PRD NTT Gelar Diskusi Bulanan Bertajuk “PRD NTT Bertanya”

received_1016549301711713

Diskusi bulanan yang digelar oleh Komite Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Demokratik (KPW PRD) Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan amanat dari keputusan kongres PRD ke-8 yakni PRD sebagai partai terbuka dan politik menggalang Persatuan Nasional untuk mewujudkan Republik Indonesia Keempat.

Demikian disampaikan oleh Sekertaris Wilayah Komite Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Demokratik (KPW – PRD) NTT, Rio Ello, saat memberi sambutan di diskusi bulanan PRD NTT di kantor PIKUL, di Kupang, NTT (01/08/2015).

Lebih lanjut Rio juga mengatakan, PRD menyadari bawah persatuan nasional berarti secara tulus melibatkan seluas-luasnya pihak didalam perjuangan mewujudkan Indonesia baru, yaitu Republik Indonesia Keempat atau Indonesia yang adil dan makmur.

“Pelibatan secara tulus bukan berarti mengajak pihak lain untuk bertindak dibawah bendera PRD, tetapi yang lebih penting adalah mendengarkan pandangan dan aspirasi kaum progresif di negeri ini agar diperoleh landasan dan tujuan berjuang yang sama,” tandasnya.

Karena itu, kata dia, dalam rangkaian diskusi bulanan yang digelar oleh PRD NTT itu, ada sesi yang diberi tajuk PRD NTT Bertanya. Dengan harapan, semakin banyak pihak yang akan memberikan sumbangan pemikiran, dan selanjutnya tenaga di dalam perjuangan bersama mewujudkan kesejahteraan rakyat dan kemakmuran bangsa.

Terkait tema diskusi PRD NTT Bertanya di Kantor PIKUL kali ini, yaitu Neoliberalisme dan Problem Ekologi, Rio menjelaskan, ada kenyataan yang tak terbantahkan bahwa kapitalisme yang berwatak anarkis dalam produksi menjadi sebab utama kerusakan alam di berbagai belahan dunia.

“Meskipun kapitalisme berdiri di atas klaim efisiensi demi pemanfaatan optimal sumber daya yang langka, kenyataannya dalam kapitalisme, sumber daya yang langka itu dieksploitasi secara anarkis,” jelasnya.

Diskusi PRD NTT Bertanya dipandu oleh Torry Kuswardono, Direktur PIKUL NTT. Diskusi dimulai dengan beberapa pertanyaan dan kemudian dibedah secara bersama. Torry selaku pemandu diskusi memulai dengan pengenalan mengenai ekonomi politik, feodalisme dan kapitalisme, proletarisasi.

Torry menjelaskan, neoliberalisme tidak ada apa- apanya jika kita tidak mempelajari apa itu kapitalisme. Kapitalisme bukan hanya sebuah paham atau isme. Kapitalisme adalah corak atau model produksi. Logika dari kapitalisme adalah eksploitasi.

“Yang dilakukan pertamakali oleh kapitalisme adalah mengkomoditifikasi tanah dan memisahkan produsen dari alat produksinya. Misalnya menaikan pajak tanah, pelepasan tanah dan penggusuran petani,” paparnya.

Pada tahap selanjutnya, kapitalisme akan mengubah para produsen tadi menjadi buruh-upahan. Inilah yang disebut sebagai proletarisasi, yang menandai kelahiran kapitalisme berbasis industri.

“Kapitalisme menjadi penyebab munculnya berbagai problem ekologi. Sebab, kapitalisme identik dengan eksploitasi dan juga perampasan. Selain itu, hal lain yang dilakukan kapitalisme untuk melanggengkan eksistensinya adalah dengan mengabaikan lingkungan,” terang dia.

Tory melanjutkan, untuk memaksimalkan akumulasi keuntungan, kapitalisme menekan biaya produksi, termasuk menghilangkan biaya lingkungan. Termasuk dalam proses pemberian analisis mengenai dampak lingkungan (amdal).

Dalam konteks NTT, ungkap dia, problem ekologis yang mengemuka secara spasial adalah tambang. Ada seratus lebih ijin pertambangan di NTT.

“Kapitalisme adalah penghancuran lewat eksploitasi, perampasan dan akumulasi. Sedangkan neoliberalisme adalah sarana untuk mempercepat proses akumulasi kapital,” tegasnya.

Diskusi ini diakhiri dengan ajakan kepada Torry Kuswardono untuk menjadi bagian dari Majelis Pertimbangan Partai Partai (MPP) PRD NTT.

Abi  Yerusa 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut