Petani Pulau Padang Gelar Rapat Akbar Menentang Operasional PT.RAPP

Sedikitnya 800 orang petani Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti, menggelar rapat akbar di sebuah lapangan sepak bola di desa Mengkirau, siang tadi (29/6). Rapat akbar ini melibatkan petani dari delapan desa, yaitu: Lukit, Meranti Bunting, Pelantai, Mekarsari, Teluk Belitung, Bagan melibur, mengkirau, dan Tj.Padang.

Sutarno, sekretaris Serikat Tani Riau (STR) Kepulauan Meranti, menjelaskan bahwa rapat akbar itu dimaksudkan untuk merespon perkembangan situasi di pulau padang, yakni ancaman perampasan tanah rakyat dan pengrusakan lingkungan akibat beroperasinya PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Menurut Sutarno, operasional PT.RAPP sudah menjalar di tiga titik di pulau Padang, dan bersamaan dengan aktivitas itu, telah terjadi pencaplokan kebun-kebun milik masyarakat setempat.

Selain itu, kata Sutarno, rapat akbar ini juga mensosialisasikan hasil klarifikasi pihak Polda Riau terkait penculikan dan penangkapan paksa tiga orang petani pulau padang. Klarifikasi itu disampaikan Polda Riau saat rapat dengan Komisi A DPRD Riau.

Sutarno mengatakan, sebagai reaksi petani terhadap klarifikasi Polda tersebut, pihak STR akan mengantarkan tiga korban penculikan, yaitu Dalail, Yahya, Solehan, ke markas Polres Bengkalis untuk memberikan keterangan resmi terkait aksi damai STR di sungai Siput pada tanggal 30 Mei 2011 lalu.

“Ketiga korban penculikan itu akan diantar oleh kuasa hukum STR dan 400o orang warga pulau padang,” kata Sutarno.

Untuk diketahui, pada tanggal 31 mei 2011, telah terjadi pembakaran terhadap dua camp karyawan dan dua eskavator milik PT.RAPP. Sejurus dengan kejadian itu, pihak kepolisian dan PT.RAPP langsung mengarahkan tudingan kepada STR sebagai pelaku pembakaran, tanpa disertai bukti dan penyelidikan yang kuat.

STR sendiri sudah berulang-kali membantah tudingan tersebut. Bahkan, sebagai pembuktian, STR menyerahkan sejumlah kronologis aksi mereka. Namun, pihak kepolisian seolah mengabaikan bantahan itu, dan malahan melakukan penculikan dan penangkapan terhadap tiga petani anggota STR.

Istighosah dan Dana Juang

Selain itu, STR Pulau Padang bersama para kyai atau ulama setempat berencana menggelar acara ‘istighosah’. “Acara ini dimaksudkan untuk memohon kepada tuhan agar rakyat pulau padang terhindari dari bencana HTI,” ungkap Sutarno.

Selain menggelar acara istighosah, para aktivis STR juga akan menggalang dana juang berupa beras tiga kaleng per kepala keluarga. Dana ini akan dipergunakan untuk membantu ibu-ibu yang ditinggal suaminya lantaran takut dikejar-kejar Polisi.

Untuk diketahui, akibat tindakan represif dan sewenang-wenang kepolisian menangkapi warga, sebagian laki-laki di pulau padang melarikan diri masuk hutan untuk berlindung dari penangkapan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut