilyas

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut