Ketika Penjilat Menyambut Pembohong (Bagian II)

Saat Sedang Duduk Pengunjukrasa Dipukul dari Belakang

Sejumlah aktivis FRAIN telah tiba di depan kampus Undana lama sejak pukul 07.00 WIT pagi. Hingga pukul 9, massa terus bertambah dan mencapai sekitar 250 orang. Mereka kemudian membagi-bagikan selebaran kepada mahasiswa Undana, hingga Pembantu Rektor III Undana datang bersama segerombolan anggota resimen mahasiswa (Menwa) dan satpam kampus. PR III minta agar para aktivis tidak berada di dalam lokasi kampus, sementara para menwa dan satpam merampas selebaran dari tangan mahasiswa dan merobeknya.

Agar tidak terjadi bentrokan yang tak perlu, FRAIN memutuskan segera membentuk barisan dan bergerak ke sasaran aksi, yaitu Pertigaan Monumen Tirosa. Silih berganti orator dari berbagai organisasi anggota FRAIN berbicara tentang dampak dari haluan ekonomi neoliberal terhadap hancurnya ekonomi nasional dan kesengsaraan rakyat. Yel-yel “Tolak SBY Antek-Neoliberal” sesekali menyelingi orasi.

Massa tiba di Pertigaan Tirosa sekitar pukul 10.00 WIT. Ratusan polisi bertameng, intel, dan aparat TNI berpakaian preman telah membentuk barikade menghadang di mulut Jalan El Tari. Baru saja Ketua PMII Mashurin selesai berorasi, polisi merangsek maju. Agar tak terjadi bentrokan, Warkolap Aksi Manto Sipa memerintahkan massa pengunjukrasa duduk. Yakin bahwa polisi akan mentaati kesepakatan saat negosiasi malam sebelumnya (FRAIN akan bertahan hingga pukul 12), korlap mempersilahkan sejumlah orator berbicara. Tetapi tak disangka, aparat merangsek maju, memukul dan menendang massa pengunjukrasa. Karena berada dalam posisi duduk, banyak yang terpukul pentungan di bagian belakang kepala, tengkuk, dan mendapat tendangan di punggung. Ada 4 orang ibu dan sejumlah aktivis perempuan diinjak di bagian perut dan punggung.

Humas aksi, Greorius Dala, yang mencoba bernegosiasi menenangkan situasi, justru dipukul di wajah hingga memar. Begitu juga aktivis LMND Kupang, Yondris Toulwala, dipukul pentungan hingga sobek di pelipisnya. Sementara Rio, dari PMKRI Kupang, ditendang di dada hingga sempat sesak napas. Setidaknya 16 orang korban luka sobek dan memar yang berhasil dijumpai Berdikarionline. Mereka mendapat tendangan, pukulan kepalan tangan, dipentungi dan diinjak.

Setelah sekitar 30 menit lamanya dikejar dan dipukuli oleh aparat keamanan, para pengunjukrasa yang sempat tercerai-berai akhirnya berhasil terkonsolidasi. Atas negosiasi yang dilakukan dengan sejumlah komandan lapangan pihak polisi, massa FRAIN diperbolehkan untuk melanjutkan unjukrasa di depan sekretariat PMKRI Kupang. Tetapi karena polisi tetap mengepung, korlap meminta massa untuk duduk agar terhindar dari pemukulan kembali.

Tetapi tampaknya di antara komandan pihak kepolisian tidak ada komando yang solid. Ketika yang seorang membolehkan massa bertahan di PMKRI, yang lain justru memerintahkan para prajurit terus menekan massa. Ratusan aktivis mahasiswa kembali dipukuli dari belakang. Menghindari bentrokan, massa FRAIN kembali mundur, kali ini ke arah Perempatan Polda. Tetapi polisi terus menekan, dan meminta massa berujukrasa di trotoar.

Merasa permintaan polisi tidak lagi masuk akal, FRAIN memutuskan untuk melawan. Massa menuntut mereka diperbolehkan maju hingga di jalan depan PMKRI di seberang Mapolda NTT. Ketika massa berhasil merangsek maju, polisi mendatangkan pasukan tambahan. Berhitung soal jumlah kekuatan yang lebih kecil, para pemimpin FRAIN memutuskan untuk memindahkan panggung orasi dari jalan ke trotoar di depan sekretariat PMKRI. Unjukrasa berlangsung hingga pukul 17.00 sore.

Meskipun sebagian besar mahasiswa dan rakyat baru pernah mengalami aksi bentrok, tidak sedikitpun merekamerasa takut. Jona Maure, yang baru bergabung dengan LMND, mengatakan, “kini kami semakin yakin untuk melawan dan menumbangkan pemerintahan neoliberal ini. Pidato mereka tentang demokrasi ternyata omong kosong belaka.”

Seperti Menyambut Soeharto, Siswa SD hingga SMU Disuruh Berbaris Sepanjang Jalan

Alih-alih mendapat sambutan hangat dan tulus, kedatangan SBY memicu reaksi kemarahan masyarakat Kota Kupang. Kemarahan itu dipicu bukan saja oleh represi terhadap unjukrasa damai yang digelar FRAIN, tetapi juga oleh pengerahan siswa SD hingga SMU disepanjang jalan yang akan dilalui SBY. Barisan pelajar berseragam merah-putih hingga putih-abu tampak membentang sepanjang 10 kilometer. Di tangan mereka tergenggam bendera merah putih.

Yuli, ibu dari Andi (7), siswa SD yang turut dimobilisasi menyambut SBY, kecewa dengan pihak sekolah, karena hingga pukul 3 anaknya belum bisa pulang rumah. “Untung saya sempat bawa makan untuknya. Banyak orang tua saya dengar tidak sempat lakukan itu.”

Maria, orang tua pelajar lainnya mengatakan, penyambutan pejabat seperti ini tidak beda seperti jaman Soeharto. “Kita kembali ke hidup di masa 80-an,” ujarnya.

Kecaman juga datang dari sejumlah tokoh agama yang menghadiri acara pengresmian Gong Perdamaian. Kepada Berdikarionline, wartawan sebuah media online membagi komentar pendeta Eben Nuban Timo (Ketua Sidone Gereja Masehi Injili Timor) dan KH Abdul Kadir Makarim (Ketua MUI NTT). Keduanya mengganggap ironis peresmian Gong Perdamaian oleh SBY yang gagal menjamin kebebasan beragama di Indonesia.

Sungguh, kehadiran SBY di NTT menjadi sebuah lelucon besar. Kedatangan sang antek-neoliberal yang diteriaki mahasiswa sebagai pembohong ini justru memunculkan aroma fasis dan feodal yang menyengat di Kota Kupang. “Inilah yang terjadi ketika pembohong disambut para penjilat,” kata Sekretaris EW LMND Roger Mau.***

Lampiran:
Korban Penyerangan Polisi Terhadap Massa Pengunjukrasa Damai FRAIN
• Vicky Marus, PMKRI: dipukul pentungan di tengkuk saat duduk membelakangi polisi
• Mario, PMKRI: ditendang di dada dan dipukul di tengkuk
• Ino, PMKRI: dipukul dan ditendang saat duduk
• Aries, PMKRI: ditendang di tulang kering
• Bedi Roma, PMKRI: dipukul pentungan di kepala
• Serviana Klau, FMN: diinjak di punggung saat terjatuh
• Aris, FMN: di pukul di wajah
• Yondris Toulwala, LMND: luka sobek di pelipis akibat dipukul pentungan
• Ening Seno, LMND: diinjak di perut saat terjatuh
• Caster Seno, LMND: ditendang di tulang kering, dipukul pentungan di bahu
• Masrudin, IMM: luka sobek di kakinya.
• Binbo, IMM: sobek di kaki akibat tendangan.
• Sandia, IMM: diinjak di punggung ketika terjatuh.
• Elsi, PRD: memar di paha akibat tendangan.
• Gregorius Dala, PRD: ditonjok di mukanya saat sedang bernegosiasi. Luka memar di wajah.
• Rio Ello: didorong hingga terjatuh dalam selokan.
• 4 orang ibu anggota SRMI—tidak sempat diwawancara: dipukul dan didorong jatuh.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags:
  • hendro

    astaga… memang susah juga berhadapan dengan polisi2 yang entah 20 juta dan seterusnya mereka dapat memakai seragam yang katanya mengayomi…….

  • ELLE

    KEJAM.. aparat keamanan bukan aparat keamanan.. tapi setan jahanam yang oraknya semua sudah di cuci untk membunuh.. indonesia sudah jelas jelas dengan tingkah dan perlakuan kepada rakyat seperti ini, menjalankan sistim mashall pemerintahan.. ada yang berani buka mulut di siksa dan kalau bisa di bunuh.. lebih baik pisah dan tidak perlu kepala sakit.. jadi negara tersendri bagian timur.. kasian saudra/i yang di perlakukan orangnya yang seharusnya melestarikan keamanan tapi keamanan di indonesia cuma di liaht ama kalau pejabat di lindungi dan rakyat di siksa itu sudah keamanan.. orang gila yang menjabat..bukan orang adil yang perduli orang yang memberi suaranya untuk mempercayai mereka menjabat untuk laksanakan apa yang perlu untuk menjamin kesejarhteraan rakyat..terlalu gila