PBB dan Perdamaian Dunia

Sehari sebelum peringatan kelahiran PBB tahun ini, gerilyawan Taliban melancarkan serangan terhadap kantor PBB di Heart, Afghanistan. Ini bukan kejadian yang pertama kali. Serangan seperti ini juga pernah terjadi di kantor PBB di Baghdad, Irak, yang dilakukan oleh kelompok perlawanan. Serangan serupa juga pernah dilakukan oleh milisi bersenjata Somalia. Dan, yang cukup miris, adalah serangan militer Israel terhadap Kantor pusat badan PBB yang mengurusi pengungsi Palestina (UNRWA).

Sementara di tempat lain di berbagai belahan dunia, seperti di Semenjung Korea, di Timur Tengah, di Amerika latin, dan Di benua Afrika, intervensi imperialisme telah menaikkan ketegangan politik dan militer di kawasan tersebut.

Sebagaimana ditulis dalam pasal 1 piagam PBB, yaitu menjaga perdamaian dan kemanan internasional, 65 tahun perjalanan PBB telah menaikkan pertanyaaan besar: apakah PBB sudah berhasil menjadi bagian penting dari upaya menegakkan perdamaian dan keamanan internasional?

Dalam pidatonya dalam sidang Umum PBB ke-XV, tahun 1960, Soekarno telah berkata: “ Imperialisme dan kolonialisme dan pemisahan terus-menerus secara paksa dari bangsa-bangsa merupakan sumber dari hampir semua kejahatan internasional yang mengancam di dunia kita ini.”

Perkataan Bung Karno di atas sangat tepat sekali. Sejarah telah mencatat dengan sangat baik sekali, bahwa hampir semua konflik militer di berbagai negara dan kawasan dipicu oleh kepentingan ekonomi dan politik, terutama sekali kepentingan ekonomi dan politik negara maju.

Imperialisme, yang menghendaki pencaplokan atau penundukan terhadap negeri-negeri yang kaya akan sumber daya alam di belahan dunia selatan, telah mengijinkan “campur tangan” negara-negara maju, terutama sekali Amerika Serikat, terhadap masalah atau kedaulatan nasional negara-negara dunia ketiga. Hampir di berbagai medan konflik di dunia, seperti di Timur tengah, Afghanistan, di Afrika, di semenanjung Korea, adalah daerah perebutan pengaruh dan hegemoni untuk menguasai sumber-sumber ekonomi dan kepentingan bisnis di kawasan tersebut.

Kejadian-kejadian itu membenarkan perkataan George Bernard Shaw, bahwa Amerika sebetulnya tidak memerlukan Kementerian Luar Negeri –soal seluruh dunia toh dia anggap sebagai soal dalam negeri Amerika! Alih-alih menjadi agen penjaga perdamaian dan ketertiban dunia, PBB malah dianggap sebagai bagian dari masalah dan sebagai perpanjangan tangan dari kepentingan imperialisme AS.

Indonesia sendiri punya hubungan yang panjang dengan PBB. Indonesia pernah berterima kasih kepada PBB atas bantuannya dalam meja perundingan melawan kolonialis Belanda. Namun, Indonesia juga pernah dibuat merah telinganya karena keputusan PBB mengangkat Malaysia, negara baru yang dianggap bentukan imperialis Inggris untuk mengepung Indonesia, sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan. Karenanya, pada tanggal 6 Januari 1960, Presiden Soekarno menyatakan Indonesia keluar dari PBB sebab organisasi internasional itu semakin dikendalikan oleh nekolim.

Sekarang ini, seiring dengan semakin jatuhnya hegemoni imperialisme AS, dunia sedang berhadapan dengan tuntutan multi-polarisme. Semakin banyak negara dan bangsa yang menginginkan dunia baru, yaitu dunia tanpa penindasan manusia atas manusia (exploitation de l’homme par l’homme) dan penindasan bangsa atas bangsa (exploitation de nation par nation).

Untuk mencapai tujuan itu, maka seperti yang sudah disampaikan oleh Bung Karno sejak tahun 1960, PBB perlu direorganisasi sesuai dengan tuntutan dan kenyataan-kenyataan baru di dunia ini. Sudah semestinya hak veto dari lima negara, yaitu  Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China dan Rusia, ditinjau kembali untuk dihapuskan.

Kepemimpinan PBB harus dijabat secara kolektif oleh semua negara anggota secara bergantian. Setiap negara anggota harus diperlakukan sederajat dan bermartabat, tidak ada lagi perlakuan khusus dan diskriminasi. Demikian pula dengan persoalan hak dan kewajian masing-masing anggota, sudah seharusnya diletakkan dalam perlakuan yang setara dan adil.

Meskipun agak terlambat, kami mengucapkan selamat hari lahir untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut