Perdana Menteri Yunani Umumkan Pengunduran Diri

Alexis

Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras mengumunkan pengunduran dari dari jabatannya, Kamis (20/8/2015). Namun, ia berharap bisa berkuasa kembali sebagai Perdana Menteri melalui pemilu dipercepat yang dijadwalkan pada 20 September 2015.

“Saya akan menemui presiden untuk menyerahkan pengunduran diri saya, serta pengunduran diri pemerintahan saya,” kata Tsipras dalam pidatonya di televisi sebelum bertemu Presiden Yunani Presiden Yunani Prokopis Pavlopoulos.

Namun, pengunduran diri ini hanyalah strategi Tsipras untuk menyingkirkan oposisi kiri di dalam pemerintahannya. Alexis yakin, jika pemilu digelar pada 20 September mendatang, dirinya akan menang kembali sekaligus meraih dukungan penuh rakyat Yunani dalam pemulihan ekonomi.

“Aku meminta rakyat Yunani sekiranya mereka berharap ada hasil. Anda akan memutuskan bagaimana memulihkan ekonomi Yunani, dengan suaramu anda menentukan masa depan Yunani,” serunya.

Dia mengaku, pihaknya gagal mencapai kesepakatan dengan kreditur sesuai dengan mandat rakyat pada Pemilu Januari 2015. “Saya merasa harus bertanggung jawab secara etis dan politik pada penilaian Anda semua terhadap apa yang telah saya lakukan, baik keberhasilan dan kegagalan,” tambah Tsipras.

Namun demikian, Tsipras bersikukuh membela paket kebijakan bailout terbaru yang dibuatnya dengan kreditur Eropa. Menurut dia, kesepakatan baru ini berbeda dengan paket penghematan ‘kolonial’ yang diputuskan oleh rezim sebelumnya.

“Kami telah mencapai banyak hal. Kami melawan korupsi, melawan klientalisme dalam politik. Tetapi untuk memenangkan pertempuran ini, kami membutuhkan politik yang stabil,” terangnya.

Untuk diketahui, Yunani baru saja menerima dana bail out sebesar 86 miliar euro (Rp 1.333 triliun) dari kreditur Eropa. Tetapi dana tersebut disertai paket kebijakan penghematan yang semakin memperdalam penderitaan rakyat Yunani.

Partai kiri Syiriza, yang mengusung Tsipras dalam Pemilu lalu, terpecah. Oposisi kiri dalam partai yang berdiri tahun 2004 ini menyatakan penolakan terhadap paket penghematan yang baru. Bahkan hampir sepertiga wakil Syriza di parlemen juga bersikap menentang kebijakan Tsipras.

Berhadapa dengan oposisi di tubuh partainya, Tsipras gagal meraih dukungan mayoritas di parlemen pekan lalu. Sekaligus ini mempersulit posisinya jika hendak melanjutkan paket kabijakan bailout yang memasuki tahap lebih berat.

Faksi oposisi dalam Syriza, termasuk 25 anggota parlemen dari Syriza, sudah menyatakan keluar dari partai Syriza dan mendirikan partai baru, yaitu Partai Persatuan Rakyat. Partai baru ini dipimpin oleh mantan Menteri Energi Yunani,  Panagiotis Lafazanis, yang dipecat oleh Tsipras awal tahun ini karena menolak mendukung kebijakan pemerintah.

Lafazanis menudung Tsipras telah menghianati mandat rakyat Yunani melalui referendum pada bulan Juni lalu yang tegas sekali menolak kebijakan penghematan. “Kami ingin menyuarakan 62 persen rakyat yang menyatakan ‘Tidak’ (pada referendum) dan tidak menginginkan dana talangan,” ujarnya.

Berdasarkan Konstitusi Yunani, jika Perdana Menteri mengundurkan diri, tiga partai terbesar masing-masing akan diberi mandat untuk membentuk pemerintahan. Setiap partai akan diberi waktu tiga hari untuk mendapatkan dukungan di parlemen. Jika tidak berhasil, kesempatan akan diberikan pada partai berikutnya.

Pada hari Jumat ini, mandat akan diberikan kepada partai oposisi terbesar, Partai Demokrasi Baru. Tetapi kecil peluang bagi partai yang dipimpin oleh tokoh konservatif Vangelis Meimarakis ini untuk berhasil membentuk pemerintahan.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut