Perang Dagang AS versus Tingkok Makin Panas

WASHINGTON: Kongres AS pada sidang komisi hari Jumat (24/9) menyetujui RUU yang akan memberi sanksi perdagangan terhadap Tiongkok, yang rencananya akan mulai berlaku pada bulan November mendatang.

Pemerintah AS menuding Tiongkok sengaja memanipulasi dan merendahkan nilai tukar mata uangnya, Yuan, untuk menciptakan keuntungan pada ekspornya.

“Manipulasi Cina yang persisten merupakan gangguan besar dalam pasar internasional,” kata Sander Levin, Ketua Komisi Pendapatan Negara DPR Amerika.

“(Yuan) memiliki dampak besar terhadap para buruh di Amerika dan juga lapangan kerja di Amerika. Inilah masalahnya.”

RUU ini akan membolehkan AS menerapkan pembatasan impor terhadap terhadap Negara-negara yang sengaja “memperendah nilai mata uangnya”.

Namun, sebagian orang mempertanyakan “komitmen pasar bebas AS” terkait persoalan ini.

“Yuan” Hanya Kambing Hitam

John Naisbit, seorang ahli futuris AS dan penulis buku terlaris “Megatrends” melontarkan argumen tentang mata uang China yang, menurut dia, “90% politik dan 10% ekonomi”.

Ia juga mencatat bahwa Tiongkok telah menjadi “kambing hitam” untuk persoalan domestik AS dan Negara Uni-eropa.

Di satu sisi, AS terus-menerus mengeluh dengan rendahnya nilai tukar mata uang Tiongkok, namun, pada sisi lain, memblokade ekspor berteknologi-tinggi ke Tiongkok.

Mengenai masa depan daya saing Tiongko, Naisbit mencatat bahwa Tiongkok telah berupaya kuat untuk beralih dari “imitasi” menjadi “inovasi” dengan dukungan kebijakan pro-lingkungan.

Di sektor-sektor tertentu seperti nano-teknologi, bioteknologi, robot dan teknologi informasi, Tiongkok mungkin akan mendominasi di masa depan, katanya seperti dilaporkan Kantor Berita Xinhua.

Keterpurukan Ekonomi AS

Professor ekonomi lainnya, John Ross, Shanghai Jiaotong University, menganggap persoalan structural yang dihadapi AS lebih “berdosa” atas kesulitan ekonomi dunia saat ketimbang persoalan nilai tukar Tiongkok.

“Manuver Anti-Tingkok yang sedang bergulir di kongres AS, adalah suatu cara untuk mengalihkan persoalan ekonomi yang sedang dihadapi,” katanya kepada Kantor Berita Xinhua.

Ross, yang pernah menjabat sebagai direktur kebijakan ekonomi dan bisnis untuk walikota London Ken Livingstone 2000-2008, mengatakan, “mata uang Tiongkok bukan akar penyebab defisit perdagangan Amerika Serikat dengan China.”

Banyak ekonom yang menyebutkan, bahwa persoalan pengangguran dan defisit anggaran yang terlampau besar, adalah akar dari persoalan struktural yang dihadapi ekonomi AS yang, sayangnya, tidak sanggup diatasi oleh pemimpin negeri itu.

“Permasalahan dalam ekonomi AS bahwa tingkat tabungan sangat rendah sehingga tidak dapat membiayai investasi sendiri,” kata Ross.

Selama dua tahun terakhir, konsumsi modal di Amerika Serikat melebihi tabungan di negara, yang berarti bahwa perekonomian terbesar di dunia itu tidak benar-benar menciptakan modal sama sekali, katanya.

“Ini tidak pernah terlihat  di Amerika sejak 1929-1932 pada awal Depresi Besar,” ungkapnya.

Bahkan dengan mata uang China lebih kuat, “Tidak ada penciptaan lapangan pekerjaan baru di Amerika Serikat, dan konsumen AS hanya akan membayar harga yang lebih tinggi,” katanya.

“AS tidak kompetitif untuk menghasilkan sebagian besar barang yang diekspor Tiongkok, bahkan jika Tiongkok dijauhkan atau dikeluarkan dari AS, itu akan digantikan oleh produsen berbiaya rendah lainnya.

Menurut Ross, salah satu jalan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi ekonomi AS adalah memperbanyak tabungan untuk membiayai investasi itu sendiri, dan tidak bergantung kepada arus modal yang datang dari luar negeri.

Ross juga berpendapat bahwa penguatan nilai tukar matan uang Yuan juga tidak akan mengurangi keuntungan ekspor Tiongkok.

Surplus perdagangan Tiongkok dengan Amerika Serikat terutama disebabkan oleh pembagian kerja internasional dan tahap tertentu pembangunan ekonomi Tiongkok, katanya.

Ross mengatakan bahwa “apa yang menyebabkan surplus perdagangan tingkok jatuh adalah perkembang pesat ekonomi Tiongkok, seperti telah terlihat dalam delapan bulan pertama tahun ini.”

Sebuah data resmi menunjukkan, bahwa surplus perdagangan Tiongkok terus menyusut pada bulan Agustus, yang jumlahnya hanya 20.03 milyar USD pada bulan Agustus dibandingkan dengan 28.73 milyar USD pada bulan Juli, sebagian besar karena meningkatnya permintaan domestik. (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut