Pesimisme Dari Pertemuan G-20

Pesimisme dan kontradiksi menandai pertemuan G-20 yang berlangsung di Ibukota Korea Selatan, Soul, terutama terkait penyelesaian krisis ekonomi global.

Negara-negara maju memperjuangkan deregulasi finansial, anti-proteksionisme, dan perang melawan distorsi mata uang. Sementara beberapa negara berkembang memperjuangkan proteksionisme sebagai jalan untuk menyelamatkan kepentingan nasionalnya.

Meski demikian, seperti biasanya dalam pertemuan-pertemuan lembaga yang didominasi imperialis, kelompok negara maju berhasil memaksakan agenda mereka untuk disetujui kelompok negara berkembang dan negara miskin. Diantaranya, perlawanan terhadap proteksionisme (liberalisasi perdagangan), penyerahan nilai tukar kepada pasar, dan deregulasi finansial.

Ketua Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Pascal Lamy telah memperingatkan kepada negara berkembang bahwa hambatan perdagangan akan membuat situasi ekonomi semakin sulit.

Negara-negara maju dengan tidak tahu malu menyalahkan negara-negara yang mencoba merendahkan mata uangnya, sebagai jalan untuk menggenjot ekspor dan mengakumulasi devisa asing.

Penentangan Terhadap Unipolarisme Dollar

Presiden Venezuela Hugo Chavez mengaku pesimis terhadap pertemuan G-20 yang berakhir hari ini. Chavez menyatakan hal tersebut saat melakukan diskusi dengan pemimpin revolusioner Kuba, Fidel Castro.

Chavez menekankan bahwa ada banyak negara yang menjadi peserta dalam pertemuan ini, terutama sekali negara-negara kuat, tidak menginginkan adanya perubahan mendasar terhadap arsitektur keuangan dan perekonomian global.

Akhirnya Chaves menegaskan pentingnya negara-negara berkembang keluar dari kediktatoran dollar dan arsitektur ekonomi global.

Gustavo Franco, seorang ekonom Brazil, mengakui bahwa pilihan kebijakan ala The Fed akan kekurangan dana untuk ditaruh sebagai cadangan.

Sejauh AS ingin mengurangi defisit dalam neraca pembayaran, menurut penjelasan Franco, akan berarti mengurangi kapasitas negara lain dalam mengakumulasi cadangan.

Negara seperti Brazil dan negara berkembang lainnya, terutama dari kelompok miskin, mengingingkan akumulasi cadangan mereka untuk bertahan dari tekanan krisis tanpa mimpi buruk defisit neraca pembayaran.

Protes Gerakan Rakyat

Sementara di luar arena pertemuan para pemimpin dunia dan organisasi-organisasi internasional, puluhan ribu demonstran dari gerakan rakyat dari Korea Selatan dan negara-negara lain telah meneriakkan penentangan terhadap agenda neoliberal dalam pertemuan G-20.

Sebagian besar protes ini diorganisir oleh Korean Confederation of Trade Union (KCTU), salah satu serikat buruh terbesar di negeri itu. Mereka menyerukan pernyataan politik menentang agenda imperialistis G-20, yaitu dengan meneriakkan “Soul Declaration”.

Soul Declaration menyatakan penolakan tegas terhadap usaha mengalihkan beban krisis kepada rakyat dan menyerukan dunia alternatif yang lebih adil.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut