Pokok-Pokok Masalah Realisme Dewasa Ini

Setelah 65 tahun kemerdekaan Indonesia yang dihasilkan oleh Revolusi Agustus 1945, realitas apa yang kita lihat? JAKER telah mengemas event Festival Kemerdekaan 2010 ini, memberi kesempatan kepada kita untuk menjawabnya. Disini kita mencoba menelusuri dilapangan kebudayaan, terutama khususnya terkait dari segi bidang senirupa. Sesuai dengan judul yang ditetapkan Panitia, realitas tersebut diatas terkaca lewat realisme yang berkembang hingga dewasa ini.Masalah ini dapat kita simak, melalui beberapa pokok pikiran yang terbentang dibawah ini.

Dari segi sejarah kita mengenal realisme sebagai aliran gaya pengucapan seni, sejak zaman Yunani kuno. Bahkan sebagai tanda-tanda awal (embriyo) sudah ditemukan di gua Altamira (Spanyol), pelukisan artefak secara realistis yang bersifat figuratif dilakukan oleh orang-orang primitif, menggambarkan tentang perburuan. Lantas dalam tahap perkembangannya , realisme semakin memperoleh pencerahan dimasa-masa Renaisance. Dan kemudian, realisme lebih dipertegas manfaatnya diabad ke-19 di Perancis sebagai media apresiasi massa , terutama dalam mengangkat peran kemanusiaan (humanisme) dari kaum buruh dan tani, dimanifestasikan dalam gagasan yang di pelopori pelukis realis Courbert dan Millet.

Di Indonesia, pelukis Raden Saleh adalah merupakan perintis pertama membawakan realisme selaku alat atau senjata perjuangan untuk kebebasan dari penjajahan kolonialisme Belanda. Selanjutnya diteruskan oleh kelompok PERSAGI       dengan tokoh-tokohnya antara lain S.Sudjojono, Agus Djaja, Suromo, Abdul Salam dan Setiyoso. Setelah masa Kebangkitan Nasional, diawali dengan berhimpunnya para pejuang melalui partai-partai, kelompok PERSAGI dengan tegas menggunakan senirupa dengan realismenya sebagai senjata perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Juga mereka melakukan revolusi dalam bentuk deformasi gaya bahasa visual senirupa, dimana sebelumnya terutama dimasa-masa selama kolonial dikuasai oleh aliran naturalisme turistis Mooi Indie, dirombak total dengan realisme sosial yang mengabdi kepada pembebasan dari penjajahan. Maka pada masa-masa perjuangan bersenjata dari Revolusi Agustus 1945 menjelang kemenangan terakhir, PERSAGI semakin merebak diikuti oleh seniman-seniman patriotik lainnya seperti Affandi, Hendra Gunawan, Soedarso, Trubus, Rusli,Dullah dan lain-lain. Sebelum nanti di zaman penjajahan Jepang PERSAGI dibubarkan.

Di era Perang Dingin, seiring dengan usainya Perang Dunia ke-II plus setelah tercapainya Kemerdekaan Indonesia,walaupun dalam nuansa Revolusi Agustus 1945 belum selesai, terjadi dikotomi pergulatan baru antara kubu paham Kapitalisme dan Sosialisme. Bahkan nanti Bung Karno setelah menciptakan Manipol Usdek mendramatisir dikotomi ini menjadi NEFOS kontra OLDEFOS, dalam arti sosialisme diperkuat lagi dengan gerakan negeri-negeri yang sedang berkembang yang terhimpun di benua Asia,Afrika dan Amerika Latin. Bahkan Bung Karno menjadikan Inonesia sebagai sumbu mercu suar dari gerakan revolusioner dunia. Dilapangan kebudayaan, khususnya dibidang senirupa,  realisme telah menancapkan eksistensinya sebagai aliran yang paling patriotik, karena telah berhasil memberikan kontribusinya dalam memenangkan kemerdekaan melalui karya-karya epos perjuangan.Namun kaum reaksioner,  terutama dibenggoli oleh peran kaum Manikebuis sebagai kaki tangan Imprialisme ditanah air, dengan produk seni abstraknya berusaha menjegal dimana-mana, yang menuduh realisme LEKRA merupakan realisme sosialis duplikat produk Uni Sovyet dan RRT. Bahkan mereka menandai secara tajam sanggar BUMI TARUNG selaku sanggar paling radikal, merupakan  barisan terdepan pembela realisme sosialis.

Realisme Sosialis, padahal ketika itu masuk ke Indonesia hanya sebagai wacana untuk memperkenalkan aliran tersebut sebagai produk negara sosialis. Lewat tulisan para sastrawan LEKRA seperti antara lain Pramudya Ananta Toer dan A.S Dharta.  Hanya berguna untuk pengetahuan dan pembanding semata-mata. Tidak ada maksud dan upaya untuk diterapkan oleh para seniman LEKRA, karena realisme sosialis merupakan aliran senirupa buat para seniman di negara-negara sosialis. Tidak cocok dan bukan rasukannya bagi realisme Indonesia sebagai senjata pamungkas untuk memenangkan Revolusi Agustus 1945 yang belum selesai. Ketimbang dengan sistem sosialisme yang masih jauh panggang dari api. Sesuai apa yang dikatakan Lenin bahwa seni adalah repleksi dari kehidupan. Atau seni merupakan kaca pembesar dari zaman beserta tantangannya kata Maxim Gorky.

Sehingga realisme yang berkembang dikalangan seniman-seniman kiri yang  patriotik, adalah realisme sosial yang mengandung kritik sosial, dimana kebanyakan

aliran tersebut mewarnai karya-karya sanggar PELUKIS RAKYAT,mewarisi realisme yang biasa dibawakan para pelukis PERSAGI.dalam perjuangan kemerdekaan. Sedangkan sanggar BUMI TARUNG membawakan realisme revolusioner dalam senirupa perlawanannya untuk membela kaum buruh dan tani dari penindasan feodalisme dan kapitalisme.

Realisme Revolusioner merupakan suatu aliran realisme yang banyak dikembangkan disekitar tahun 1960-1965, ketika setelah penyerahan kedaulatan melalui sidang konferensi Meja Bundar, ternyata membuat para pejuang patriotik tidak puas,dimana mereka menganggap bahwa Revolusi Agustus 1945 belum selesai. Bahkan ada sebagian mengatakan gagal. Memang tatkala Perang Dingin  berkenyamuk, seiring dengan gelombang pasang gerakan revolusioner melawan imperialisme,para seniman patriotik semakin bersemangat mengobarkan realisme sebagai media atau senjata perlawanan dalam menyelesaikan Revolusi Agustus 19 45. Disini sanggar BUMI TARUNG lebih banyak berperan aktif membawakan realisme revolusioner dalam karya-karyanya, selaku garda terdepan.Namun sebaliknya kaum imperialis sejak awal tahun 60-an, melalui Sticusa dan BMKN menyalurkan pengaruh perangkat kebudayaan Barat untuk mencekoki kaum intelektual elit yang banyak bersarang dikalangan Manikebu. Dari merekalah yang bertanggung jawab atas kelahiran senirupa contemporer, yang berbasiskan seni abstrak.

Di Era Orde Baru, pasca tragedi Nasional 1965, segala macam jenis realisme produk LEKRA tergusur. Sedangkan yang tinggal berdominasi dalam khazanah senirupa Indonesia, adalah trend seni abstrak sebagai satu-satunya isme yang menjadi primadona. Seiring dengan masa pasang ekonomi Kapitalisme dan Demokrasi Liberal diadopsi oleh pemerintahan rezim Orde Baru, dimana modal asing dan bantuan Bank Dunia ,IGGI dll membeludak tanpa kendali.Tapi lama kelamaan rezim Orde Baru tanpa terhindarkan, pada gilirannya mendapat tantangan reaksi dari ketidak puasan Rakyat, terutama dikalangan mahasiswa. Sejak peristiwa Malari (1974) dan seterusnya, terjadi gerakan oposisi dari perlawanan mahasiswa terhadap rezim Orde Baru. Para saat-saat inilah mulai timbul lagi aliran realisme dari ketenggelamannya Realisme Yogya yang terdiri para pelukis mahasiswa ASRI dengan berselubung Surealisme, samar-samar mulai melontarkan kritik-kritik sosial terhadap ketidakadilan Orde Baru, lewat karya-karyanya. Seterusnya lebih dipertegas lagi dengan penuh keberanian oleh pelukis muda revolusioner Semsar Siahaan dan Taring Padi. Mereka tanpa tedeng aling-aling kembali mengangkat realisme tulen seperti yang pernah dibawakan LEKRA.

Di Era Reformasi hingga sekarang,setelah runtuhnya rezim Orde Baru, realisme semakin berkibar dan berkembang pesat. Ini menandakan realisme dalam sejarah tidak pernah lapuk dimakan zaman. Namun wujudnya terkristalisasi oleh pengaruh globalisasi yang mengusung kecanggihan tehnologi dan informasi. Dan sesungguhnya globalisasi adalah wajah baru yang tampak lebih menarik menyelubungi imperialisme yang dulu tampil lebih beringas. Disini senirupa contemporer dijulangkan ditengah pasar bebas masyarakat demokrasi liberal oleh para kapitalis multi nasional sebagai sponsor, dari New York, London, Singapore, Tokyo hingga Beijing. Jika dulu senirupa contemporer mengandalkan trend seni abstrak sebagai primadona, sekarang mereka juga memanfaatkan realisme yang diisi dengan tema-tema yang absurd, penuh misteri, dan pelecehan dan plesetan atas sistem sosialisme dan tokoh-tokoh mitos pejuang revolusioner dunia. Ini bisa kita buktikan dari karya-karya pelukis muda China sekarang,yang mencerminkan negara mereka sekarang mengadopsi kapitalisme dan demokrasi liberal, sedikit atau banyak. Disamping sejak Andy Warhol dan kawan-kawan menemukan pop-art suatu aliran yang juga bebasis realisme fotografis, lebih banyak dikembangkan sebagai iklan propaganda biznis kapitalisme.

*) Penulis adalah salah satu pendiri Sanggar Bumi Tarung.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut