Mahasiswa Lampung Peringati Tragedi UBL Berdarah

Puluhan mahasiswa memenuhi ruangan cafetaria Universitas Bandar Lampung pada Rabu (28/9) malam. Bukan tanpa sebab, mahasiswa yang berasal dari berbagai unit kegiatan mahasiswa, organisasi internal kampus, dan organisasi eksternal kampus ini sedang memperingati Tragedi UBL berdarah yang menewaskan dua aktivis mahasiswa 17 tahun silam.

Peringatan tragedi UBL berdarah yang rutin dilakukan tiap tahunnya ini diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni Universitas Bandar Lampung (UKMBS-UBL) dengan bertajuk diskusi yang menghadirkan pelaku sejarah dan pementasan seni. Acara ini dimulai sekitar pukul 19.30 WIB.

Hadir dalam acara sejumlah pelaku sejarah, antara lain: Rahmad (sekertaris PRD Lampung), Agus Revolusi (anggota DPRD Lampung) dan lain-lain. Hadir juga Rakhmat Husein (deputi politik PRD Lampung) dan Ricky Satriawan (ketua LMND Bandarlampung) sebagai pembicara. Selain itu, hadir pula pencipta lagu darah juang, John Tobing, yang turut serta mengisi acara dalam pementasan seni.

Dalam pembicaraannya, Rahmad mengapresiasi terselenggaranya acara peringatan tragedi UBL berdarah ini. Dia mengatakan bahwa tragedi UBL berdarah adalah salah satu sejarah gerakan mahasiswa di Lampung yang tidak boleh dilupakan.

“Tragedi UBL berdarah, salah satu perjuangan mahasiswa Lampung dalam menentang sisa sisa kekuatan rezim orde baru, berjuang untuk tegakknya demokrasi, harus selalu diingat untuk menambah semangat juang kita hari ini,” ujarnya.

Sedangkan Agus Revolusi dalam pemaparannya mengatakan bahwa tragedi UBL berdarah yang terjadi pada 28 September 1999 di depan kampus UBL adalah bentuk perlawanan mahasiswa Lampung pada saat itu dalam memprotes inkonsistensi pemerintah dalam membuka ruang demokrasi bagi rakyat pasca jatuhnya orde baru serta penolakan konsep dwi fungsi ABRI.

“Di era awal reformasi, dimana seluruh rakyat mengelukan adanya proses demokratisasi diseluruh bidang, pemerintah berencana menerapkan RUU Penanggulangan Bahaya (PKB), RUU Rakyat Terlatih (RT), kami menilai bahwa rencana pemerintah tersebut adalah upaya membangkitkan kembali kekuatan orde baru. Hampir diseluruh daerah terjadi aksi demonstrasi menolak rencana pemerintah tersebut, termasuk di Lampung,” paparnya.

Diapun menambahkan, seiring proses demokratisasi pasca runtuhnya orde baru sudah sepatutnya dwi fungsi ABRI dicabut. Karena dwi fungsi ABRI hanya akan menimbulkan arogansi militer dalam melindungi kebijakan yang mereka buat sendiri.

“Sebagai alat keamanan negara, tidak seharusnya ABRI turut campur dalam berpolitik, dan orde baru sudah membuktikan bahwa dwi fungsi ABRI hanya melahirkan pemerintahan fasis, anti kritik, anti demokrasi, dan penindasan dengan kekerasan bagi rakyat yang melawan,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan bahwa aksi yang dilakukan pada tanggal 28 September 1999 itu kemudian dihalangi oleh pihak bersenjata (TNI) hingga akhirnya bentrokpun tidak dapat dihindari.

“Pada saat itu, dalam aksi long march kami dari kampus Unila menuju Makoramil Kedaton, kami dihadang oleh pihak bersenjata (TNI) tepat di depan kampus UBL, kemudian tidak lama terdengar suara tembakan, akhirnya bentrok pun pecah,” kenangnya.

Menurut dia, militer mengejar mahasiswa hingga ke dalam kampus. Banyak yang dipukuli hingga babak belur. Akibatnya, 44 orang mahasiswa terluka dan 2 orang tewas. Korban tewas dalah Atul (Saidatul Fitria) dan Ijal (Yusuf Rizal).

Sementara itu, Rakhmat Husein menjelaskan pentingnya mengingat tragedi yang pernah terjadi di depan kampus UBL tersebut. Ia pun menegaskan bahwa apa yang sudah dilakukan oleh gerakan mahasiswa saat itu harus menjadi spirit bersama untuk melakukan perubahan saat ini.

“Selain mengenang perjuangan mereka, kita harus menjadikannya spirit dalam melakukan perjuangan hari ini. Meskipun kini sudah tidak ada lagi dwi fungsi ABRI, tetapi ketidakadilan masih kita rasakan, khususnya bagi keluarga korban,” jelasnya.

Di akhir pembicaraannya, ia juga  menyinggung aktivis yang terkenal dengan puisi-puisi perlawanannya, Widji Tukul, yang juga korban dari arogansi militer rezim orde baru.  Ia pun menutup pembicaraannya dengan membacakan puisi Widji Tukul berjudul “Aku Masih Utuh dan Kata-Kataku Belum Binasa”.

Hal senada disampaikan Ricky Satriawan. Ia menjelaskan soal tugas kaum muda saat ini untuk melawan segala bentuk ketidakadilan. Menurutnya, kendati kebebasan berserikat dan berkumpul sudah diakui, tetapi masing seringkali terjadi pembubaran diskusi dan pengekangan hak berpendapat.

“Butuh perjuangan yang berat dan berdarah darah untuk mendapatkan ruang demokrasi yang kita rasakan hari ini. Karena itu, kita sebagai kaum muda harus bisa memanfaatkan ruang ini sebisa mungkin, mengkritisi apa yang perlu dikritisi, mendukung apa yang perlu didukung,” tandasnya.

Setelah itu tampil di panggung acara, pencipta lagu darah juang John Tobing yang menyanyikan beberapa lagu ciptaanya. Salah satunya: Darah Juang. Hampir semua hadirin ikut bernyanyi ketika lagu Darah Juang dilantunkan.

Dalam acara ini, UKMBS UBL juga mempertunjukan kebolehan mereka dalam berkesenian, seperti tarian dan teater yang berisikan adegan sekilas tragedi UBL berdarah. Acara ini berakhir sekitar pukul 22.00 WIB dan ditutup setelah lagu Iwan Fals “Pesawat Tempur” oleh divisi musik UKMBS UBL

Devin Areyansah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut