PRD: Jangan Terpancing Provokasi Berbau SARA, Perkuat Persatuan Nasional

Ketika perhatian sebagian besar rakyat Indonesia sedang tertuju kepada persoalan bangsa yang sangat besar, sekelompok orang telah melakukan provokasi kekerasan berbau SARA di dua tempat: Cikeusik dan Temanggung.

“Meski berlainan pemicu dan kasusnya, tetapi kejadian di Cikeusik dan Temanggung memiliki tujuan yang sama, yaitu memecah belah persatuan nasional di tengah kepungan imperialisme-neoliberal,” tulis Komite Pimpinan Pusat-Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD) dalam sikap politiknya yang diedarkan secara luas hari ini (9/8).

Menurut ketua umum PRD Agus Jabo Priyono, kejadian di Cikeusik dan Temanggung tidak dapat dipisahkan dengan persoalan pokok yang sedang dihadapi bangsa ini, yaitu Kemiskinan dan kesengsaraan rakyat akibat perampokan sumber daya alam oleh pihak asing.

“Kolonialisme secara fisik memang sudah menghilang di bumi Indonesia, dan juga Van Mook sudah tidak ada lagi di Indonesia, tetapi politik pecah-belah ala kolonial itu masihlah ada,” ujarnya.

Lebih lanjut, dalam pandangan PRD, politik pecah belah merupakan senjata paling efektif bagi kaum kolonialis untuk mencegah rakyat Indonesia menempa persatuan. “Karena politik pecah belah itu pula rakyat Indonesia dihalang-halangi untuk menemukan musuh pokoknya, yaitu kolonialisme.”

Dan, satu alat politik pecah belah yang sering dipergunakan kolonialis sejak dahulu adalah membakar perbedaan keyakinan. Padahal, persoalan keyakinan di Indonesia sudah selesai jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan ketika nusantara masih diperintah oleh kerajaan-kerajaan, kata “toleransi antar penganut keyakinan” sudah dikenal.

PRD kemudian mengutip pernyataan tokoh pendiri bangsa, Bung Karno, yang berkata: “Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama: ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang Buddha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama.”

“Jangankan orang yang berbeda keyakinan, mereka yang tidak beragama pun punya hak hidup di Indonesia,” tulis statemen PRD menyimpulkan pernyataan Bung Karno di atas.

Bukan kejadian spontan dan konflik warga

PRD mengambil dua kesimpulan penting terkait kejadian di Cikeusik dan Temanggung.

Pertama, kejadian ini bukanlah kemarahan spontan sebagaimana yang coba digambarkan oleh sumber resmi pemerintah maupun media massa, melainkan sesuatu yang sudah terkondisikan dan diatur jauh-jauh hari.

Kedua, tidak betul kalau kejadian itu disebut konflik warga dengan Ahmadiyah atau pihak tertentu, sebab dalam berapa kejadian, seperti di Cikeusik, pelaku penyerangan justru berasal dari luar Cikeusik dan mereka membawa simbol-simbol ormas tertentu. Kejadian di Temanggung juga begitu, anda bisa menyaksikan bendera dan simbol ormas terlihat saat kejadian.

Hal itu berarti bahwa ini bukanlah konflik warga versus jemaah ahmadiyah dan golongan minoritas lainnya, melainkan provokasi ormas tertentu terhadap kaum minoritas.

SBY harus bertanggung-jawab

Karena PRD menodongkan tudingan kepada imperialisme sebagai pihak yang berkepentingan atas politik pecah-belah ini, maka partai gerigi-bintang ini pun menganggap SBY harus mengambil tanggung-jawab lebih besar.

“Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai agen imperialisme di Indonesia, adalah pihak yang paling bertanggung-jawab untuk melestarikan politik pecah-belah dan pertikaian diantara rakyat, sambil membuka lebar-lebar pintu untuk penjajahan asing,” demikian ditulis PRD dalam pernyataan sikapnya.

PRD mengajak rakyat dan tokoh agama tetap bersatu

Untuk mencegah politik pecah-belah ini terus berlanjut dan meluas, PRD mengajak massa rakyat untuk tetap bersatu-padu dan berkonsentrasi untuk melawan musuh bersama, yaitu imperialisme.

Selain itu, dalam pernyataan sikapnya, PRD juga mengajak tokoh lintas agama untuk bersama-sama mencegah umat masing-masing masuk dalam arus provokasi murahan tersebut.

Beberapa bulan yang lalu, para tokoh agama telah menunjukkan langkah progressif, yakni dengan melakukan pertemuan bersama dan mengikrarkan perlawanan melawan rejim kebohongan.

“Kami menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk juga para tokoh-tokoh lintas agama, untuk memperkuat persatuan nasional guna melawan imperialisme. Jagalah persatuan itu seperti kita menjaga biji mata kita.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • kaluhara eja

    lagu lama, cuma kaset baru dari SBY.. membawa simbol ormas yg terkesan agamis tapi iblis.. milisi sipil yg tak tau diri sedang diadu untuk merapuhkan tulang2 perlawanan terhadap agen imperialis.. musuh kita nyata, tujuan kita jelas.. tetaplah pada garis perjuangan..