70 Tahun Tidak Punya Tentara, Apa yang Terjadi pada Kosta Rika?

Kosta Rika, negeri kecil di Amerika Tengah, merayakan 70 tahun penghapusan Angkatan Bersenjata Nasionalnya. Negeri yang sering dijuluki “Skandinavia”-nya dunia ketiga ini masuk dalam daftar 22 Negara di dunia ini yang tidak punya tentara.

Sejak abad 16, senasib dengan bangsa-bangsa Amerika latin lainnya, Kosta Rika dijajah Spanyol. Nama “La Kosta Rika” merupakan pemberian orang Spanyol, yang berarti “pantai yang kaya”.

Tahun 1821, setelah kekalahan Spanyol dalam perang kemerdekaan Meksiko, Amerika tengah menyatakan kemerdekaan. Kosta Rika termasuk di dalamnya, sebagai sebuah Provinsi yang otonom.

Namun, kemerdekaan tak menyudahi perang. Perang saudara antara kelompok pro-Meksiko dan Republiken menyeret negeri ini dalam perang sipil.

Baru di tahun 1838, Kosta Rika keluar dari Republik Federal Amerika Tengah dan menyatakan kemerdekaan sendiri. Tetapi kemerdekaan sendiri tak juga menyudahi kemerdekaan saudara hingga 1850-an.

Di tahun 1850-an, William Walker, seorang pengacara dan petualang Amerika, berkali-kali mencoba menganeksasi Kosta Rika, agar menjadi salah satu Provinsi Amerika Serikat. Tapi, upaya itu berhasil digagalkan oleh pejuang Kosta Rika.

Memasuki abad ke-19 dan 20, Kosta Rika tidak juga bebas dari perang dan kekerasan. Tahun 1917-19, Kosta Rika diperintah oleh kediktatoran militer di bawah Jenderal Federico Tinoco Granados. Namun, kediktatoran tidak berumur panjang, karena digulingkan oleh gerakan rakyat.

Lepas dari kediktatoran militer, Kosta Rika belum juga lepas dari jerat konflik. Hingga, pada Maret-April 1948, sebuah revolusi yang dipimpin oleh Jose Figueres berhasil berkuasa. Dalam revolusi itu yang berlangsung 40 hari itu, 2000-an warga sipil tewas.

Perubahan terjadi setelah Figueres berkuasa. Selain program progressif seperti nasionalisasi Bank dan pendidikan gratis, politisi yang kerap disapa “Don Pepe” ini menghapus keberadaan tentara nasional Kosta Rika. Itu terjadi 1 Desember 1948.

Jadi, sejak 1948 hingga sekarang, sudah 70 tahun, Kosta Rika tidak punya angkatan perang. Negara berpenduduk 5 juta jiwa ini hanya punya Kepolisian, yang bertugas menghadapi kriminalitas dan geng pengedar narkoba. Jumlahnya pun hanya 7500-an orang.

Di Kosta Rika, militer sangat tidak populer di mata. Institusi itu dianggap “protogonis” dari berbagai konflik politik, arsitek kediktatoran, mesin kekerasan, hingga perang sipil berdarah-darah.

Karena itu, ketika Don Pepe membubarkan tentara, rakyat berbaris memberikan dukungan. Bahkan, keputusan Kosta Rika membubarkan tentara dikukuhkan lewat Konstitusinya tahun 1949.

Cuartel Bellavista, barak militer terbesar dan termegah di Ibukota San Jose, Ibukota Kosta Rika, diubah menjadi museum nasional. Di masa lalu, barak ini jadi simbol kedigdayaan militer.

Tidak punya tentara memang punya resiko, terutama ancaman dari luar. Tahun 1954-55, Kosta Rika berkonflik urusan perbatasan dengan Nikaragua. Saat itu, negara tetangga Kosta Rika itu dipimpin oleh diktator Somoza. Beruntung, berkat maneuver Don Pepe yang merapat ke OAS (Organisasi Negara-Negara Amerika) dan Amerika Serikat, invasi Somoza berhasil dihentikan.

Yang menarik, setelah membubarkan tentara nasional, Kosta Rika punya belanja publik yang besar. Anggaran militer, yang sebelumnya paling besar, dialihkan untuk anggaran pendidikan, kesehatan dan layanan publik lainnya.

Belanja pendidikan Kosta Rika cukup tinggi. Merujuk ke data UNESCO, rata-rata belanja pendidikan negeri berpenduduk lima juta ini berkisar 5,25 persen dari PDB. Bahkan, sejak 2010, belanja pendidikan Kosta Rika di atas 6 persen dari PDB.

Begitu juga dengan anggaran kesehatan. Ini memungkinkan layanan kesehatan publik bisa diakses oleh seluruh rakyat Kosta Rika. Tak heran, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan sistim kesehatan Kosta Rika di peringkat 36 di dunia.

Ini yang membuat pencapaian pembangunan manusia Kosta Rika sangat luar biasa. Meski PDB per kapitanya hanya 11.630 USD, bandingkan dengan AS yang mencapai 59.531 USD, angka harapan hidup Kosta Rika 79.6 (WHO, 2016). Lebih tinggi dari AS, yang angka harapan hidupnya di angka 78.6 di kurun waktu yang sama.

Orang Kosta Rika juga termasuk bangsa paling bahagia di planet. Mereka selalu di peringkat teratas di Happy Planet Index (HPI). Bahkan, di tahun 2009 dan 2012, mereka peringkat satu.

Di tahun 2017, Indeks Pembangunan Manusia (HDI) Kosta Rika di peringkat 63, dengan angka 0794, di jajaran negara-negara berkategori “high human development”. Bandingkan dengan Indonesia di peringkat 116, dengan skor 0694, di kategori negara-negara “medium human development”.

Tanpa tentara, politik Kosta Rika juga makin stabil. Sejak 1949 hingga hari ini, negara ini jauh dari bau-bau kudeta. Sementara negara-negara Amerika Tengah lainnya, seperti Honduras, Panama, El Savador, dan Guatemala, justru dicekik silih berganti oleh krisis politik dan kudeta militer.

Tanpa militerisme dalam kehidupan politik dan sipilnya, demokrasi di Kosta Rika justru menguat. Tingkat kepercayaan terhadap demokrasi sangat tinggi.

Di banyak negara, tentara mencampuri berbagai urusan publik, tak terkecuali olahraga. Tetapi Kosta Rika tidak mengalami itu. Walhasil, sepak bola Kosta Rika juga luar biasa majunya. Negeri yang jumlah penduduknya 52 kali lebih kecil dibanding Indonesia ini sudah 5 kali lolos di ajang Piala Dunia.

“Penghapusan tentara adalah satu keputusan politik paling relevan dalam 200 tahun kelahiran Republik kami. Dan ini akan menjadi bagian paling esensial dari identitas nasional kami,” kata Presiden Kosta Rika, Carlos Alvarado Quesada, di akun twitternya.

Begitulah, sukses Kosta Rika.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut