Perjuangan Venezuela Mengontrol Harga-Harga Kebutuhan Rakyat

Venezuela sering berhadapan dengan kenaikan harga yang tak terkendali. Hal itu disebabkan oleh aksi-aksi spekulasi dan penimbunan. Rakyat pun sering menjadi korban dari ‘aksi-aksi yang sekedar cari untung itu’.

Akhirnya, sejak Juli 2011 lalu, Venezuela sudah merancang UU mengatur harga barang secara adil. Dengan UU baru itu, pemerintah Venezuela punya kekuasaan untuk mengontrol harga barang agar tetap terjangkau oleh rakyat.

Tetapi perjuangan untuk mengontrol harga barang tidaklah gampang. Akhir-akhir ini, pemerintah Venezuela sering mendapat ancaman dari kelompok bisnis. Bagi kelompok bisnis, kehadiran UU itu tidak relevan dan berpotensi memicu kelangkaan barang.

Presiden Venezuela, Hugo Chavez, pun segera bereaksi. Menurut Chavez, kebijakan pemerintah itu justru untuk memberi ‘keadilan harga’ kepada rakyat Venezuela. Bagi Chavez, kebijakan tersebut akan sangat berguna untuk memerangi spekulasi dan penimbunan.

Menurut Chavez, kendati harga barang-barang dipatok pemerintah, perusahaan swasta tetap bisa menikmati keuntungan. Caranya: pemerintah Venezuela akan turun ke lapangan dan pasar-pasar untuk mengecek harga-harga. Dari situ, pemerintah akan mengambil patokan harga normal.

Chavez mengancam akan menasionalisasi perusahaan-perusahaan yang tidak mau tunduk dengan ketentuan baru ini. “Oposisi mengancam bahwa ini akan terjadi destablisasi, tidak masalah…tidak ada masalah. Datanglah kemari dengan bisnismu dan saya akan menyerahkannya kepada pekerja,” kata Chavez.

Selain itu, kalau perusahaan swasta mengancam melakukan penutupan pabrik, maka pemerintah Venezuela akan meminta bantuan Tiongkok.

“Ini pesan untuk Tiongkok…di sini orang-orang tertentu mengancam kami: Jika presiden menurunkan harga Mum Bolita (deodoran), maka pabrik akan tutup. Kami akan mendatangkan yang lain, kami membawanya dari Tiongkok,” tegas Chavez.

Chavez baru saja mengatur harga 19 barang rumah tangga dan peralatan mandi. Salah satunya adalah produk deodorant dan air kemasan. Sebelumnya, harga kedua produk itu dua kali dari biaya produksinya.

“Harga rata-rata pemutih di pasar mencapai 13,57 bolivar per liter. Sedangkan studi menunjukkan bahwa biaya untuk menghasilkan seliter pemutih tidak lebih dari 6 bolivar. Itu juga terjadi pada sabun, deodoran, desinfektan, shampo, lilin, air mineral, alat cukur dan pembalut. Ini tidak boleh terjadi. Kita harus menghentikannya,” kata Chavez.

Di Venezuela, aksi penimbunan dan spekulasi tidak sebatas untuk meraup keuntungan besar. Dalam banyak kasus, penimbunan dan spekulasi dijadikan taktik politik untuk mengacaukan hubungan pemerintah dan kelompok bisnis.

Banyak harga barang yang turun drastis akibat kebijakan ini. Sebuah koran swasta Venezuela, El Nacional, melaporkan penurunan harga air kemasan (minalba) dan deodorant (mum) masing-masing 45,86% dan 24,15%.

Pepsi dan Cola Akan Diinvestigasi

Dua perusahaan minuman AS, Pepsi dan Cola, akan menjalani proses investigasi terkait tudingan menaikkan harga secara sepihak.

Badan pengawas harga barang (Sundecop) sudah ditugaskan untuk melaksanakan investigasi terkait tudingan di atas. Dalam waktu dekat, kedua perusahaan asal Amerika Serikat dipaksa menunjukkan rekening dari November 2011 hingga Januari 2012.

Pemerintah Venezuela sudah mengumumkan akan mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan-perusahaan yang sengaja mengabaikan ketentuan UU pengontrolan harga. Pengusaha perusahaan yang melanggar itu akan dipenjara hingga 6 tahun.

RAYMOND SAMUEL/ AVN

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut