Petani Lampung Tengah: Pantang Pulang Sebelum Menang!

Ratusan petani Lampung Tengah kembali mendatangi kantor Gubernur Lampung, Kamis (19/4/2012). Mereka mendesak Gubernur Lampung, Sjahroedin ZP, segera menandatangi SK pembentukan tim redistribusi tanah.

Tidak seperti aksi sebelum-sebelumnya, aksi para petani ini tidak banyak menggelar orasi politik. Maklum, sebagian petani sedang melakukan aksi mogok makan dan sebagian lainnya kondisi kesehatannya agak merosot.

“Kita hanya mau memastikan Gubernur menandatangani SK pembentukan tim pelaksana redistribusi tanah. Kita tidak mau hanya diberi makan janji-janji belaka,” kata koordinator aksi, Isnan Subkhi.

Kabarnya, kata Isnan, surat tersebut sudah ada dan tinggal menunggu tanda-tangan dari Gubernur. Hanya saja, petani tidak mau kecolongan: mereka mau memastikan isi surat tersebut sudah sesuai dengan tuntutannya.

Saat petani menggelar aksinya, sejumlah “orang” dari PT. Sahang menampakkan batang-hidungnya di kantor Gubernur. Petani menduga kehadiran orang-orang PT. Sahang tersebut dalam rangka melobi Gubernur.

Petani pun membuntuti orang-orang tersebut. Petani juga berusaha mencegat para perampas tanah rakyat itu bertemu dengan Gubernur.

Sekretaris PRD Lampung, Rahmad, mengungkapkan, perwakilan petani sudah bertemu dengan Wakil Gubernur Lampung, Joko Umar Said. Kabarnya, seperti diceritakan Rahmad, SK yang diminta petani itu sudah di tangan Gubernur.

“Hari ini langsung ditandatangani dan besok sudah bisa keluar,” kata Rahmad menirukan ucapan Wakil Gubernur.

Meski demikian, para petani tidak akan beranjak dari aksi pendudukan dan mogok makan di depan kantor BPN Lampung. “Kami mengkaji isi surat itu lebih dahulu. Jangan sampai ada celah yang merugikan petani. Kita tidak mau terkecoh dengan soal redaksional belaka,” ungkapnya.

Sementara itu, aksi pendudukan petani di depan kantor BPN sudah memasuki hari ke-31 atau sebulan penuh. Para petani mengaku tidak akan menyudahi aksinya sebelum memegang SK mengenai pengembalian lahan mereka.

Sedangkan aksi mogok makan yang dilakukan petani sudah berlangsung 11 hari. Jumlah petani yang menggelar aksi makan tinggal 7 orang. Umumnya, kondisi kesehatan peserta mogok makan sudah sangat merosot.

Saleh, seorang peserta mogok makan, mengungkapkan perutnya sering sakit, badannya lemas, dan matanya berkunang-kunang. “Saya tidak akan menghentikan aksi mogok makan ini sebelum memegang SK yang dijanjikan. Ini sudah menjadi komitmen perjuangan kami,” katanya.

SADDAM CAHYO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut