Pers dan Perjuangan Nasional

Pers punya andil yang tidak sedikit dalam perjuangan anti-kolonialisme. Sebagaimana dengan tepat dicatat oleh penulis Lekra, Busjari Latif, bahwa pers telah menjalankan peranan sejarah dalam mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional kita. Lebih lanjut, Busjari mengungkapkan, pers revolusioner punya peran memprogandakan persatuan, teori-teori revolusioner, dan mengagitasikan kemarahan nasional dan seluruh rakyat melawan penjajahan.

Sekarang ini, ketika teknologi informasi berkembang sangat pesat dan kepemilikan industri media semakin terkonsentrasi di tangan segelintir orang, maka pers juga mengalami perubahan-perubahan orientasi. Kendati slogan mereka belum berubah “pers harus netral dan bebas nilai”, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar pers nasional sekarang lebih memihak kepada kepentingan pemilik modal, bahkan menjadi terompet dan alatnya kaum imperialis!

Intelektual progressif Amerika Latin, Marta Harnecker, pernah berkata: “demokrasi hanya bisa bertahan jikalau semua orang bisa memiliki informasi yang benar.” Di sinilah letak masalahnya: alih-alih pers nasional bisa menyajikan informasi dengan setengah kebenaran, mereka malah menjadi mesin “kebohongan” yang memanipulasi fakta sedemikian rupa berdasarkan kepentingan pemilik media dan kekuasaan politik yang sementara ini berkuasa.

Dalam beberapa kasus, karena media kapitalis sangat dikontrol oleh pemiliknya dan kepentingan mereka adalah profit, maka apa yang menjadi gaya mereka adalah menyajikan berita sensasional dan bombastis. Tidak sedikit, demi untuk mencapai tujuan-tujuan itu, media kapitalis harus manambah-nambahi atau mengurangi fakta, melencengkannya ke kanan da ke kiri, supaya terlihat bombastis dan sensasional.

Di tengah kepungan hebat imperialisme neoliberal, media telah menjadi instrumen paling pokok untuk menundukkan rakyat dan membuatnya tidak berdaya. Jika di jaman pergerakan pers memainkan peranan dalam membangkitkan kesadaran rakyat untuk melawan penjajahan kolonial, maka sekarang ini mereka justru “menidurkan” rakyat dalam tidur panjang di tengah-tengah penindasan oleh imperialisme modern.

Noam Chomsky sangat benar ketika mengatakan bahwa propaganda sangat penting bagi demokrasi borjuis, sebagaimana halnya dengan represi bagi negara totaliter. Kita menghadapi mesin propaganda raksasa yang sanggup bekerja 24 jam, dan menyalurkan informasi bohong ke rumah-rumah kita selama 24 jam pula.

Peranan media sekarang, seperti diterangkan dengan jelas oleh Chomsky, adalah instrument untuk “pabrik persetujuan”, yang memungkinkan anda seperti “kawanan gembala yang sedang bingung’. Media sangat berperan dalam mendisinformasi masyarakat.

Sebaliknya, mana ada media nasional yang bersuara lantang mengutuk perampokan sumber daya alam oleh pihak asing, atau adakah media nasional yang secara panjang lebar mengulas soal praktek nyata imperialisme di Indonesia sekarang ini.

Berdikari Online, sebagai media yang dilahirkan dari rahimnya perjuangan rakyat, secara tegas menyatakan dirinya sebagai pers yang memihak, yaitu memihak perjuangan rakyat melawan imperialisme dan neo-kolonialisme. Dan, berdikari online tidak berjuang sendiri, tetapi ada banyak media alternatif yang sekarang berani memunculkan diri dan mengusung pers perjuangan.

Bertepatan dengan hari pers nasional yang ke-65 hari ini, dan meskipun kami kurang berkenan dengan tanggal 9 Februari sebagai hari pers, maka kami mengajak pekerja pers di Indonesia untuk kembali kepada semangat pers di jaman pergerakan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • agus casyono

    pers harus bisa memuliakan kerjanya

    1. “kalo pers sudah tau penjajahan macam apa sekarang ini dan apa yang harus dilakukannya ? apa susahnya memberikan gambar serta tulisan yang nyata demi memulihkan & memuliakan semangat juang seperti zaman kemerdekaan”
    2. “kalo tidak tau, yah cari tau dan belajar dengan sejarah mulianya & bukan berdasarkan uang harus menutupi kenyataan sesungguhnya”

  • Tidak ada berita buruk, yang ada hanyalah wartawan buruk (terinspirasi dari pernyataan Zhu Songhua,Guru Cewek Paling Sexy di Cina: tidak ada siswa yang buruk, hanya guru yang buruk. Mengajar siswa tentang cinta dan tanggung jawab adalah yang paling penting, ketika bertemu dengan anak nakal, tidak perlu memarahinya namun berupaya lebih sabar membimbing dan mengajarinya).

    Jika Noam Chomsky mengatakan bahwa propaganda sangat penting bagi demokrasi borjuis, tentu bisa dan penting juga untuk isme lainnya, bukan? Kita butuh pers yang menawarkan solusi atas permasalahan di berbagai bidang.

    Mungkin ini sedikit melenceng dari tema pers namun berkait> Amerika dengan kapitalismenya melalui film Holywood yang diproduksinya, tidak saja selalu menyelipkan nasionalismenya namun juga psikologis kemenangan dan kebesaran mereka sebagai bangsa yang mampu keluar dari permasalahan.

    Media, baik cetak atau visual, tidak salah berkaca pada teknik Hollywood dalam membangkitkan semangat dan pandangan menang.

    Jika guru bisa menghasilkan murid yang baik, tentu jurnalis juga bisa menghasilkan berita yang baik. CIAO Pers Indonesia!