1911: Akhir Sebuah Kekuasaan Feodal

1911 (REVOLUTION)

Sutradara: Zhang Li dan Jackie Chang
Tahun produksi: 2011
Pemain: Jackie Chan, Winston Chao, Li Bingbing, Sun Chun, dan Joan Chen.
Durasi: 125 menit

Di permulaan abad 20, Tiongkok membuat perubahan besar dalam sejarah umat manusia: revolusi yang menumbangkan kekuasaan feudal yang berkuasa lebih dari 2000-an tahun.

Revolusi terjadi pada tahun 1911. Pencetusnya adalah seorang bekas dokter, Sun Yat Sen, yang sering dijuluki bapak pendiri Tiongkok. Namun, selain kepemimpinan si bekas dokter, revolusi ini digerakkan oleh pemuda-pemuda yang rela menjadi martir.

Pada 23 September 2011 lalu, bertepatan dengan peringatan 100 tahun revolusi besar itu, Zhang Li dan Jackie Chang meluncurkan film khusus untuk mengenang revolusi itu: 1911 Revolution.

Dalam film berdurasi 125 menit itu sosok Sun Yat Sen diperankan oleh Winston Chao. Sedangkan Jackie Chan memerankan Huang Hsing, seorang revolusioner dan sekaligus kawan loyal Sun Yat Sen. Konon, ini adalah film ke-100 yang diperankan oleh Jackie Chan.

Film ini dibuka dengan adegan seorang perempuan revolusioner yang sedang berjalan menuju tempat hukuman mati. “Kematianku kali ini adalah demi revolusi,” kata perempuan itu dengan gagah berani.

Sementara itu, sekelompok aktivis Tong Meng Hui (Liga Revolusioner Tiongkok), sebuah organisasi revolusioner yang dibangun Sun Yat Sen pada tahun 1905, sedang mempersiapkan pemberontakan. Sebagian besar anggotanya adalah pemuda-pemuda revolusioner.

Pada 27 April 1911, Huang Xing, yang memimpin ratusan pemuda, memulai insureksi bersenjata di kantor Gubernur Guangzhou. Pemberontakan ini mengalami kegagalan total. 72 orang revolusioner, umumnya berusia muda, gugur sebagai martir revolusi.

Sementara itu, Sun Yat Sen sedang berada di luar negeri. Ia bekerja menggalang dana, menyelundupkan senjata, dan berjuang keras menghentikan bantuan bankir eropa terhadap dinasti Qing.

Dinasti Qing sendiri sedang dalam krisis. Untuk mengatasi krisis itu, pihak kerajaan berusaha meminjam uang di Bank empat bangsa di Eropa. Akan tetapi, permintaan pinjaman itu harus dibayar mahal: Dinasti Qing harus rel kereta apinya. Tindakan itu dianggap menggadaikan kedaulatan negara.

Situasi itu memicu kerusuhan dan pemberontakan di mana-mana. Pada 10 oktober 2011, Zhang Zen Wu (Jaycee Chan) memulai pemberontakan di Wuchang. Dalam waktu singkat, kaum insurgente berhasil mengambil-alih kota ini.

Kemenangan di Wuchang telah memercikkan api revolusi di kota-kota lain. Sementara 14 provinsi mendeklarasikan diri. Saat itu, Sun Yat Sen sedang dalam perjalanan menuju ke Amerika Serikat. Ia berniat mengumpulkan orang-orang Tiongkok di luar negeri dan meminta dukungan mereka.

Dalam pertemuan dengan sejumlah bankir eropa, Sun Yat Sen berbicara tentang dukungan tidak langsung bankir-bankir itu terhadap rejim feudal korup di Tiongkok. “Setiap kali dinasti Qing melepaskan tembakannya kepada kami, maka uang andalah yang menarik pelatuknya,” kata Sun Yat Sen.

Sun Yat Sen berjuang keras memutus pinjaman bankir-bankir Eropa kepada Dinasti Qing. Maklum, sebagian besar pinjaman itu dipergunakan oleh Dinasti Qing untuk membeli senjata dan menghancurkan gerakan revolusioner.

Sementara itu, balatentara Dinasti Qing tidak berhasil menembus pertahanan kaum revolusioner di Wuchang. Sebaliknya, dengan kepemimpinan aktivis Tong Meng Hui, kaum revolusioner berhasil merebut kota-kota, seperti Hunan, Shaanxi, Jiangxi, Shanxi, Yunnan, Zhejiang, Guizhou, Jiangsu, Anhui, Guangxi, Fujian, Guangdong dan Sichuan.

Akhir 1911, Sun Yat Sen telah kembali ke Tiongkok. Bersamaan dengan itu, perwakilan dari 17 provinsi telah sepakat untuk membentuk Pemerintahan Sementara dan memilih seorang Presiden Sementara.

Hari itu, 29 Desember 1911, saat pemilihan Presiden sementara sedang berlangsung, Sun Yat Sen sendiri hanya duduk santai di luar ruangan. Homer Lea, seorang penulis amerika yang juga pendukung revolusi, menemukan Sun Yat Sen di luar ruangan.

“Apa yang anda lakukan di sini,” tanya Homer kepada Sun Yat Sen.

“Pemilihan presiden sedang berlangsung di Aula Konferensi. Saya merupakan salah satu kandidat,” balas Sun Yat Sen.

“Anda sedang membuat sejarah. Saya menyaksikan sebuah sejarah,” teriak penulis Amerika itu penuh kegirangan.

Konferensi itu memutuskan memilih Sun Yat Sen sebagai Presiden Sementara. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Dinasti Qing yang dua abad dan sekaligus meruntuhkan kekuasaan Feodal yang berumur 2000-an tahun.

Akan tetapi, umur pemerintahan sementara berlangsung singkat. Pada bulan Februari, Sun Yat Sen dipaksa mundur setelah kaum revolusioner berdamai dengan panglima perang Yuan Shikai. Sun kemudian tidak ambil-bagian dalam pemerintahan.

Yuan Shikai kemudian memaksa parlemen untuk memformalkan jabatannya sebagai Presiden. Sun Yat Sen berusaha melakukan perlawanan tetapi gagal. Sun Yat Sen kemudian pergi ke Jepang dan berusaha memulai lagi revolusi dari sana.

Film ini menghasilkan biaya sebesar 30 juta USD. Pengeluaran sebesar itu tidak begitu sia-sia. Setidaknya, usaha Zhang Li dan Jackie Chan ini juga berguna untuk memperkenalkan sejarah Tiongkok modern kepada dunia internasional.

Film ini sedikit mengungkap kebusukan barat terkait sokongan mereka terhadap rejim feudal korup di Tiongkok. Setidaknya, barat tidak bisa terus “berlagak suci” sebagai penjaga demokrasi ketika mengeritik pemerintahan komunis Tiongkok.

Sebagai film sejarah, tentu tanpa pengetahuan sejarah yang baik, penonton akan kebingungan dengan rentetan peristiwa berbentuk kronologis dalam film ini.

Akan tetapi, film ini patut diberi jempol. Setidaknya, bagi generasi muda Tiongkok saat ini, juga generasi muda di Indonesia, film ini menjadi pembuka fikiran mereka mengenai kontribusi pengorbanan di masa lalu untuk membangun masa kini.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut