Pengunduran Diri Gita Wirjawan Dianggap Ganjil

Jabatan politik harusnya dianggap sebagai “panggilan”untuk mengabdi untuk negeri. Namun, apa jadinya jika seorang pejabat Menteri mundur dari jabatannya karena mengejar jabatan yang lebih tinggi?

Terhitung sejak tanggal 1 Februari lalu, Gita Wirjawan resmi melepas jabatannya sebagai Menteri Perdagangan RI. Kepada sejumlah media, Ia menegaskan bahwa keputusan itu diambil karena dirinya ingin fokus dalam kompetisi Konvensi Calon Presiden (Capres) Partai Demokrat.

Namun, keputusan Gita Wirjawan itu menuai polemik. Banyak pihak yang mempertanyakan keputusannya yang sangat tiba-tiba tersebut. Apalagi, Gita sendiri sedang dirundung banyak persoalan terkait kebijakannya selaku Menteri Perdagangan.

“Seharusnya Presiden SBY mempertanyakan pengunduran diri Gita Wirjawan. Ini kok seolah-olah SBY sudah mafhum dengan pengunduran Gita ini,” kata Deputi Politik Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD), Alif Kamal, di Jakarta, Jumat (7/2/2013).

Menurut Alif, ada dua keganjilan yang patut dicermati dibalik pengunduran diri Gita Wirjawan ini. Pertama, keputusan itu dibuat bersamaan dengan mencuatnya isu pelanggaran terkait kebijakan impor beras medium dari Vietnam.

“Dalam kasus impor beras, Kementerian Perdagangan jelas merupakan institusi yang patut dipersalahkan. Sebab, Kementerian ini yang menerbitkan Surat Perizinan Impor (SPI) bagi importir,” katanya.

Kedua, alasan pengunduran Gita Wirjawan, yakni ingin fokus pada Konvensi Capres sekaligus menghindari konflik kepentingan, hanyalah pencitraan semata guna menarik simpati publik.

“Seolah-olah, dengan melepas jabatan politiknya untuk masuk konvensi Capres, Gita menjauhkan dirinya dari konflik kepentingan. Yang terjadi sebaliknya, orang melihat dia sangat kemaruk kekuasaan,” terangnya.

Lebih lanjut Alif menjelaskan, selama menjadi Menteri Perdagangan RI, banyak kebijakan Gita Wirjawan yang justru merugikan kepentingan nasional, terutama terkait kebijakan liberalisasi impor pangan.

Selama Gita menjadi Menteri Perdagangan, tambah Alif, harga kebutuhan pokok rakyat terus merokek naik. “Jangankan bermimpi mengurus bangsa ini, dengan kompleksitas persoalannya, mengontrol harga bawang dan cabe saja dia (Gita Wirjawan) terbukti gagal,” jelasnya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut