Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia

“Perjoangan-koministis kita di antara kaum wanita, perdjoangan-politik kita di antara mereka itu harus berisi pula satu bagian besar perdjoangan mendidik kaum laki-laki. Kita harus mencabut jiwa ‘Tuan’ itu sampai ke akar-akarnya habis-habisan. Mencabut, di kalangan partai dan di kalangan massa”- (Vladimir Lenin)

Pendahuluan: Kursus Wanita

Tidak banyak tokoh perdjoangan nasional laki-laki yang demikian serius membincangkan soal perempuan, kecuali bung Karno. Dialah tokoh laki-laki yang amat sensitif dan visioner melihat kekuatan perempuan dalam perjoangan nasional. Dia pula tokoh laki-laki yang yakin bahwa perempuan Indonesia sanggup berdiri dan duduk sejajar dengan laki-lakinya dalam alam kebebasan Indonesia dari kolonisasi asing.

Sebagai tokoh sentral perjoangan nasional, Soekarno dengan kecerdasan dan kemampuan intelektualnya yang tinggi, terusik untuk mencari cara mendidik kaum perempuan Indonesia agar siap bersisian dengan kaum laki-laki berjoangan bersama menghadapi penjajah. Bung Karno menyadari betul bahwa persoalan wanita/perempuan adalah persoalan masyarakat. Oleh karena itu, persoalan perempuan Indonesia harus dipelajari sungguh-sungguh oleh kaum pergerakan Indonesia, terlebih kaum laki-laki.  Sangat prinsipil dia yakini, bahwa kita tidak dapat menyusun negara dan masyarakat, jika kita tidak paham mengenai soal wanita.  Dan pemahaman itu harus pula dipunyai dan dipraktikkan oleh kaum laki-lakinya.

Kursus wanita adalah terobosan besar pasca kemerdekaan karena secara sistematis dan terarah mendidik kalangan perempuan perjoangan membekali pengetahuan, keterampilan, dan sikap pergerakan mereka secara mendalam. Kursus serupa pernah ada dalam sejarah kita ketika RA Kartini melakukan “kursus wanita” meskipun dalam skop yang kecil untuk memberi keterampilan kepada kalangan wanita priyayi, seperti menyulam, membaca, melukis, dan keterampilan rumah tangga untuk melayani suami.  Demikian pula pergerakan perempuan tahun 20-an di Indonesia memang sudah mengusung sejumlah persoalan perempuan untuk menjadi target pemikiran dan tindakan mereka. Namun, yang dikerjakan Soekarno dalam kursus wanita tersebut jauh ke depan dalam mempersiapkan kalangan perempuan dalam pergerakan-politik. Ini suatu misi besar perjoangan. Program seperti itu sungguh patut kita tiru dan teruskan saat ini agar perubahan masyarakat dapat dipercepat, sekalipun dengan pemikiran kritikal.

Bab I: Soal Perempuan

Soekarno banyak belajar dan membaca buku mengikuti perkembangan pemikiran pergerakan perempuan di Eropah, Amerika dan bagian dunia lainnya. Sering  “pengetahuan enskilopedis” Bung Karno demikian luas dan komplit mengenai pergerakan perempuan, sehingga sedalam-dalamnya dia mampu menjelas terangkan kepada kita perbandingan-perbandingan kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan pergerakan itu.

Kritik Soekarno amatlah pedas, bahwa kita, Indonesia, sangat terbelakang dalam urusan posisi perempuan di masyarakat. Sebagaimana kita ketahui, bahwa gelombang pergerakan perempuan di Eropah dan Amerika juga turut melanda Indonesia era kolonisasi, sehingga soal-soal wanita yang berkembang di sana pun diperbincangkan di tanah air.  Misalnya, hak perempuan akan pendidikan, politik, dan kebebasan seksualitas. Soekarno melihat kaum laki-laki Indonesia masih “mendewi-tololkan” perempuannya, yang tampak dalam adat istiadat, norma sosial, dan hukum.  Persoalan perempuan tak hanya di dalam kemasyarakatannya, namun juga di dalam masalah ke-sekse-annya. Namun demikian, Soekarno mencatat ekses feminisme Eropa yang kelewat batas, yakni menyamakan perempuan dengan laki-laki.  Tentu ini ekspresi kebebasan yang dituntut oleh gerakan feminisme tahun 60-an, utamanya oleh kalangan feminis radikal. Soekarno menyatakan bahwa soal perempuan/wanita sama tuanya dengan soal manusia itu sendiri, sama tuanya dengan soal masyarakat, oleh karena itu menjadi tugas kaum perempuan dan laki-laki membahasnya, memikirkannya secara sungguh-sungguh. Dia menambahkan bahwa harmoni perempuan dan laki-laki sangatlah penting, yakni  berjajar, sama derajat,  yang satu tak lebih tinggi daripada yang lain.

Bab II: Laki-laki dan Perempuan

Soekarno mengutip banyak hasil pemikiran banyak pemikir mengenai laki-laki dan perempuan. Tentu pandangan-pandangan pemikir tersebut saling bersilangan pendapat, namun Soekarno lebih suka menyitir pandangan Olive Schreiner, yakni bahwa laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang terikat satu kepada yang lain oleh satu tali-gaib, satu “tali hidup”. Karenanya, janganlah masyarakat laki-laki mengira bahwa ia dapat maju dan subur, kalau tidak dibarengi oleh kemajuan masyarakat perempuan pula. Tinggi rendahnya budaya dan peradaban suatu masyarakat, suatu bangsa, sangat terkait dengan tinggi rendahnya kedudukan perempuan di dalam masyarakat dan di dalam bangsa itu.

Soekarno menjelaskan bahwa soal perempuan tak dapat kita nilai harganya untuk masyarakat, kalau kita pisahkan perempuan dari sejarahnya masyarakat, sejarahnya perhubungan perempuan dan laki-laki di dalam masyarakat. Sejarah perempuan adalah bergandengan dengan sejarah laki-laki, soal perempuan tak dapat dipisahkan dari soal laki-laki. Masyarakat itu hanyalah sehat, manakala ada perimbangan hak dan perimbangan perlakuan antara kaum laki-laki dan perempuan, yang sama tengahnya, sama beratnya, sama adilnya.

Bab III: Dari Gua ke Kota

Soekarno bersandarkan hasil ilmu pengetahun meyakini bahwa manusia mendiami muka bumi sudah ratusan ribu tahun lamanya. Itu didasarkan atas  penemuan bukti-bukti nyata geologi, antropologi, arkeologi, histori dan prahistori. Arthur Keith, menurut Soekarno, memperkirakan zaman manusia sudah dimulai sejak 800.000-900.000 tahun lampau. Misalnya, manusia Pithecanthropus Erectus (kurang lebih 500.000 tahun yang lalu), homo Heidelbergensis (kurang lebih 250.000 tahun yang lalu), Eoanthropus (kurang lebih 100.000 tahun yang lalu), homo Neanderthal (kurang lebih 50.000 tahun yang lalu). Manusia sudah mencapai kesempurnaannya sekitar 35.000 tahun yang lalu. Manusia sudah mendiami negeri-negeri tertentu atau lokasi-lokasi tertentu di mana mereka dapat berkembang biak meneruskan hidupnya dan keturunannya. Tentu saja bentuk awal manusia adalah “manusia kera” (apes) (periksa teori Marx-Engels). Singkatnya, dalam bagian ini Soekarno hendak membeberkan sejarah perkembangan masyarakat dari masa purba hingga masa modern. Dalam sejarah perkembangan masyarakat itu, patut dicatat peran dan kedudukan perempuan yang maha besar dalam menentukan tahap-tahap perkembangan. Misalnya, perkembangan pengetahuan bercocok tanam dan beternak (agrikultur) dimulai oleh perempuan. Sistem pertanian yang handal dipelopori oleh perempuan. Penatua-penatua agama, ketua kampung, dan banyak lagi posisi pemimpin dipegang oleh perempuan. Hukum peribuan (sistem matriarkhat) sungguh berlaku. Seiring perubahan dalam cara-cara produksi dan perubahan kekuatan produksi, maka posisi perempuan kemudian tertinggal dan mulailah berlaku hukum perbapakan (patriarkhat).

Bab IV: Matriarkhat dan Patriarkhat

Dalam sejarah perkembangan masyarakat ditunjukkan bahwa perempuan pernah berjaya, yakni pada zaman matriarkhat. Pada masa ini berlakulah hukum peribuan, pemerintahan-ibu, ketika inilah perempuan bermartabat tinggi dan sungguh sangat berkuasa. Dengan proses yang panjang terjadi transisi dari matriarkhat ke patriarkhat. Ini suatu revolusi masyarakat, suatu perubahan hukum peribuan menjadi hukum perbapakan. Kepemilikan perempuan sebagai hak milik menjadi penanda utama fase ini. Dengan sistem perkawinan berpasang-pasangan, laki-laki melakukan kawin-banyak (poligini). Perkawinan banyak ini dimaksudkan untuk menghasilkan banyak tenaga kerja dan pasukan perang. Yang paling menarik menyangkut persoalan persundalan, karena menjadi kebebasan seksual  untuk kepentingan kaum laki-laki dalam zaman itu. Ekses sistem patriarkhat yang keliwat batas berlangsung hingga abad modern.

Bab V: Wanita Bergerak

Ratusan tahun pasca Revolusi Industri dunia memasuki fase baru dalam perikehidupan karena berlangsung pula tuntutan-tuntutan masyarakat akan kemerdekaan kaum perempuan dari tradisi dan norma lama yang patriarkhal. Hukum alam bekerja, masyarakat ber-evolusi, maka pergerakan pun ber-evolusi. Keadaan perempuan yang ditindas oleh pihak laki-laki, tidak boleh tidak, niscaya membangungkan dan membangkitkan satu pergerakan yang  berusaha meniadakan segala tindasan-tindasan itu. Di dunia Baratlah lahir pertama-tama pergerakan perempuan. Di sanalah pertama-tama terdengar semboyan: “perempuan bersatulah!”. Paham-paham ideologis dan politik dunia Barat kemudian menjalar ke dunia Timur, termasuk Indonesia. Maka upaya pergerakan sudah mematang memasuki tahun 1900-an. Organisasi perempuan pertama lahir  di Jawa tahun 1912, dengan nama Putri Mardika, yang dibantu kelahirannya oleh organisasi Boedi Oetomo (1908). Kemudian bermunculan organisasi-organisasi perempuan lainnya. Mereka terhubungkan oleh gagasan nasionalisme dan kesamaan sebagai perempuan. Puncak konsolidasi mereka terjadi pada 1928 ketika berlangsung Kongres Wanita pertama di Jogjakarta. Program politik Kongres ialah memajukan pendidikan kaum perempuan dan menyamakan kedudukan perempuan di hadapan hukum, utamanya hukum perkawinan.

Pergerakan itu lebih banyak disambut kaum perempuan kelas-tengah dan kelas-atas , lapisan tipis perkotaan, yang sudah dan makin terdidik sejak kolonial Belanda memberlakukan sistem Politik Etis (balas budi), yang salah satunya memajukan pendidikan untuk kaum pribumi di Hindia Belanda.

Soekarno membagi pergerakan perempuan menjadi tiga tingkatan, yakni tingkatan pertama: pergerakan perempuan yang menyempurnakan upaya pemerdekaan ruang domestik mereka, seperti masalah-masalah kerumahtanggaan, dan lainnya; tingkatan kedua: perjoangan mempersamakan hak dan derajat kaum perempuan dengan laki-laki; tingkatan ketiga: pergerakan sosialisme yakni perempuan dan laki-laki bersama-sama berjoang bahu-membahu untuk mendatangkan masyarakat sosialistik, masyarakat yang sejahtera, sama-sama merdeka.

Bab VI: Sarinah Dalam Perjoangan Republik Indonesia

“Tiada kemenangan revolusioner, jika tiada wanita revolusioner”, kutip Soekarno atas pernyataan Dolores Ibarouri dalam ‘La Passionaria’. Meneruskan ucapan Lenin, bahwa tiada tindakan revolusioner tanpa diterangi teori revolusioner. Maka, mendidik kaum perempuan Indonesia dengan teori-teori revolusioner adalah tugas pergerakan nasionalis atau kebangsaan. Soekarno memandang sangatlah perlu mengintegrasikan program perjoangan pergerakan kaum perempuan dengan kaum nasionalis untuk menyempurnakan proses kemerdekaan seratus persen Indonesia dari kolonisasi asing pasca 1945. Dengan kata lain, tugas besar kaum perempuan ialah melaksanakan kewajiban sejarah Revolusi Nasional, yakni mendirikan satu Negara Nasional Indonesia. Apabila tugas itu berjalan, maka tugas kita dilanjutkan dengan Revolusi Sosial. Tujuannya ialah mencapai masyarakat Indonesia yang berkesejahteraan sosial. Soekarno merumuskan kewajiban wanita dalam perjoangan Republik Indonesia ialah mensistesakan ketiga tingkatan pergerakan perempuan yang pernah ada, yakni tingkatan pergerakan pertama, kedua, dan ketiga. Jadi, kewajiban wanita sudah jelas yakni menyusun Negara Nasional, yang berkeadilan sosial dan berkesejahteraan sosial.

Penutup

Pemikiran yang dituangkan Soekarno dalam buku Sarinah memang sengaja ditujukan untuk mempropagandakan semangat nasionalisme di kalangan perempuan kelas tengah terdidik dan perkotaan. Pendidikan nasionalisme itu disandingkan dengan pendidikan feminisme. Padahal itu tidak mudah karena konteks ruang dan waktu yang berlainan, sedangkan situasi revolusioner tidaklah selalu mendesak kaum perempuan turut serta dalam revolusi Nasional. Nasionalisme laki-laki ala Soekarno memang menarik untuk dicermati, namun masih saja terbuka jurang lebar yang tak terjembatani antara kebutuhan strategis perempuan karena konstruksi gender Negara atas mereka. Haruslah program politik menyasar kepada perubahan struktural relasi gender antara perempuan dan laki-laki dalam Negara nasional itu. Mensenyawakan nasionalisme dan feminisme, memang bukan perkara gampang, apalagi jika kita hendak memaknakan hal itu dalam konteks kekinian. Pertanyaan dasarnya: apakah relasi gender sosial dan Negara dalam konteks Negara nasional kini sudah berubah secara struktural?

——

Hegel Terome, Pegiat Perempuan di Yayasan Kalyanamitra

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut