PRD Dan Cita-Cita Proklamasi 17 Agustus 1945

Tanggal 22 Juli kemarin, Partai Rakyat Demokratik (PRD) genap berusia 18 tahun. Sejumlah acara pun digelar untuk memperingati kelahiran partai berlambang bintang gerigi tersebut.

Di Jakarta, peringatan HUT PRD ke-18 berlangsung di kantor KPP-PRD di jalan Tebet Dalam II.G nomor 1 Jakarta Selatan. Peringatan yang berlangsung sederhana ini dihadiri oleh pengurus, kader, anggota, dan simpatisan PRD.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PRD Agus Jabo Priyono mengatakan, ketika dideklarasikan tanggal 22 Juli 1996, program perjuangan yang diusung oleh PRD adalah demokrasi multipartai kerakyatan.

“Saat itu, di bawah kediktatoran rezim Orde Baru, problem pokoknya adalah tidak ada demokrasi. Sehingga saat itu PRD memperjuangkan demokrasi multipartai kerakyatan,” ungkapnya.

Menurut Agus Jabo, demokrasi multipartai kerakyatan menghendaki demokrasi yang bertumpu pada kedaulatan rakyat. “Jadi, bukan sekedar demokrasi multipartai, tetapi harus mengandung aspek kerakyatan atau kedaulatan rakyat,” terangnya.

Sayangnya, kata Agus Jabo, setelah rezim Orde Baru berhasil ditumbangkan, agenda perjuangan demokrasi multipartai kerakyatan itu disabot sehingga sekedar menjadi demokrasi multipartai. Dalam perkembangan selanjutnya, demokrasi multipartai ini kemudian dibelokkan menjadi demokrasi liberal.

Lebih lanjut, Agus Jabo menjelaskan, demokrasi yang diperjuangkan PRD bukan hanya demokrasi politik, tetapi juga demokrasi di lapangan ekonomi. “Intinya, PRD ingin mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, yakni masyarakat adil dan makmur,” terangnya.

Menurut dia, kendati orde baru berhasil dirobohkan, lalu bangsa Indonesia mengalami situasi baru, tetapi ada hal esensial yang tidak berubah, yakni praktik neokolonialisme. Berbeda dengan era Orba yang menggunakan kediktatoran, praktik neokolonialisme di bawah situasi baru ini menggunakan jubah “neoliberalisme”, yang mendorong liberalisasi politik dan ekonomi.

“Inilah yang dibaca di Kongres ke VII PRD, bahwa problem pokok bangsa Indonesia saat ini adalah imperialisme. Dan untuk melawannya, harus menggunakan alat politik berupa persatuan nasional,” katanya.

Dalam kerangka melawan imperialisme itu, terutama di lapangan ekonomi, PRD kemudian mengusung program tuntutan “Laksanakan Pasal 33 UUD 1945” dengan memobilisasi massa rakyat untuk merebut kembali bumi, air atau kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dari tangan imperialisme.

Terkait pemerintahan baru hasil Pilpres 2014, Agus Jabo menjelaskan posisi politik PRD. “Kalau pemerintahan baru berani melawan imperialisme dan mau memperjuangkan cita-cita Proklamasi, maka PRD akan mendukung secara programatik. Sebaliknya, kalau pemerintahan baru menghianati cita-cita Proklamasi, maka PRD akan menjadi oposisi bersama massa rakyat,” tegasnya.

Sementara itu, mantan Sekretaris Jenderal KPP-PRD, Ida Nasim Mh, mengajak kader-kader PRD yang berserakan di berbagai partai politik dan di tempat lain untuk berkumpul dan membangun kembali PRD.

Menurut dia, berdasarkan pengamatan dan pengalamannya bekerja di partai-partai-partai besar, mantan kader-kader PRD sangat berkualitas dan diperhitungkan.

Di bagian lain, Web Warouw, salah seorang pendiri PRD, berbicara tentang keharusan PRD untuk tampil dan menunjukkan kepeloporannya dalam situasi sekarang ini.

Ia menuturkan, banyak seruan PRD selama 18 tahun ini, seperti seruan agar rakyat untuk berorganisasi, sekarang sudah dilakukan sendiri oleh rakyat. Propaganda-propaganda PRD, seperti kemandirian nasional, juga mulai diadopsi oleh berbagai spektrum politik. Tak hanya itu, cara-cara perjuangan PRD juga mulai banyak diadopsi oleh kekuatan lain.

“PRD harus tampil memimpin di depan. Karena dua elit yang bertarung di Pilpres tidak bisa menunjukkan jalan bagi rakyat Indonesia. Hanya PRD yang bisa menunjukkan jalan bagi pembebasan rakyat,” ujarnya.

Acara peringatan HUT PRD ke-18 di KPP PRD ini ditutup dengan pembacaan surat dari Eva Bande untuk PRD. Untuk diketahui, Eva Bande adalah seorang pejuang agraria yang kini mendekam di penjara karena aktivitasnya membela kaum tani dan rakyat tertindas. Surat Eva Bande ini dibacakan oleh Ulfa Ilyas.

Peringatan HUT PRD ke-18 juga berlangsung di kota-kota lain, seperti Tuban, Pematangsiantar, Palembang, Palu, dan lain-lain.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut