Pesan Darma untuk Kedamaian Bangsa

Indonesia memang negeri yang kaya akan keberagaman adat istiadat, budaya, maupun agama, dan kepercayaan. Terdapat begitu banyak momentum perayaan yang diperingati oleh setiap umat beragama. Salah satu yang terpenting dari tradisi umat Hindu di Nusantara ialah hari raya Galungan, yang diperingati setiap 210 hari dalam kalender Caka Bali. Biasanya dilangsungkan persembahan hasil kekayaan alam yang selama ini kita nikmati, dan ditujukan kepada Sang Hyang Widhi sebagai bentuk rasa syukur.

Perayaan ini menjadi momentum mudik ke kampung halaman untuk bisa berkumpul, silaturahmi bersama tetangga dan keluarga, juga berziarah bagi umat Hindu. Tujuannya tak lain demi memelihara keharmonisan hidup antar sesama umat, maupun lingkungan yang lebih luas. Tahun ini Galungan jatuh pada tanggal 26 Desember 2018, satu hari setelah perayaan Natal bagi umat Kristiani. Karenanya penting bagi kita semua untuk melakukan refleksi seraya menyambut tahun baru, sekaligus tahun politik 2019.

Darma Versus Adarma

Ritus Galungan punya narasi utama yang krusial. Merayakan kemenangan kekuatan Darma atau kebaikan melawan Adarma atau keburukan di alam semesta. Tapi sebelumnya, penting mengetahui berada di zaman apakah kehidupan saat ini dalam mitologi Hindu. Kitab Dharmasastra (I. 64-73) dan Bhagawadgita (VIII.17) mengulas tentang Catur Yuga alias empat zaman. Paling awal disebut Satya Yuga, lamanya 1.728.000 tahun. Treta Yuga 1.296.000 tahun, lalu Dwapara Yuga 864.000 tahun. Terakhir Kali Yuga selama 432.000 tahun.

Keseluruhan Yuga adalah 4.320.000 tahun, dan disebut satu Kalpa. Pakar bahasa Sanskerta di Universitas Oxford, Sir Monier Williams memperkirakan Kali Yuga dimulai sejak pertengahan Februari tahun 3102 sebelum Masehi. Bertepatan dengan penobatan cucu dari Arjuna, Raja Parikesit di Kurusetra dalam Kitab Mahabharata. Maka ini pulalah zaman di mana kita sedang hidupi, Kali Yuga yang ditandai dengan kecenderungan umat manusia untuk mengutamakan hal-hal bersifat kebendaan semata.

Tugas utama manusia di Bumi ini tak lain daripada untuk memenangkan Sang Darma. Sementara cara terbaik untuk mencapai tujuan itu ialah dengan mengenali lawan secara cermat. Adarma seperti apakah yang menjadi musuh utama peradaban di zaman ini? Kitab Slokantara (S.81.65) memberi gambaran betapa manusia terus bergerak ke arah yang melenakan. Egosentrisme dan individualisme diagungkan sebagai nilai moral. Semakin sibuk berebut membenarkan haknya sendiri, dengan jalan mengabaikan  hak orang lain.

Tak sedikit yang sampai menempuh jalan menyimpang demi memenuhi nafsunya. Ketika memperoleh kekuasaan, lalu menggunakannya untuk memperdaya yang lemah. Setelah memiliki banyak pengetahuan, bukan menyebarkannya tetapi malah untuk membodohi orang. Saat memiliki harta yang lebih, seolah merasa hidup tanpa membutuhkan lagi peranan orang lain. Seperti apapun keadaan orang lain di sekitarnya,  tak ada lagi rasa kepedulian itu.

Keserakahan merajalela, kemunafikan mewabah, dan penindasan membudaya. Itulah pengejawantahan konsep Adarma di zaman ini. Mengerikan? Tentu. Apakah dugaan itu nyata? Bisa diuji dalam kehidupan di lingkungan terdekat. Namun, intinya kitab suci telah mengabarkan satu jaminan yang memiliki unsur keniscayaan. Bahwa seberapapun hebatnya energi negatif membangun kekuatan jahat, jika manusia tetap memelihara optimisme maka kebaikanlah yang akan keluar sebagai pemenang.

Damai untuk Negeri

Apabila perhatian digeser ke dalam konteks realitas sosial-politik belakangan ini. Kekuatan Adarma tampaknya semakin menghegemoni. Wacana perselisihan kian marak dan mengakibatkan persatuan bangsa jadi berpotensi terpecah belah. Kepentingan pribadi dan kelompok kian dianggap sebagai kebenaran tunggal yang pantang memiliki pembeda. Tujuan yang hendak dicapai ibarat tak lagi dilandasi semangat kebersamaan sebagai satu kolektif kebangsaan.

Ini sungguh gejala yang harus disadari dan membutuhkan respon serius dari semua komponen masyarakat Indonesia, jika tidak ingin dampaknya semakin destruktif. Perbedaan nyaris tidak lagi dipandang sebagai kekayaan bersama, sebaliknya malah menjadi bahan bakar bagi upaya mendominasi satu sama lain. Konflik horizontal terutama antar kelompok politik, belakangan semakin konyol dan menjauhi substansi. Strategi “perang hoax” yang hanya memperkeruh keadaan justru malah digelar oleh semua kubu.

Setiap harinya kita seperti terus dijejali beragam informasi yang mengandung data-data bohong, berbau SARA, dan ujaran kebencian. Maka sudah sepatutnya, kita serentak menyudahi debat kusir ini sebelum semakin mengerucut dan mengkristal. Penting diingat, prinsip pokok kehidupan berbangsa dan bernegara yang diamanahkan para founding father melalui Pancasila, ialah apa yang disebut sebagai unity in diversity atau kebhinekaan dan persatuan.

Pesan universal itu sangat beririsan dengan ajaran reflektif yang wajib dipetik dalam momentum Galungan, oleh segenap umat Hindu di Indonesia. Pertama, tat tvam asi atau aku adalah kamu. Kedua, vasudhaiva kutumbakam atau seluruh dunia bersaudara. Inilah bekal kekuatan untuk memenangkan Darma di tengah kehidupan. Betapa wajibnya mengembangkan rasa cinta kasih baik kepada Tuhan, alam, hewan dan tumbuhan, terlebih pada sesama manusia.

Berpegang teguh pada ajaran tersebut, manusia akan dipandu untuk memiliki empati dan kesadaran kolektif yang kokoh. Penderitaan, duka cita, ketidakadilan, dan kemiskinan yang dialami sebagian orang, ikut dirasakan sebagian lainnya. Masalah mu adalah masalah semua, jika menyakitimu berarti menyakiti diriku sendiri. Begitu pula dengan kebahagiaan, akan turut dirasa dan dirayakan bersama.

Suksesi politik nasional tahun depan, juga tak luput dari momentum kolektif bagi setiap warga negara. Umat Hindu maupun yang lainnya harus fokus pada semangat yang sama, yakni gegap gempita menyongsong masa depan bangsa yang lebih baik. Pertarungan yang dihadapi bukan soal mana pasangan kandidat yang baik atau buruk. Lebih dari itu, nilai kebaikanlah yang harus dimenangkan dalam kehidupan. Salam damai Indonesiaku.

I MADE EDI YATMAJA, mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan FEB Unila dan Ketua LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi) Eksekutif Kota Bandar Lampung

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut