Pertumbuhan Ekonomi Untuk Siapa?

Pemerintah masih sibuk membangun istananya di menara gading. Di tengah kesulitan ekonomi yang dirasakan rakyat banyak, pemerintah justru mengklaim sebuah capaian ekonomi yang spektakuler: pertumbuhan ekonomi kuartal 1 tahun 2011 adalah 6,5%.

Pemerintah dan rakyat ibarat hidup dalam dua kamar berbeda di satu rumah. Yang satu hidup di kamar mewah, sedangkan yang satunya lagi tinggal di kamar yang sangat busuk dan penuh sesak. Ketika hendak menyampaikan keadaan rumah itu, si pemerintah hanya menyampaikan fakta berdasarkan keadaan kamarnya, sedangkan kamar yang satunya tidak pernah ditengoknya ataupun diketahuinya.

Muncul pertanyaan: Pertumbuhan ekonomi itu untuk siapa? Sebab, seperti kita catat berulang-kali, situasi ekonomi rakyat tetap saja memburuk: PHK massal, usaha menengah dan kecil gulung tikar, biaya kebutuhan hidup semakin tinggi, dan daya beli rakyat semakin menurun.

Jika ditelusuri lebih jauh, sebagian besar pemicu pertumbuhan ekonomi tinggi itu adalah: membanjirnya modal asing, perdagangan internasional, dan konsumsi (pemerintah dan masyarakat). Pemerintah juga sangat mengandalkan, kalau bukan bersandar sepenuhnya, kepada ketiga variable tersebut.

Kalau kita mau jujur, ketiga variable pertumbuhan ekonomi itu justru membenarkan adanya praktek ganas kolonialisme baru (neo-kolonialisme) di Indonesia. Mungkin ini dianggap kesimpulan terlalu dini, atau mungkin dianggap berlebihan, tetapi penelitian objektif dan ilmiah niscaya akan sampai pada kesimpulan itu.

Pertama, membanjirnya modal asing sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi. Imperialisme, sebagaimana diterangkan Bung Karno dalam pidato Indonesia Menggugat, adalah identik dengan penanaman modal asing atau ekspor modal. Orang boleh saja berkelik, bahwa modal asing juga membantu ekonomi nasional. Tetapi kenyataan memperlihatkan bahwa modal asing punya tujuan sendiri: menggali keuntungan (profit) sebesar-besarnya.

Bung Hatta, mantan Wakil Presiden RI yang pertama, pernah berkata: “Soal kapital menjadi halangan besar untuk memajukan industrialisasi di Indonesia. Rakyat sendiri tidak mempunyai kapital. Kalau industrialisasi mau berarti sebagai jalan untuk memakmurkan rakyat, perkataan-perkataan kemakmuran rakyat (cetak tebal, red) mestilah kapitalnya datang dari pihak rakyat atau pemerintah. Karena, kalau kapital harus didatangkan dari luar, tampuk produksi terpegang oleh orang luaran.

Dan, kenyataannya: membanjirnya kapital asing itu telah mempercepat penguasaan asing terhadap sektor perekonomian nasional. Akibat dari penguasaan asing itu, sebagaimana diakui oleh Burhanuddin Abdullah, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI), ‘rakyat Indonesia hanya menikmati 10% dari keuntungan ekonomi, sedangkan 90%nya dibawa asing keluar.’

Kedua, ekspor sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. Untuk melihat seberapa jauh perampokan kekayaan alam Indonesia, marilah kita lihat dari angka ekspor yang ada. Sebab, sebagaimana dikatakan Bung Karno, ekspor yang terlalu besar menandai kekayaan alam Indonesia yang mengalir keluar. Pada tahun 2010, misalnya, nilai ekspor Indonesia mencapai USD157,73 miliar  atau sekitar Rp1500 Triliun. Sebagian besar komponen ekspor itu adalah bahan mentah, seperti batubara, minyak, bauksit, minyak kelapa sawit, dan karet.

Coba bayangkan seberapa banyak mereka merampok kita; Misalnya, bauksit diambil di Pulau Karimun, dibawa ke luar negeri dengan harga US$ 30. Kemudian masuk Indonesia menjadi alumina dengan harga US$ 220. Jadi, nilai tambah yang dirampok adalah US$190.

Ketiga, konsumsi sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumsi ini dipicu oleh konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik.

Kendati pertumbuhan ekonomi ditopang rumah tangga, tetapi yang dimaksud bukanlah rumah tangga rakyat banyak. Menurut Difi Ahmad Johansyah, humas BPS, sebagian besar penggerak konsumsi rumah tangga adalah kelas atas. Kelas atas ini, yang jumlahnya mencakup 20% dari keseluruhan penduduk, berkontribusi 43%. Sementara penduduk berpendapatan rendah yang populasinya 40 persen penduduk hanya menyumbang 19 persen dan penduduk kelas menengah yang jumlahnya 40 persen menyumbang 38 persen.

Lebih jauh lagi, jikalau kita lihat dari konfigurasi PDB, jumlah usaha ekonomi rakyat (usaha mikro, menengah, dan kecil) mencapai 51 juta unit atau 99,99% dari total unit usaha yang ada, tetapi kontribusinya terhadap PDB hanya sebesar 54%. Sedangkan perusahaan besar asing yang jumlahnya hanya 0,1% itu menyumbangkan 46% PDB.

Dengan demikian, kita tidak pantas bersuka-cita pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu, tetapi sepantasnya kita bertanya: kepada siapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu mengalir? Bagi kami, sudah sangat jelas: pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu ujung-ujungnya mengalir keluar—pihak asing.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut