Perlunya Proses Dekolonialisasi

Proses dekolonialisasi adalah proses pembongkaran kelembagaan, sosial, budaya, dan struktur simbolis yang mengikat aktivitas keseharian rakyat untuk menerima kepentingan, hirakhi, dan narasi yang dipaksakan dari kekuatan eksternal. Itulah tugas setiap bangsa yang baru merdeka dari kolonialisme.

Pada 1945 hingga pertengahan 1960-an, Bangsa Indonesia berjuang keras untuk melakukan proses dekolonialisasi. Selain perjuangan memantapkan syarat-syarat politik sebagai negara, perjuangan bangsa Indonesia juga tertuju pada penghancuran struktur ekonomi, sosial, dan budaya kolonialisme.

Narasi besar yang digaungkan oleh pendiri bangsa saat itu, khususnya Bung Karno, adalah revolusi. Revolusi di sini, seperti diartikan oleh Bung Karno, adalah sebuah momen untuk menjebol dan membangun; menjebol alam kolonialisme dan membangun sebuah negara merdeka sepenuh-penuhnya.

Tetapi, seperti anda ketahui, proses dekolonialisasi di Indonesia tidak berjalan tuntas. Di tahun 1965, sebuah kudeta sayap kanan dengan dukungan negeri-negeri imperialis berhasil menghentikan proses itu. Setelah itu, ketika rejim Soeharto berkuasa, Indonesia praktis mengalami penjajahan ulang (rekolonialisme).

Bangsa terjajah adalah bangsa yang tidak bisa menjalankan politiknya sendiri, melainkan menjadi objek kepentingan politik bangsa lain. Bangsa terjajah juga tidak bisa berekonomi, tetapi menjadi objek ekonomi. Pendek kata, bangsa terjajah tidak bisa menjalankan syarat-syarat hidupnya secara bebas, tetapi selalu ditekan oleh kekuatan asing untuk menjalankan syarat-syarat yang merugikan kepentingannya.

Proses kolonialisme ini dilakukan dari waktu ke waktu hingga rakyat jajahan menerima hal itu sebagai kebiasaan. Praktek keterjajahan itu akan dipaksakan untuk diterima oleh rakyat sebagai “proses normal”; tercermin dari kehidupan sehari-hari, persepsi, dan cara pandang terhadap kehidupan.

Rakyat jajahan itu akan menerima keterjajahan itu sebagai kondisi normal. Dengan demikian, seperti dikatakan Bung Karno, rakyat jajahan adalah rakyat yang tidak bisa ‘menemukan diri sendiri’, suatu bangsa yang tidak berada dalam zichself…”

Ini sangat nampak dalam kehidupan bangsa kita saat ini. Ada begitu banyak kebijakan politik, termasuk produk perundang-undangan, yang menjiwai tujuan-tujuan kolonialisme, tetapi tidak ditolak oleh masyarakat umum. Di kalangan intelektual kita, misalnya, hampir tidak ada kesadaran atau kritisisme terhadap berbagai kebijakan ekonomi-politik yang mempromosikan kolonialisme.

Isu dominasi asing dalam perekonomian, misalnya, hampir tidak terlalu dipersoalkan di ruang-ruang pendidikan di sekolah dan universitas. Seakan-akar cara pandang ilmiah di Universitas menganggap isu dominasi asing itu sebagai sesuatu yang normal dalam kehidupan suatu bangsa.

Padahal, jika mau jujur, ekses dominasi asing itu sangat nyata dalam kehidupan ekonomi nasional: kehancuran industri nasional, penguasaan asing terhadap aset-aset strategis, penguasaan asing terhadap sumber daya alam nasional, dan lain sebagainya. Pemerintah juga tidak ‘berdaulat’ dalam menjalankan perekonomian untuk memenuhi kepentingan nasionalnya.

Kolonialisme juga membuat rakyat Indonesia mengalami proses entfremdung (pengasingan). Akibat pembodohan dan pemelaratan, rakyat Indonesia tidak menjalankan sifat kemanusiaannya sebagai manusia, yaitu mengembangkan segala potensi dan kemampuannya sebagai manusia.

Usaha sebagian besar rakyat Indonesia untuk mengembangkan dirinya mengalami retriksi: kemiskinan, biaya pendidikan mahal, biaya kesehatan mahal, upah sangat rendah, barang-barang kebutuhan sosial diprivatisasi, dan lain sebagainya. Kolonialisme menempatkan tenaga kerja Indonesia sebagai tenaga kerja murah. Dalam banyak kasus, pekerja-pekerja Indonesia mengalami diskriminasi upah dibanding pekerja-pekerja asing.

Kita harus menjalankan proses dekolonialisasi. Sejumlah negara di Amerika Latin, seperti Bolivia, Venezuela, dan Ekuador, sedang menjalankan proyek dekolonialisasi ini. Pada tahap pertama, perjuangan mereka tertuju pada upaya memulihkan kedaulatan nasional, merebut kembali sumber daya dan kekayaan alam nasional, dan memulai proses pembangunan sosial-ekonomi yang menyentuh sektor-sektor yang selama ini dipinggirkan oleh neoliberalisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut