3 Pertanyaan Penting Revolusi Kuba Di Tahun 2016

2015 merupakan tahun yang penting bagi Revolusi Kuba. Setelah lima dekade mengusik dengan tujuan menggulingkan pemerintah dan mengakhiri sosialisme di Kuba, Amerika Serikat akhirnya mengalah, mengakui pada akhir 2014 bahwa kebijakan isolasinya menemui kegagalan yang hina.

2015 menunjukkan pembangunan kembali hubungan diplomatik resmi dengan pembukaan kedutaan antara dua musuh lama, pelonggaran pembatasan perjalanan, dan penghapusan Kuba dari daftar “negara-sponsor-terorisme” versi AS.

Tapi mencairnya hubungan antara Kuba dan tetangganya yang bermusuhan ini juga membawa risiko. Revolusi Kuba 1959 telah menginspirasi jutaan manusia di dalam maupun di luar Amerika Latin. Revolusi Kuba yang terus menunjukkan kegigihan menghadapi serangan tak henti-henti dari imperialisme AS menunjukkan kepada dunia bahwa Amerika Serikat bukanlah tidak terkalahkan dan bisa dikalahkan, di “halaman belakang”nya sendiri.

Namun ancaman modern yang terbesar bagi revolusi dan model sosialisnya sekarang mungkin datang dari pendekatan baru nan ramah ini terhadap Kuba.

Pertama, Bagaimana pemulihan hubungan diplomatik dengan AS mempengaruhi perekonomian Kuba?

Banyak pakar AS dan politisinya tetap memusuhi Kuba. Di antara mereka ada yang semakin sinis, seperti si pengacau, Senator AS Bob Menendez, yang keras menentang menghangatnya hubungan antara AS dan Kuba.

Namun yang lain melihat pembangunan kembali hubungan diplomatik sebagai satu cara lain untuk tujuan yang sama – yakni berakhir sosialisme di Kuba.

Senator AS, Dick Durbin, begitu yakin ketika ia mengatakan kepada media bahwa pendekatan baru ini akan “menciptakan paksaan untuk perubahan positif di Kuba ketika lebih dari 50 tahun kebijakan kita dengan mengecualikannya tidak bisa dicapai.”

Penentang revolusi Kuba bertaruh dengan gagasan bahwa kunci untuk perubahan di Kuba adalah (melalui) ekonomi.

Setelah kelaparan ekonomi selama 50 tahun sebagai akibat dari blokade AS, Kuba sangat membutuhkan investasi. Tarif istimewa untuk ekspor Kuba ke Uni Soviet sebelum runtuhnya blok komunis dan kesepakatan menguntungkan dengan sekutu penting Venezuela terus membuat perekonomiannya mengapung tapi masalah utamanya masih ada.

Hal ini diakui oleh Presiden Kuba Raul Castro sendiri yang mengatakan kepada Kongres ke-20 Federasi Buruh Kuba tahun 2014, “Saya sepenuhnya setuju dengan Anda bahwa sistem pengupahan saat ini tidak konsisten dengan prinsip distribusi sosialis… juga benar bahwa gaji tidak memenuhi kebutuhan pekerja atau keluarga mereka.”

Melonggarkan pembatasan investasi AS di Kuba dapat memulai banjir modal AS ke dalam perekonomian Kuba dan mungkin mengancam peran sentral yang dimainkan oleh perusahaan negara dalam ekonomi terencana.

Parlemen Kuba baru-baru ini menyetujui serangkaian langkah-langkah ekonomi yang bertujuan memperbarui model sosio ekonomi sosialis Kuba yang secara kritis melibatkan ketentuan untuk menyambut investasi asing.

Sangat menyadari bahwa kritik yang muncul mungkin menafsirkan perubahan ini sebagai ancaman terhadap model sosialis, Rodrigo Malmierca, Menteri Perdagangan Luar Negeri Kuba, mengatakan bahwa “investasi asing tidak menjual negara juga tidak kembali ke masa lalu, seperti yang dituduhkan beberapa pihak. ”

“Justru itu adalah cara untuk memperkuatnya secara perekonomian, yang ketika tunduk pada syarat-syarat yang ditetapkan oleh undang-undang, tidak mengancam sistem sosialis,” kata Malmierca.

Pengenalan investasi dan modal asing melalui industri pariwisata telah menciptakan ketimpangan dalam model ekonomi yang dimaksudkan untuk berjuang bagi masyarakat kelas yang berkekurangan.

Meskipun demikian, Presiden Kuba Raul Castro telah selalu menyatakan bahwa perubahan dalam hubungan dengan Amerika Serikat tidak akan mempengaruhi model ekonomi atau politik negaranya. Bahkan, ia memperingatkan pembuat kebijakan AS untuk tidak melihat ini sebagai kesempatan untuk merusak sistem politik negara tersebut.

“Dengan cara yang sama bahwa kita tidak pernah menuntut Amerika Serikat untuk mengubah sistem politiknya, kita akan menuntut AS menghormati kita,” kata Raul Castro pada akhir 2014.

Posisi tersebut baru-baru ini ditegaskan oleh Josefina Vidal, direktur urusan AS di kementerian luar negeri Kuba, yang mengatakan kepada wartawan pada bulan Desember, “Kuba selalu mengatakan … ia tidak akan bernegosiasi mengenai hal-hal yang melekat pada sistem internal sebagai pertukaran untuk peningkatan atau normalisasi hubungan dengan Amerika Serikat. ”

Menghormati sistem politik dan ekonomi Kuba selalu berarti mengakhiri intervensi asing dan yang paling penting adalah mengakhiri blokade ekonomi AS.

Kedua, Akankah AS bersabar untuk tidak mengintervensi urusan dalam negeri Kuba?

Pada tahun 2015 Majelis Umum PBB sekali lagi bersepakat (191 berbanding 2 anggota) mendukung resolusi yang menyerukan diakhirinya blokade AS. Hanya Amerika Serikat dan Israel yang menentang resolusi itu—meskipun ada pemulihan hubungan diplomatik.

Bertentangan dengan logika, menurut laporan yang disiapkan Kuba menjelang pemungutan suara di PBB tahun lalu “telah terjadi penguatan blokade pada dimensi keuangan dan ekstra-teritorialnya, yang dapat dilihat dalam pengenaan denda jutaan dolar terhadap bank-bank dan lembaga keuangan sebagai akibat dari siksaan atas transaksi keuangan internasional Kuba.”

Para pejabat Kuba tidak ambigu, bahwa normalisasi hubungan hanya bisa dikatakan normal dengan berakhirnya blokade.

Presiden Kuba Raul Castro baru-baru ini meminta presiden AS Barack Obama agar menggunakan kekuasaan eksekutifnya untuk mencabut blokade.

“Yang penting sekarang adalah Presiden Barack Obama punya tekad menggunakan kekuasaan eksekutif yang luas untuk memodifikasi pelaksanaan blokade, yang akan memberi makna atas capaian sejauh ini dan mengizinkan berlanjutnya kemajuan yang solid,” kata presiden Kuba.

Blokade mungkin merupakan tindakan yang paling tampak jelas dari gangguan AS tetapi bukan satu-satunya.

AS terus mendanai kelompok yang disebut “pro-demokrasi” di dalam Kuba. Bahkan ketika Presiden AS Barack Obama memunculkan ide untuk mengunjungi Kuba, salah satu syarat yang dia ajukan bagi kunjungan tersebut adalah diperbolehkan untuk bertemu dengan kelompok ini bersama dengan para pembangkang politik lainnya.

Sejak awal terpilih sebagai presiden AS, Obama telah sering mengulangi janjinya untuk menutup penjara Teluk Guantanamo di Kuba. Selain itu menjadi tempat penyiksaan dan penahanan ilegal bagi tersangka gerilyawan, Teluk Guantanamo juga merupakan penghinaan terhadap kedaulatan Kuba, dengan terus menduduki secara ilegal sebagian dari pulau tersebut sejak kemenangan Revolusi Kuba. Telah berulangkali Kuba meminta Amerika Serikat untuk meninggalkan wilayahnya.

Pemerintah Kuba telah menentukan empat syarat sebelum hubungan dianggap normal dan semua itu berhubungan dengan campur tangan AS. Syarat ini meliputi: bahwa Amerika Serikat meninggalkan kamp tahanan Teluk Guantanamo; AS mengakhiri blokade terhadap negeri pulau itu; AS mengakhiri kebijakan “wet-foot, dry-foot” terkait orang Kuba yang berburu untuk tinggal di Amerika Serikat; dan mengakhiri penyiaran radio dan televisi anti-pemerintah ke pulau itu.

Ketiga, Apakah akan ada perubahan dalam kepemimpinan politik Kuba?

Presiden Kuba Raul Castro November baru-baru ini mengkonfirmasi bahwa ia bermaksud untuk mundur sebagai presiden di tahun 2018. Ditinggalkannya posisi kepala negara oleh Raul akan menandai perubahan besar dalam penempatan posisi politik tingkat atas di negara itu sejak kemenangan revolusi tahun 1959.

Meskipun 2018 masih beberapa tahun lagi, pembaharuan kepemimpinan di Kuba bisa terjadi lebih cepat ketika Partai Komunis Kuba mengadakan Kongres VII pada 16 April 2016. Tanggal ini bertepatan dengan ulang tahun ke-55 Deklarasi Sifat Sosialis dari Revolusi.

Kongres ini akan meninjau pekerjaan yang telah dilakukan sejak kongres terakhir, yang diadakan tahun 2011, di mana proposal untuk peningkatan model sosial dan ekonomi Kuba diperdebatkan dan disetujui.

Meskipun Raul Castro masih diharapkan akan tetap memegang Sekretaris Pertama Partai, kongres juga akan memilih komposisi komite sentral, sekretariat, dan biro politik. Siapa-siapa saja yang menempati pos kunci ini akan menunjukkan indikasi arah yang diambil Partai Komunis Kuba.

Sebuah perubahan terbaru juga membuat orang-orang yang berada di posisi senior hanya dapat melayani maksimum dua lima tahun, membuat pilihan untuk kepemimpinan partai yang masuk nanti menjadi semakin penting dan banyak dari mereka ini akan menempati posisi senior dalam negara. Partai ini telah mendorong peningkatan peran dan pentingnya pemimpin muda sejak kongres terakhir.

Ada juga spekulasi bahwa akan ada perdebatan untuk memperluas peran parlamen. Sebuah proposal yang sama untuk meningkatkan kewenangan pemerintah daerah sebelumnya diperdebatkan oleh Partai Komunis dan diharapkan akan diperluas karena para pimpinan partai telah mengindikasikan bahwa mereka ingin melihat peran kotamadya yang diperkuat.

teleSUR

*) Diterjemahkan oleh Mardika Putra

Share your vote!


Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid